MADANINEWS.ID, JAKARTA – Jabal Uhud menjadi salah satu destinasi ziarah yang hampir selalu masuk dalam rangkaian perjalanan jemaah haji dan umrah saat berada di Madinah, Arab Saudi. Gunung yang berjarak sekitar lima kilometer di utara Masjid Nabawi itu tidak hanya dikenal sebagai lokasi Perang Uhud, tetapi juga memiliki keutamaan tersendiri dalam Islam karena disebut langsung oleh Rasulullah SAW dalam sejumlah hadis.
Di kalangan umat Islam, Jabal Uhud bahkan dikenal sebagai “Gunung Surga”. Julukan tersebut merujuk pada sabda Rasulullah SAW yang menyebut Uhud sebagai salah satu gunung yang ada di surga.
Dalam buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW: Dari Sebelum Masa Kenabian hingga Sesudahnya karya Abdurrahman bin Abdul Karim disebutkan Rasulullah SAW bersabda:
“Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di surga.” (HR Bukhari)
Keutamaan Jabal Uhud juga tergambar dalam hadis lain yang diriwayatkan Anas bin Malik RA.
“Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Riwayat lain menceritakan ketika Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan menaiki Jabal Uhud. Saat gunung tersebut bergetar, Rasulullah SAW bersabda:
“Tenanglah, wahai Uhud. Di atasmu sekarang ada seorang nabi, seorang yang sangat membenarkannya, dan dua orang yang kelak mati syahid.”
Setelah sabda tersebut diucapkan, Gunung Uhud disebut berhenti bergetar.
Lokasi Bersejarah Perang Uhud
Selain memiliki keutamaan, Jabal Uhud merupakan lokasi berlangsungnya Perang Uhud pada 15 Syawal tahun ke-3 Hijriah atau sekitar Maret 625 M.
Mengutip buku 8 Pintu Surga karya Mohammad Monib, peperangan tersebut mempertemukan pasukan Muslim yang dipimpin Rasulullah SAW dengan kaum Quraisy Makkah.
Pada awal pertempuran, kaum Muslim berhasil menguasai keadaan. Namun situasi berubah ketika sebagian pasukan pemanah yang ditempatkan di Bukit Rumat meninggalkan posisi mereka karena mengira peperangan telah berakhir dan turun untuk mengambil harta rampasan perang. Padahal sebelumnya Rasulullah SAW telah memerintahkan agar mereka tetap bertahan di tempat masing-masing.
Kondisi itu dimanfaatkan pasukan berkuda Quraisy yang dipimpin Khalid bin Walid untuk menyerang dari arah belakang. Serangan tersebut membuat barisan kaum Muslim tercerai-berai dan menyebabkan banyak sahabat gugur.
Di antara para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW yang dikenal dengan julukan Asadullah atau Singa Allah. Ia gugur setelah ditombak oleh Wahsyi al-Habasyi yang dijanjikan kebebasan apabila berhasil membunuhnya.
Dalam peperangan itu, Rasulullah SAW juga mengalami luka-luka. Setelah perang usai, beliau memerintahkan agar para sahabat yang gugur dimakamkan di lokasi mereka syahid. Hingga kini, kompleks makam para syuhada masih berada di kawasan Jabal Uhud dan menjadi salah satu tujuan utama ziarah di Madinah.
Pelajaran tentang Ketaatan dan Amanah
Perang Uhud menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang mengandung pelajaran tentang pentingnya ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Kekalahan yang dialami kaum Muslim saat itu bukan disebabkan oleh lemahnya kekuatan, melainkan karena sebagian pasukan tidak mematuhi perintah Rasulullah SAW untuk tetap menjaga pos mereka.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa mengabaikan amanah dapat membawa konsekuensi besar, sedangkan ketaatan merupakan bagian penting dalam meraih keberhasilan.
Kompleks pemakaman di kawasan Jabal Uhud menjadi tempat dimakamkannya sekitar 70 sahabat yang gugur dalam Perang Uhud.
Dalam buku Mengais Berkah di Bumi Sang Rasul, Ahmad Hawassy mengisahkan bahwa ketika banjir pernah melanda Madinah, sebagian jasad para syuhada disebut masih utuh dan mengeluarkan aroma harum setelah makam terdampak banjir.
Jenazah kemudian dimakamkan kembali seperti semula. Makam yang hingga kini dikenal antara lain makam Hamzah bin Abdul Muthalib RA dan Abdullah bin Jahsy RA karena keduanya dapat dikenali dari ciri-ciri fisik yang masih tampak.
Hingga kini, Jabal Uhud tetap menjadi salah satu lokasi ziarah yang ramai dikunjungi jemaah haji dan umrah sebagai pengingat atas perjuangan Rasulullah SAW, pengorbanan para sahabat, serta pentingnya nilai ketaatan dalam menjalankan perintah Allah SWT.
