MADANINEWS.ID, JAKARTA – Kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak berdiri sebagai satu peristiwa yang terpisah dari sejarah Makkah. Dalam catatan sirah, sejumlah kejadian penting berlangsung sebelum Rasulullah SAW lahir, mulai dari kisah Abdul Muthalib menemukan kembali sumur Zamzam, nazarnya untuk mengorbankan salah seorang putranya, hingga peristiwa pasukan gajah yang datang untuk menghancurkan Ka’bah.
Rangkaian kisah tersebut menjadi bagian dari sejarah yang mengiringi kelahiran manusia yang kelak membawa risalah Islam kepada seluruh umat manusia.
Salah satu peristiwa paling dikenal adalah kisah Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Nabi Muhammad SAW, yang hampir menjadi persembahan akibat nazar sang ayah. Beberapa waktu setelah itu, Makkah kembali menjadi saksi peristiwa besar ketika pasukan Abrahah datang dengan tujuan menghancurkan Ka’bah.
Berikut rangkaian peristiwa yang dicatat dalam sejarah menjelang kelahiran Rasulullah SAW.
Abdul Muthalib dan Kembalinya Sumur Zamzam
Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah karya Syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, kisah tersebut bermula dari Abdul Muthalib yang saat itu memimpin Baitul-Haram.
Abdul Muthalib mendapatkan petunjuk melalui mimpi untuk menggali kembali sumur Zamzam dan mencari keberadaannya.
Ia kemudian melaksanakan perintah tersebut hingga menemukan kembali sumur Zamzam. Dalam proses penggalian itu, disebutkan pula bahwa Abdul Muthalib menemukan sejumlah benda berharga yang dahulu dipendam oleh kaum Jurhum ketika masih menguasai Makkah.
Benda-benda tersebut berupa beberapa pedang, baju perang, serta dua pangkal pelana yang terbuat dari emas.
Pedang-pedang itu kemudian dijadikan pintu Ka’bah, sedangkan dua pangkal pelana dipasang pada pintunya.
Penemuan kembali Zamzam kemudian memunculkan persoalan baru. Kaum Quraisy ingin ikut mengelola sumur tersebut, tetapi Abdul Muthalib menolaknya.
“Tidak bisa. Ini adalah urusan yang secara khusus ada di tanganku.”
Dalam kisah yang sama, Abdul Muthalib kemudian membuat nazar kepada Allah SWT. Ia bernazar bahwa apabila dikaruniai sepuluh anak laki-laki, salah seorang di antara mereka akan dikorbankan di hadapan Ka’bah.
Abdullah Hampir Menjadi Tebusan Nazar
Waktu yang dinazarkan Abdul Muthalib akhirnya tiba. Ia memberitahukan nazarnya kepada anak-anaknya dan mereka menerima keputusan tersebut.
Nama sepuluh anak laki-lakinya kemudian ditulis pada anak panah untuk dilakukan pengundian. Undian tersebut dilakukan di hadapan patung Hubal.
Nama yang keluar adalah Abdullah.
Abdul Muthalib kemudian membawa Abdullah untuk menjalankan nazarnya di depan Ka’bah. Namun, kaum Quraisy mencegah tindakan tersebut.
Setelah melalui pembicaraan, disepakati mekanisme pengundian antara Abdullah dan sejumlah unta. Jika nama Abdullah kembali keluar, jumlah unta akan ditambah hingga mencapai jumlah yang ditentukan.
Undian dilakukan berulang kali. Nama Abdullah terus keluar sehingga jumlah unta yang menjadi pembanding terus bertambah.
Hingga akhirnya jumlah tersebut mencapai 100 ekor unta. Seratus ekor unta kemudian disembelih sebagai pengganti Abdullah.
Dalam riwayat yang dikutip dari buku Sirah Nabawiyah, peristiwa tersebut kemudian dikaitkan dengan perubahan jumlah tebusan pembunuhan yang berlaku di kalangan Quraisy dan masyarakat Arab. Sebelumnya, jumlahnya disebut 10 ekor unta, kemudian menjadi 100 ekor unta.
Dari rangkaian kisah inilah Abdullah tetap hidup dan kemudian menjadi ayah Nabi Muhammad SAW.
Makkah Menghadapi Ancaman Pasukan Gajah
Peristiwa besar lainnya terjadi ketika Abrahah Ash-Shabbah Al-Habsi menjadi penguasa Yaman di bawah kekuasaan Najasy.
Abrahah membangun sebuah gereja besar di Shan’a. Dalam riwayat yang dikutip, pembangunan tersebut berkaitan dengan keinginannya mengalihkan kegiatan haji bangsa Arab dari Ka’bah ke tempat yang dibangunnya.
Namun, rencana itu tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Seseorang dari Bani Kinanah disebut masuk secara sembunyi-sembunyi ke gereja tersebut dan mengotori bagian yang menjadi pusat kiblatnya. Peristiwa itu membuat Abrahah murka.
Ia kemudian mengirim pasukan dalam jumlah besar untuk menyerang Makkah dan menghancurkan Ka’bah. Pasukan tersebut menggunakan gajah dalam perjalanannya.
Gajah Berhenti di Depan Ka’bah
Pasukan Abrahah akhirnya tiba di Wadi Muhassir, kawasan yang berada di antara Muzdalifah dan Mina.
Di tempat itu, terjadi peristiwa yang kemudian menjadi bagian penting dalam kisah Ashabul Fil atau pasukan gajah.
Gajah yang digunakan dalam pasukan tersebut tiba-tiba menderum dan tidak mau bergerak menuju Ka’bah.
Ketika diarahkan ke selatan, utara, timur, atau barat, gajah itu dapat bangkit dan bergerak. Namun, ketika kembali diarahkan menuju Ka’bah, gajah tersebut kembali menderum.
Dalam kondisi tersebut, Allah SWT mengirimkan burung-burung Ababil yang menjatuhkan batu-batu dari tanah yang terbakar kepada pasukan tersebut.
Peristiwa tersebut digambarkan dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Fil, yang mengabadikan bagaimana Allah SWT menggagalkan pasukan yang hendak menghancurkan Ka’bah.
Peristiwa yang Terjadi Tak Jauh dari Kelahiran Nabi
Peristiwa pasukan gajah kemudian dikenal sebagai salah satu penanda penting dalam sejarah Makkah menjelang kelahiran Rasulullah SAW.
Dalam riwayat yang dikutip dari Sirah Nabawiyah karya Syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, peristiwa tersebut terjadi pada bulan Muharram, sekitar 50 atau 55 hari sebelum kelahiran Rasulullah SAW.
Dengan demikian, kisah menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW mencakup sejumlah peristiwa penting yang terjadi di Makkah dan sekitarnya.
Ada kisah Abdul Muthalib dan ditemukannya kembali Zamzam, nazar yang hampir membuat Abdullah dikorbankan, hingga peristiwa pasukan gajah yang berusaha menghancurkan Ka’bah.
Rangkaian tersebut menjadi bagian dari catatan sirah yang mengiringi kelahiran Nabi Muhammad SAW di Makkah. Kelak, dari kota yang sama, Rasulullah SAW membawa risalah Islam dan menghadapi perjalanan dakwah yang mengubah sejarah umat manusia.
