Mahar Nikah, Seberapa Banyak Sebaiknya?

Penulis Abi Abdul Jabbar

MADANINEWS.ID, JAKARTA — Dalam AL-Quran istilah maskawin tidak dengan kata Mahar, tetapi kata shaduqoh, sebagaimana termaktub dalam surah An-Nisa ayat 4:

وآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

“Berikanlah maskawin pada wanita yg kamu nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan pada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah pemberian itu sebagai makanan yg sedap lagi baik akibatnya”.

Dipakainya lafal shaduqoh oleh Alquran sebagai arti maskawin karena ia serumpun dengan kata-kata shiddiq yang mempunyai arti jujur, tulus, dan benar. Hal ini mengandung maksud bahwa mahar merupakan simbol ikatan yang jujur dan tulus dari seorang pria kepada calon pendamping hidupnya.

Pun demikian, ayat tersebut menunjukkan bahwa perintah memberi mahar diarahkan kepada suami kepada wanita/istrinya, bukan kepada walinya. Sebagaimama kita ketahui di beberapa negara Islam/Arab, pihak wali perempuanlah yang paling menentukan dalam jumlah maupun penerimaan maskawin sehingga terkesan seperti harga sebuah transaksi/akad.

Lalu, berapakah mahar itu harus diberikan?

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Rasulullah menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor onta dan sejumlah emas. Sementara sahabat perempuan Hindun meminta mahar dari Abu Sufyan berupa kesediaan calon suaminya tsb. untuk masuk islam. Bahkan ada seorang sahabat memberikan mahar kepada calon istrinya dengan bacaan Alquran.

Tidak ada batasan tertentu tentang berapa maskawin itu diberikan. Hal ini mengacu pada Alqur’an surat An-Nisa ayat 20:

وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآَتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan kalau kalian ingin mengganti istri dengan istri yang lain sedangkan kalian telah memberikan harta (mahar) yang banyak kepada mereka (istri yang kalian tinggalkan), maka janganlah kalian mengambil kembali sedikit pun darinya. Apakah kalian akan mengambilnya dengan kebohongan (yang kalian buat) dan dosa yang nyata?”

Konteks ayat di atas adalah bila seorang pria yang ingin bercerai maka tidak diperbolehkan mengambil kembali mahar yang telah ia berikan kepada mantan istrinya, meski mahar tersebut jumlahnya banyak ( قنطار ). Istilah banyak di sini merupakan bentuk mubalaghoh atau hiperbolis saja, sebab pria yang menceraikan istrinya dikecam Alquan jika ia meminta kembali sebagian maharnya, walaupun ia disindir Alquran telah memberikan mahar berlipat-lipat andaikata. Jadi, karena Alquran tidak membatasi, maka para ulama berijtihad tentang besaran mahar.

Imam Hanafi dan Imam Malik memberi batasan tertentu sekiranya mempunyai nilai ekonomis atau sesuatu yang bernilai. Imam Hanafi memberi besaran minimal 1 Dinar, sedangkan Imam Malik ¼ Dinar. Nilai tersebut dambir dari sebuah qiyas bahwa seorang pencuri bisa dikenai hukum potong tangan jika harta curian bernilai 1 dinar menurut Hanafi dan ¼ dinar menurut Maliki.

Imam Syafi’i dan Imam Hanbali juga menilai bahwa maskawin harus sesuatu yang berharga meski keduanya tidak membatasi besarannya berapa. Hal tersebut didasarkan pada sebuah hadist Nabi SAW yang driwayatkan oleh sahabat Jabir RA :

لو أن رجلا أعطى امرأة صداقا ملء يده طعاما ، كانت له حلالا

“Andaikata seorang laki-laki memberikan mahar kepada wanita segenggam makanan, maka wanita tersebut halal/sah sebagai istrinya.”

Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad saw berkata kepada sahabatnya yang hendak menikah: “Carilah maskawin walau itu sebuah cincin besi” (HR. Imam Bukhary)

Maskawin atau mahar memang bukan rukun nikah, artiya nikah tetap sah walau saat itu tidak ada maskawin karena itu merupakan kewajiban bagi seorang pria untuk diberikan kepada istrinya. Bahkan seandainya maskawin itu diutang, maka suami harus melunasinya jika ditagih oleh sang istri.

Maskawin adaah hak istri yang harus diberikan, kalaupun suami ingin bersama menikmati atau meminjamnya, harus dengan izin istri. Pun demikian, bagi sang istri atau calon istri, sangat diimbau agar tidak menyulitkan calon suami dalam menentukan mahar sehingga di beberapa daerah akad nikah menjadi sesuatu yang mahal dan menutup syiar sunnah Nabi tersebut. Padahal kata Nabi:   أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَئُونَةً seagung-agungnya wanita yang penuh berkah, adalah wanita yang mudah maharnya.

BACA JUGA

Tinggalkan komentar