Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Psikolog Ungkap Hal Sepele Yang Bisa Picu Stres Jemaah Haji, Petugas Diminta Waspada

Abi Abdul Jabbar Sidik
21 January 2026 | 06:00
rubrik: Haji & Umrah
Psikolog Ungkap Hal Sepele Yang Bisa Picu Stres Jemaah Haji, Petugas Diminta Waspada

Jemaah haji Indonesia saat tiba di tanah suci. (foto:ist/dok)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, JAKARTA – Perubahan drastis pola hidup selama menjalankan ibadah haji menjadi salah satu faktor yang berpotensi memicu gangguan psikologis pada jemaah Indonesia di Tanah Suci. Peralihan dari kehidupan pribadi di rumah ke sistem akomodasi komunal dinilai menuntut kesiapan mental yang tidak ringan.

Guru Besar Psikologi Abdul Mujib menilai tekanan mental kerap muncul ketika jemaah harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang berbeda jauh dari keseharian mereka di tanah air. Adaptasi ini, menurutnya, menjadi tantangan utama selama pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi.

“Karena dengan perubahan waktu, perubahan sosial, perubahan segalanya itu, dengan kondisi yang awalnya serba mandiri di rumah, kemudian harus dengan akomodasi bersama, itu akan menjadi masalah,” ujar Mujib.

Pernyataan tersebut disampaikan saat ia menjadi pemateri dalam diklat calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Senin (19/01).

Petugas Diminta Antisipatif Sejak Awal

Mujib menekankan pentingnya kesiapan petugas haji dalam membaca kondisi psikologis jemaah sejak awal keberangkatan. Ia menyarankan petugas memiliki asumsi dasar bahwa setiap jemaah berpotensi mengalami tekanan mental selama berada di Tanah Suci.

Menurutnya, asumsi tersebut bukan untuk menimbulkan kekhawatiran berlebihan, melainkan sebagai langkah antisipatif agar penanganan bisa dilakukan lebih dini.

Perbedaan iklim, budaya, serta perubahan kebiasaan hidup sehari-hari disebut menjadi faktor yang dapat memperberat kondisi psikologis jemaah.

Persoalan Sepele Bisa Menumpuk

Ia mencontohkan situasi sederhana yang kerap menjadi pemicu stres, seperti kebiasaan berbagi kamar tidur, menggunakan kamar mandi bersama, hingga pola makan yang berbeda dengan selera di rumah.

Jika dibiarkan, akumulasi dari persoalan-persoalan tersebut berpotensi memicu ledakan emosi bahkan depresi pada jemaah.

See also  Wamenhaj Tegaskan War Tiket Haji Prioritaskan Jemaah yang Sudah Antre

Karena itu, Mujib mendorong setiap petugas haji memiliki kemampuan dasar pertolongan pertama psikologis, meskipun tidak berasal dari latar belakang keilmuan psikologi.

“Setidak-tidaknya ada sesuatu yang umum bisa dikuasai. Misalnya, bagaimana bisa menenangkan orang yang lagi stres atau depresi,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa respons psikologis jemaah tidak bisa disamaratakan. Latar belakang sosial, baik dari wilayah perkotaan maupun pedesaan, memengaruhi cara jemaah menghadapi tekanan selama ibadah.

Apabila kondisi psikologis jemaah dinilai berat, petugas diminta segera merujuk yang bersangkutan ke tenaga profesional atau tim kesehatan yang tersedia.

Tags: haji 2026jemaah hajikesehatan mentalPetugas Hajipsikolog haji
Previous Post

Kemenhaj Gunakan Riwayat BPJS untuk Pantau Kesehatan Jemaah

Next Post

Kenapa Jemaah Haji Wajib Punya BPJS Kesehatan Padahal Tak Berlaku di Saudi?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks