MADANINEWS.ID, TEPI BARAT – Akses warga Palestina untuk menunaikan ibadah Umrah kembali terganggu. Dalam beberapa hari terakhir, ratusan calon jamaah dilaporkan gagal berangkat setelah ditahan dan dipulangkan oleh otoritas perbatasan Israel saat hendak melintas menuju Yordania.
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina menyebut para jamaah telah mengantongi izin resmi dan mengikuti jadwal keberangkatan yang ditetapkan. Namun, otoritas Israel tetap memulangkan mereka secara bertahap, sehingga memicu kekacauan perjalanan.
Dalam keterangan resminya pada Selasa (13/01), Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mengungkapkan, sebanyak 450 jamaah dipulangkan pada hari keempat pelaksanaan, disusul 900 orang pada hari kelima dan 800 orang pada hari keenam.
Penumpukan Jamaah di Titik Keberangkatan
Pemulangan tersebut berdampak langsung pada operasional keberangkatan Umrah. Ratusan jamaah dilaporkan menumpuk di Mahmoud Abbas City for Hajj and Umrah Pilgrims, fasilitas layanan jamaah yang berada di Jericho, Tepi Barat yang diduduki.
Kementerian menilai langkah Israel sebagai pembatasan sepihak yang menghambat pelaksanaan ibadah. Tindakan tersebut disebut dilakukan tanpa alasan yang jelas dan mengganggu kelancaran perjalanan jamaah.
Israel juga dituding menerapkan “arbitrary and unjustified measures” atau “tindakan sewenang-wenang dan tidak dapat dibenarkan” terhadap jamaah Umrah Palestina, meskipun seluruh persyaratan perjalanan telah dipenuhi.
Tanggung Jawab Israel Dipersoalkan
Pihak kementerian menegaskan bahwa agen perjalanan telah menjalankan prosedur sesuai ketentuan, termasuk mematuhi jadwal keberangkatan yang telah disetujui. Karena itu, tanggung jawab atas krisis perjalanan ini dinilai sepenuhnya berada pada otoritas Israel.
“Kementerian menyatakan bahwa otoritas pendudukan Israel sepenuhnya dan secara langsung bertanggung jawab atas krisis ini dan penderitaan yang dialami oleh jamaah Umrah serta kebingungan bagi program perjalanan.”sebagaimana dikutip dari Wafa News Agency.
