MADANINEWS.ID, JAKARTA — Implementasi Visi 2030 Arab Saudi membuka peluang baru bagi Indonesia di sejumlah sektor, mulai dari perdagangan dan investasi hingga energi, pariwisata, pendidikan, serta budaya. Transformasi ekonomi yang tengah dijalankan Riyadh dinilai memberi ruang lebih luas bagi kedua negara untuk memperdalam kemitraan.
Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Faisal Abdullah Al-Amoudi menilai Indonesia memiliki posisi penting dalam agenda tersebut. Kemitraan kedua negara, menurut dia, berpeluang berkembang seiring semakin luasnya ruang kerja sama yang ditawarkan dalam Visi 2030.
“Kemitraan (dua negara) itu memiliki arti penting dan khusus, mengingat Visi 2030 Kerajaan Arab Saudi, serta peluang luas yang ditawarkan (di dalamnya) untuk kerja sama dengan Indonesia,” kata Faisal dalam sambutannya pada perayaan Hari Nasional ke-96 Arab Saudi di Jakarta, Rabu (23/9) malam.
Peluang tersebut tidak hanya berada di level pemerintah. Faisal juga melihat ruang lebih besar bagi sektor swasta, perusahaan pengembang, dan investor dari kedua negara untuk terlibat dalam pengembangan kerja sama.
Perdagangan hingga Energi Masuk Radar Kerja Sama
Hubungan Indonesia dan Arab Saudi selama ini banyak ditopang kedekatan historis dan keagamaan. Namun, kerja sama kedua negara kini berkembang ke sektor ekonomi yang semakin beragam.
Faisal menyebut perdagangan, investasi, energi, pariwisata, pendidikan, dan budaya sebagai sejumlah bidang yang memiliki ruang untuk terus dikembangkan dalam hubungan bilateral.
“Hal ini sejalan dengan potensi besar yang dimiliki kedua negara dan kedudukan regional serta internasional masing-masing,” katanya.
Posisi Indonesia dan Arab Saudi yang sama-sama menjadi anggota G20 juga memperluas ruang koordinasi di tengah upaya kedua negara memperkuat kerja sama bilateral.
Dengan cakupan tersebut, Visi 2030 tidak hanya membuka peluang transaksi ekonomi, tetapi juga menciptakan ruang keterlibatan yang lebih luas bagi dunia usaha dan investor kedua negara.
Sektor Swasta Punya Ruang Lebih Besar
Transformasi ekonomi Arab Saudi membuka kesempatan bagi kerja sama yang tidak lagi hanya bertumpu pada hubungan antarnegara. Dunia usaha dinilai dapat mengambil peran lebih besar dalam memanfaatkan peluang yang muncul.
Sektor swasta, perusahaan pengembang, dan investor menjadi bagian yang disebut memiliki potensi untuk semakin terlibat dalam hubungan ekonomi Saudi-Indonesia.
Peluang itu juga sejalan dengan upaya memperluas hubungan bilateral dari fondasi tradisional menuju sektor-sektor ekonomi strategis.
Dengan kata lain, penguatan hubungan kedua negara tidak hanya diarahkan pada kerja sama yang sudah berjalan, tetapi juga pada penciptaan ruang baru yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha.
Di luar kepentingan ekonomi, Faisal menilai hubungan Arab Saudi dan Indonesia memiliki fondasi yang kuat karena dibangun di atas kepercayaan, rasa hormat, serta kepentingan bersama.
Ikatan historis, keagamaan, dan kemanusiaan antara kedua negara juga disebut menjadi modal penting untuk memperdalam kerja sama ke depan.
“Ikatan historis, keagamaan, dan kemanusiaan yang menyatukan kedua negara kita membentuk landasan yang kokoh untuk kerja sama dan koordinasi lebih lanjut, melayani rakyat kita dan berkontribusi pada stabilitas dan kemakmuran di kawasan dan dunia,” katanya.
Fondasi tersebut membuat penguatan kemitraan tidak hanya diarahkan pada kepentingan bilateral, tetapi juga pada kontribusi yang lebih luas terhadap stabilitas dan kemakmuran kawasan maupun global.
Momentum Hari Nasional ke-96 Arab Saudi
Pernyataan mengenai penguatan kemitraan Indonesia-Arab Saudi itu disampaikan dalam perayaan Hari Nasional ke-96 Arab Saudi di Jakarta.
Arab Saudi memperingati Hari Nasional pada 23 September 2026. Perayaan di Jakarta turut ditandai dengan penayangan bendera Arab Saudi pada layar LED raksasa di kawasan Bundaran HI.
Sejumlah pejabat Indonesia hadir dalam acara tersebut, di antaranya Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, serta Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak.
Turut hadir pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal serta sejumlah duta besar negara sahabat di Jakarta.
