MADANINEWS.ID, JAKARTA – Tradisi mengantar jemaah haji bukan sekadar seremoni pelepasan, melainkan bagian dari warisan budaya religius masyarakat Indonesia yang sarat makna. Di tengah kemudahan transportasi modern, kebiasaan ini tetap lestari sebagai bentuk doa, dukungan, sekaligus simbol kebersamaan dalam menyambut perjalanan suci ke Tanah Suci.
Jejak Sejarah: Dari Perjalanan Berbulan-bulan hingga Perpisahan Panjang
Dalam buku Berhaji di Masa Kolonial, M. Dien Madjid menjelaskan bahwa calon jemaah biasanya menggelar walimatus safar atau selamatan sebelum berangkat. Tradisi ini menjadi bagian penting dari proses perpisahan.
Perjalanan yang penuh risiko—mulai dari cuaca buruk, penyakit, hingga kemungkinan tidak kembali—membuat momen pelepasan terasa sangat emosional. Tak sedikit jemaah yang berangkat tanpa kepastian akan kembali ke kampung halaman.
Makna: Doa, Restu, dan Perpisahan
Tradisi mengantar jemaah haji pada dasarnya dimaknai sebagai bentuk doa dan restu dari keluarga serta masyarakat.
Dalam momen ini, calon jemaah biasanya:
- Meminta maaf kepada keluarga dan tetangga
- Menggelar doa bersama
- Diantar hingga titik keberangkatan
Perpisahan ini bukan sekadar formalitas, melainkan refleksi dari kesadaran bahwa perjalanan haji adalah ibadah besar dengan tantangan yang tidak ringan, terutama pada masa lalu.
Suasana Haru dari Masa ke Masa
Pada 1920, Ismail bin Hadji Abdoellah Oemar Effendi menggambarkan suasana di Pelabuhan Belawan yang dipenuhi ratusan pengantar. Tangis pecah saat kapal hendak berangkat.
Catatan lain dari Wiranatakoesoema pada 1925 menyebutkan jumlah pengantar bahkan lebih banyak daripada jemaah. Stasiun penuh sesak, hingga sebagian ikut naik ke gerbong tambahan.
Di Surabaya, Pelabuhan Tanjung Perak bahkan sempat dijuluki “Tanjung Tangis” karena menjadi saksi perpisahan penuh haru.
Ragam Tradisi di Berbagai Daerah
Tradisi mengantar jemaah haji juga berkembang dengan kekhasan di berbagai daerah:
- Di Bali, terdapat tradisi Ninjo Haji, di mana jemaah diantar hingga ke Pelabuhan Gilimanuk
- Masyarakat Bugis-Makassar memiliki tradisi turun-temurun dalam mengantar jemaah
- Di berbagai desa di Jawa, pelepasan sering dilakukan dengan doa bersama dan arak-arakan sederhana
Semua bentuk ini menunjukkan kuatnya nilai sosial dan spiritual dalam tradisi tersebut.
Kini, perjalanan haji jauh lebih cepat dan aman dibandingkan masa lalu. Jemaah tidak lagi menempuh perjalanan berbulan-bulan dengan kapal laut, melainkan hanya beberapa jam dengan pesawat.
Meski demikian, tradisi mengantar tetap dipertahankan. Tangis perpisahan mungkin tak lagi sekuat dahulu, tetapi doa dan harapan tetap mengalir.
Mengantar jemaah haji hari ini menjadi simbol kebersamaan, penghormatan, dan keyakinan bahwa mereka yang berangkat adalah tamu Allah SWT.
Tradisi ini bukan hanya tentang melepas keberangkatan, tetapi juga tentang merawat nilai-nilai kebersamaan, keikhlasan, dan doa—yang terus hidup dari generasi ke generasi.
