MADANINEWS.ID, JAKARTA – Calon jemaah haji 2026 diperkirakan akan menghadapi suhu ekstrem di Tanah Suci. Musim haji yang berlangsung pada Mei hingga Juni disebut sebagai periode terpanas di Makkah dan Madinah, dengan suhu siang hari berpotensi mencapai 42 derajat Celsius.
Data iklim historis dari berbagai sumber internasional serta otoritas meteorologi Arab Saudi menunjukkan suhu bahkan bisa lebih tinggi di sejumlah titik.
Data Historis: Suhu Bisa Tembus di Atas 40°C
Berdasarkan catatan historis, suhu rata-rata di Makkah pada Mei berada di kisaran 38–39 derajat Celsius dan meningkat pada Juni hingga sekitar 43,8 derajat Celsius dengan curah hujan hampir nol.
Informasi ini juga diperkuat oleh pernyataan dari akun @konsultanhaji.
“Haji 2026 diperkirakan suhunya mencapai 42 derajat Celcius. Ini bukan asumsi, namun data iklim historis,” ujar akun tersebut.
“Berdasarkan data cuaca dari sumber internasional dan otoritas Arab Saudi, periode Mei-Juni ini di Mekah Medina memang merupakan fase yang panas,” ujarnya.
Prediksi ini sejalan dengan keterangan dari Saudi National Center for Meteorology yang menyebut suhu musim haji dapat berada pada rentang 40 hingga 47 derajat Celsius.
Paparan suhu tinggi menjadi ancaman serius, terutama bagi jemaah lansia dan mereka dengan riwayat penyakit tertentu.
Kondisi panas ekstrem berisiko memicu dehidrasi, heat exhaustion, hingga heat stroke. Bahkan pada musim haji sebelumnya, suhu di Makkah dilaporkan sempat melampaui 50 derajat Celsius di beberapa area terbuka.
Meski demikian, kondisi ini disebut bukan untuk ditakuti, melainkan diantisipasi dengan persiapan yang matang.
Tips Hadapi Panas: Jangan Tunggu Haus
Pendamping ibadah mengingatkan pentingnya menjaga pola minum selama beraktivitas.
“Pertama, jangan menunggu haus untuk minum. Biasakan minum setiap 15 atau 20 menit sekali,” ujarnya.
“Cukup satu teguk setiap 15 menit seperti ini. Ingat, satu teguk atau maksimal dua teguk saja tiap 15 menit,” ujarnya.
Selain itu, jemaah disarankan menggunakan pakaian yang nyaman.
“Kemudian kedua, gunakan pakaian yang ringan, longgar, dan menyerap keringat,” ujarnya.
Pengaturan aktivitas juga menjadi kunci penting untuk menghindari paparan panas berlebih.
“Ketiga, atur energi ibadah. Hindari aktivitas luar ruangan di siang hari. Dan jangan memaksakan diri,” ujarnya.
Sebagian jemaah bahkan memilih beribadah pada malam hingga dini hari untuk mengurangi risiko kelelahan akibat suhu tinggi.
Kenali Gejala Bahaya Sejak Dini
Jemaah juga diminta lebih peka terhadap kondisi tubuh.
“Keempat, kenali tanda bahaya seperti pusing, mual, lemas. Segera istirahat dan lapor pada petugas,” ujarnya.
Gejala seperti sakit kepala, tubuh lemas, mual, kulit memerah, hingga jantung berdebar bisa menjadi tanda awal stres panas.
Persiapan sebelum keberangkatan menjadi faktor penentu keselamatan dan kenyamanan ibadah.
“Haji bukan soal siapa yang paling kuat, namun siapa yang paling siap,” ujarnya.
“Dengan ilmu dan persiapan yang benar, insyaallah haji 2026 tetap aman, nyaman, dan penuh makna. Semangat haji!” tutup Konsultan Haji.
Dengan prediksi suhu tinggi ini, jemaah diimbau mulai mempersiapkan diri sejak dini, termasuk menjaga kebugaran, membawa perlengkapan seperti payung dan botol minum, serta mengatur pola aktivitas selama di Tanah Suci.
