MADANINEWS.ID, JAKARTA – Setiap Muslim tentu berharap salat, puasa, sedekah, haji, hingga berbagai amal saleh yang dikerjakannya diterima oleh Allah SWT. Namun, diterima atau tidaknya sebuah ibadah bukan perkara yang dapat dipastikan manusia.
Hal itu merupakan perkara gaib dan sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Meski demikian, seorang Muslim tetap dapat melakukan muhasabah. Bukan untuk memastikan bahwa ibadahnya ditolak, melainkan untuk menilai kembali niat, cara pelaksanaan, serta pengaruh ibadah terhadap hati dan perilaku.
Sebab, ibadah semestinya tidak hanya selesai ketika ritual berakhir. Ada perubahan yang diharapkan lahir sesudahnya: hati yang lebih dekat kepada Allah, perilaku yang semakin baik, serta orientasi hidup yang tidak semata-mata tertuju kepada dunia.
Lantas, apa saja kondisi yang patut menjadi bahan evaluasi karena dikhawatirkan membuat amal ibadah tidak diterima Allah SWT?
Sudah Beribadah, tetapi Makin Larut dalam Dunia
Salah satu hal yang dapat menjadi bahan introspeksi adalah ketika ibadah tidak menghasilkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam Asrar al-Haj yang diterjemahkan Mujiburrahman menjelaskan tanda diterimanya ibadah haji dapat terlihat dari perubahan hati dan perilaku seseorang.
Menurut Imam al-Ghazali, ibadah dapat memberikan pengaruh positif apabila sesudah menjalaninya seseorang semakin menjauh dari pembicaraan mengenai urusan duniawi dan lebih memperhatikan kehidupan akhirat.
Kecintaan kepada Allah SWT juga semakin tumbuh, sementara syariat dijadikan pedoman dalam menjalani berbagai aktivitas kehidupan.
Sebaliknya, ketika seseorang telah beribadah tetapi justru semakin larut dalam urusan dunia dan tidak menunjukkan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik, keadaan tersebut patut dijadikan bahan muhasabah.
Artinya, ukuran ibadah bukan hanya terletak pada selesai atau tidaknya suatu ritual, tetapi juga pada bekas yang ditinggalkannya dalam kehidupan.
Ibadah Tak Sesuai Syariat, Bisa Tertolak
Niat baik saja tidak cukup jika sebuah ibadah dilakukan dengan cara yang tidak sesuai dengan ketentuan syariat.
Dalam buku Agar Shalat Dhuhamu Berbuah Kekayaan karya Iqra Al Firdaus disebutkan, ibadah yang tidak dilaksanakan berdasarkan ketentuan syariat dapat berstatus mardud atau tertolak.
Ibadah yang tertolak tersebut juga disebut tidak menghasilkan hikmah maupun rahmat sebagaimana yang diharapkan dari suatu ibadah.
Rasulullah SAW telah memberikan peringatan mengenai amalan yang dibuat-buat tanpa dasar dalam syariat.
Diriwayatkan dari A’isha, Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang mengada-ada dalam urusan kami ini sesuatu yang tidak ada dasarnya, maka itu ditolak.” (HR Muslim No 1718)
Hadis tersebut menjadi pengingat penting bahwa ibadah bukan sekadar persoalan kesungguhan menjalankannya, tetapi juga kesesuaian dengan tuntunan agama.
Waspadai Riya di Balik Amal Ibadah
Selain cara pelaksanaan, persoalan niat menjadi bagian penting yang harus dijaga.
Riya merupakan sikap melakukan suatu amalan demi memperoleh penilaian, pujian, atau pengakuan dari manusia. Ketika hal tersebut masuk ke dalam ibadah, ketulusan kepada Allah SWT menjadi sesuatu yang perlu dievaluasi.
Dalam buku Etika Islam: Menuju Evolusi Diri karya Faidh Kasyani dijelaskan bahwa setiap perbuatan berada di antara dua sisi.
Ketika dilakukan dengan ikhlas, suatu amalan mengarah kepada kebaikan. Sebaliknya, apabila dikerjakan dengan riya, amalan tersebut akan bergeser ke arah keburukan.
Rasulullah SAW juga memberikan penegasan mengenai pentingnya keikhlasan.
Diriwayatkan oleh Abu ‘Umamah Al-Bahili, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajah-Nya.” (HR An-Nasa’i No. 3140)
Karena itu, pujian manusia tidak semestinya menjadi tujuan utama dari sebuah amal.
Justru ketika amal semakin terlihat oleh banyak orang, seorang Muslim perlu semakin berhati-hati menjaga niatnya.
Dua Syarat Penting agar Ibadah Diterima
Lantas, apa yang harus dijaga agar sebuah ibadah memiliki harapan untuk diterima Allah SWT?
Mengutip buku Fiqh Ibadah karya Zaenal Abidin, terdapat dua syarat utama.
Pertama, ibadah dilakukan dengan niat yang ikhlas. Kedua, pelaksanaannya sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Jika salah satu dari dua hal tersebut tidak terpenuhi, amalan berpotensi tertolak.
Prinsip ini juga dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Kahfi ayat 110:
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.”
Ibnu Katsir RA menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh,” yang dimaksud adalah menunaikan ibadah sesuai syariat Allah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
Adapun, “Janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya,” berarti bahwa diperintahkan untuk senantiasa mengharap wajah Allah SWT semata dan tidak berbuat syirik terhadap-Nya.
Jangan Sibuk Menilai Amal Orang Lain
Pada akhirnya, diterima atau tidaknya ibadah bukan sesuatu yang dapat dipastikan manusia.
Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apakah sebuah amal telah diterima Allah SWT selain Dia sendiri.
Karena itu, pembahasan mengenai tanda ibadah yang dikhawatirkan tertolak seharusnya menjadi alat untuk melihat ke dalam diri, bukan dasar untuk menghakimi ibadah orang lain.
Apakah niat masih benar-benar tertuju kepada Allah? Apakah ibadah dijalankan sesuai tuntunan Rasulullah SAW? Apakah setelah beribadah kehidupan menjadi semakin baik atau justru semakin larut dalam urusan dunia?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu dapat menjadi bagian dari muhasabah.
Seorang Muslim pada akhirnya hanya dapat terus berusaha memperbaiki niat, menjaga keikhlasan, mengikuti tuntunan syariat, dan berharap agar setiap amal saleh diterima Allah SWT.
Wallahu a’lam.
