MADANINEWS.ID, MAKKAH – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mulai mengintensifkan edukasi manasik bagi jemaah Indonesia di Makkah menjelang puncak ibadah haji 1447 H/2026 M. Tidak hanya membahas tata cara ibadah, edukasi juga menyasar persoalan teknis yang paling sering ditanyakan jemaah, salah satunya terkait pembayaran dam.
Pelaksana Bimbingan dan Ibadah (Bimbad) Daker Makkah, Abdul Aziz Siswanto mengatakan pihaknya telah melakukan visitasi ke sejumlah sektor tempat tinggal jemaah Indonesia, termasuk di Hotel Lulua Al Mashaer, Sektor 4.
“Alhamdulillah sudah melaksanakan visitasi ke Sektor 4. Kemudian, Alhamdulillah jemaah juga antusias untuk mengikuti kegiatan visitasi ini,” ujarnya usai kegiatan edukasi kepada jemaah di Hotel Lulua Al Mashaer, Selasa (5/5/2026).
Fokus Edukasi dari Fikih hingga Kesehatan
Dalam kegiatan tersebut, jemaah mendapatkan pembekalan mulai dari fikih haji hingga aspek kesehatan sebagai penunjang ibadah di Tanah Suci.
Aziz menegaskan Makkah menjadi pusat utama seluruh rangkaian ibadah haji sehingga pemahaman manasik menjadi hal yang sangat penting bagi jemaah.
“Seluruhnya rangkaian haji nanti ada di Makkah, baik itu dari mulai wukufnya, kemudian sai-nya, kemudian tawaf-nya, semuanya ada di sini. Sehingga penting kita mengedukasi seluruh jemaah agar mereka menguasai bimbingan manasik haji. Dari mana mereka memulai, ke mana mereka akan berakhir, dan di mana mereka akan selesai,” urainya.
Dam Jadi Pertanyaan yang Paling Sering Muncul
Menurut Aziz, dalam sesi konsultasi bersama jemaah, topik mengenai dam menjadi pertanyaan yang paling sering muncul.
Persoalan biaya disebut menjadi salah satu alasan utama banyaknya jemaah mempertanyakan mekanisme pembayaran dam di Arab Saudi.
“Kalau kami di Jawa, di Bogor, ah itu mah murah cuma 3 juta, di Arab jadi 5 juta,” kata Aziz mencontohkan pertanyaan jemaah.
Untuk mempermudah proses pembayaran, PPIH menyiapkan sistem pembayaran dam tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah besar.
Pembayaran nantinya dilakukan dengan sistem jemput bola bekerja sama dengan pihak perbankan dan penyedia layanan resmi.
“Maka nanti dengan sistem jemput bola, Alhamdulillah mudah-mudahan ter-cover semuanya,” jelasnya.
Data Jemaah Harus Valid
Dalam pelaksanaannya, pembayaran dam tidak dilakukan secara individu, melainkan melalui pendataan berjenjang mulai dari ketua regu hingga ketua rombongan.
Aziz menekankan validasi data menjadi hal penting agar proses pembayaran berjalan lancar dan sesuai identitas jemaah.
“Input datanya ini harus benar-benar valid. Mudah-mudahan dengan data nusuknya ini, dengan barcode-nya akan semuanya sudah sinkron,” ujarnya.
Terkait batas waktu pembayaran, Aziz menjelaskan secara fikih dam dapat dibayarkan selama jemaah masih berada di Tanah Suci.
Namun secara teknis, pelaksanaannya tetap menyesuaikan kemampuan lembaga penyaluran dam yang ditunjuk pemerintah Arab Saudi.
“Kalau secara fikih sih, yang penting mereka belum pulang ke Indonesia. Cuma kan ini nanti akan terbatasi kemampuan Adahi (lembaga penyaluran dam yang ditunjuk), daya serapnya sampai kapan,” pungkasnya.
