Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Tradisi Mengantar Jemaah Haji di Indonesia, Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial

Abi Abdul Jabbar Sidik
20 April 2026 | 10:30
rubrik: Haji & Umrah
Tradisi Mengantar Jemaah Haji di Indonesia, Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial

Seorang anak mengantar kepergian orang tuanya sebelum berangkat haji. (foto:ist/dok)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, JAKARTA – Tradisi mengantar jemaah haji bukan sekadar seremoni pelepasan, melainkan bagian dari warisan budaya religius masyarakat Indonesia yang sarat makna. Di tengah kemudahan transportasi modern, kebiasaan ini tetap lestari sebagai bentuk doa, dukungan, sekaligus simbol kebersamaan dalam menyambut perjalanan suci ke Tanah Suci.

Jejak Sejarah: Dari Perjalanan Berbulan-bulan hingga Perpisahan Panjang

Mengutip buku Perjalanan Religi Haji dan Umroh Pasca Pandemi Covid-19 karya Fuad Thohari, perjalanan haji masyarakat Nusantara telah berlangsung sejak masa kolonial. Kala itu, jemaah harus menempuh perjalanan panjang melalui jalur darat dan laut yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Dalam buku Berhaji di Masa Kolonial, M. Dien Madjid menjelaskan bahwa calon jemaah biasanya menggelar walimatus safar atau selamatan sebelum berangkat. Tradisi ini menjadi bagian penting dari proses perpisahan.

Perjalanan yang penuh risiko—mulai dari cuaca buruk, penyakit, hingga kemungkinan tidak kembali—membuat momen pelepasan terasa sangat emosional. Tak sedikit jemaah yang berangkat tanpa kepastian akan kembali ke kampung halaman.

Makna: Doa, Restu, dan Perpisahan

Tradisi mengantar jemaah haji pada dasarnya dimaknai sebagai bentuk doa dan restu dari keluarga serta masyarakat.

Dalam momen ini, calon jemaah biasanya:

  • Meminta maaf kepada keluarga dan tetangga
  • Menggelar doa bersama
  • Diantar hingga titik keberangkatan

Perpisahan ini bukan sekadar formalitas, melainkan refleksi dari kesadaran bahwa perjalanan haji adalah ibadah besar dengan tantangan yang tidak ringan, terutama pada masa lalu.

Suasana Haru dari Masa ke Masa

Tradisi ini telah tercatat sejak lama. Mengutip catatan Kementerian Agama Republik Indonesia, pada 1897 calon jemaah haji diantar oleh seluruh warga desa—tua dan muda—hingga ke stasiun.

Pada 1920, Ismail bin Hadji Abdoellah Oemar Effendi menggambarkan suasana di Pelabuhan Belawan yang dipenuhi ratusan pengantar. Tangis pecah saat kapal hendak berangkat.

See also  Tindak Tegas Pelaku Haji Ilegal, Saudi Beri Sanksi Deportasi hingga Denda Rp456 Juta

Catatan lain dari Wiranatakoesoema pada 1925 menyebutkan jumlah pengantar bahkan lebih banyak daripada jemaah. Stasiun penuh sesak, hingga sebagian ikut naik ke gerbong tambahan.

Di Surabaya, Pelabuhan Tanjung Perak bahkan sempat dijuluki “Tanjung Tangis” karena menjadi saksi perpisahan penuh haru.

Ragam Tradisi di Berbagai Daerah

Tradisi mengantar jemaah haji juga berkembang dengan kekhasan di berbagai daerah:

  • Di Bali, terdapat tradisi Ninjo Haji, di mana jemaah diantar hingga ke Pelabuhan Gilimanuk
  • Masyarakat Bugis-Makassar memiliki tradisi turun-temurun dalam mengantar jemaah
  • Di berbagai desa di Jawa, pelepasan sering dilakukan dengan doa bersama dan arak-arakan sederhana

Semua bentuk ini menunjukkan kuatnya nilai sosial dan spiritual dalam tradisi tersebut.

Kini, perjalanan haji jauh lebih cepat dan aman dibandingkan masa lalu. Jemaah tidak lagi menempuh perjalanan berbulan-bulan dengan kapal laut, melainkan hanya beberapa jam dengan pesawat.

Meski demikian, tradisi mengantar tetap dipertahankan. Tangis perpisahan mungkin tak lagi sekuat dahulu, tetapi doa dan harapan tetap mengalir.

Mengantar jemaah haji hari ini menjadi simbol kebersamaan, penghormatan, dan keyakinan bahwa mereka yang berangkat adalah tamu Allah SWT.

Tradisi ini bukan hanya tentang melepas keberangkatan, tetapi juga tentang merawat nilai-nilai kebersamaan, keikhlasan, dan doa—yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Tags: budaya indonesiahaji 2026mengantar jemaah hajitradisi hajitradisi indonesia
Previous Post

Perjuangan Menabung Selama 21 Tahun, Pedagang Es Keliling Ini Akhirnya Berangkat Haji

Next Post

Saudi Siapkan 10 Jalur Darat untuk Haji 2026, Hubungkan Negara Teluk hingga Timur Tengah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks