MADANINEWS.ID, Jeddah – Pemeriksaan bagasi jemaah haji Indonesia di Bandara Internasional King Abdulaziz (KAIA), Jeddah, diwarnai temuan tak biasa. Sebuah koper milik jemaah asal embarkasi Palembang sempat dibongkar petugas keamanan bandara setelah hasil pemeriksaan X-Ray menunjukkan tumpukan benda mencurigakan dalam jumlah besar.
Setelah dilakukan pemeriksaan manual, isi koper yang sempat memicu kecurigaan itu ternyata bukan barang berbahaya, melainkan tempe orek seberat lima kilogram.
Temuan tersebut diungkap Tim Bagasi Bandara Jeddah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Muhammad Riza Fahlevi.
“Ternyata ada tempe orek berkilo-kilogram, kami lalu menjelaskan pada petugasnya bahwa itu makanan,” ujar Riza saat ditemui di Bandara KAIA Jeddah, Senin (11/5/2026).
Menurut Riza, petugas bandara Arab Saudi awalnya tidak mengenali makanan khas Indonesia berbahan dasar kedelai tersebut. Setelah mendapat penjelasan dari tim pendamping haji Indonesia, koper akhirnya diizinkan melanjutkan perjalanan bersama pemiliknya.
Minyak Zaitun Juga Sempat Picu Pemeriksaan
Tak hanya tempe orek, petugas keamanan bandara juga sempat mencurigai bagasi lain yang berisi minyak zaitun.
Riza mengatakan, kecurigaan muncul bukan karena isi barangnya, melainkan cara pengemasan yang dianggap tidak biasa.
Botol minyak zaitun yang dibungkus rapat dengan lapisan pelindung dan lilitan lakban tebal memicu alarm pemeriksaan X-Ray.
“Kemasan itu yang membuat petugas X-Ray curiga dan meminta pembongkaran,” ucap Riza.
Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi pun mengingatkan jemaah untuk tidak membawa barang dalam jumlah berlebihan atau mengemas barang dengan cara yang justru memancing pemeriksaan tambahan.
Sebab, pembongkaran satu koper saja dapat memperlambat penanganan bagasi jemaah lainnya.
“Karena proses pembongkaran ini bisa menghambat distribusi koper jemaah lainnya dari bandara ke hotel,” tuturnya.
Distribusi Bagasi di Jeddah Lebih Menantang
Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, mengatakan penanganan bagasi di Bandara Jeddah memiliki tantangan tersendiri dibandingkan Bandara Madinah.
Menurut dia, Bandara Internasional King Abdulaziz tidak memiliki fasilitas gedung kargo terintegrasi seperti yang tersedia di Madinah.
Kondisi tersebut membuat pengawasan distribusi koper jemaah harus dilakukan lebih intensif agar barang bawaan tidak salah penempatan.
“Sedangkan di Jeddah tidak ada sehingga perlu ditempatkan satu petugas sebagai penghubung untuk mengetahui area mana bagasi jemaah akan didrop,” kata Basir.
Saat ini, petugas haji Indonesia di sektor bandara terus bersiaga memastikan seluruh bagasi jemaah aman sebelum diberangkatkan menggunakan truk kontainer menuju Makkah.
