MADANINEWS.ID JAKARTA — Allah SWT pada dasarnya sudah memerintahkan setiap umat muslim untuk mengerjakan kebajikan dan menjauhi sesuatu yang dilarang. Namun terkadang manusia dihinggapi sifat khilaf sehingga akhirnya mereka berbuat kesalahan.
Sadar atau tidak, ternyata ada beberapa perbuatan yang kadang tidak sadar kita lakukan namun hal itu bisa menghapus pahala kebaikan yang sudah kita kumpulkan.
Lantas, perbuatan apa sajakah itu? , inilah beberapa perbuatan yang bisa menghapus pahala.
1. Riya
Riya adalah salah satu perbuatan yang bertujuan memperbagus amal ibadah yang tujuannya ingin diperhatikan dan mendapat pujian dari orang.
Sangat disayangkan jika kita masih berbuat seperti demikian karena hal tersebut akan menghapus amal kebaikan yang kita perbuat. Mengapa? Karena riya ini tujuannya tidaklah tulus semata semata karena Allah melainkan ingin mendapat pujian dari orang atas kebaikan yang kita lakukan.
Allah SWT pernah berfirman dalam HR Muslim:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku paling tidak butuh pada sekutu-sekutu, barangsiapa yang beramal sebuah amal kemudian dia menyekutukan-Ku di dalamnya maka Aku tinggalkan dia dan syiriknya.”
2. Kafir
Kafir adalah syirik besar. Secara umum, kafir diartikan sebagai salah satu perbuatan mengambil tandingan selain Allah SWT dan menyamakannya dengan Sang Pencipta yakni Allah SWT.
Syirik adalah salah satu bentuk kedzaliman besar dan penghinaan kepada Allah SWT. Karena orang yang berlaku syirik sama artinya dengan menyamakan derajat Allah SWT dengan makhluk ciptaan-Nya.
Selain bisa menghapus amala kebaikan, Allah SWT tidak akan mengampuni seseorang yang sudah bertindak kafir terhadap-Nya apabila orang tersebut belum bertaubat.
Hal ini disampaikan dalam Alquran, QS Al-An’am ayat 88: :
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”
3. Ujub
Perbuatan selanjutnya yang dapat menghapus amal kebaikan adalah Ujub atau membanggakan amal secara berlebihan.
Sebagai seorang muslim, kita diperintahkan untuk senantiasa memperbanyak amal kebaikan kepada Allah SWT, dan bersyukur atas segala nikmat yang sudah diberikan.
Syukur yang tak terukur, bisa berubah menjadi ujub yang merasuk ke dalam hati, dan puncaknya adalah takabbur. Perbuatan ini dapat mengundang benih-benih keburukan dalam hati seorang umat.
Lantas mengapa ujub bisa menghapus pahala kebaikan kita? Hal pertama yang harus kita pahami adalah bahwasannya ujub merupakan sebuah perilaku yang kagum terhadap diri sendiri dan suka membanggakan dirinya dihadapan orang lain. Perbuatan seperti ini jelas tidak baik dan dapat menghapus pahala seseorang.
Nabi Muhammad SAW pun pernah mengungkit perihal ujub ini. Dalam HR Thabrani dituliskan:
ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“”Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikui dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri.”
4. Mengungkit amalan
Perilaku mengungkit memang tidak dianjurkan, termasuk mengungkit amalan. Hendaknya, setiap amalan yang kita perbuat dilakukan dengan ikhlas. Dalam QS Al-Baqarah ayat 262, Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allâh, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Robb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Perintah untuk tidak mengungkit setiap amal perbuatan yang dilakukan juga Allah SWT terangkan dalam QS Al-Baqarah ayat 264. Di ayat tersebut dituliskan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian”.
Jelas sekali ayat di atas menjelaskan bahwa jangan sekali-kali kita mengungkit setiap amal perbuatan yang sudah dilakukan karena hal itu bisa menghilangkan pahala dari ibadah yang kita lakukan.
5. Menyakiti perasaan seseorang
Dan perbuatan terakhir yang bisa menjadi salah satu sebab hilangnya pahala seorang muslim adalah menyakiti perasaan seseorang.
Dalam HR Tirmidzi, Rasulullah SAW pernah bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ:… إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ.
“Orang yang bangkrut dari umatku adalah mereka yang datang pada Hari Kiamat dengan banyak pahala shalat, puasa, zakat, dan haji. Tapi di sisi lain, ia juga mencaci orang, menyakiti orang, memakan harta orang (secara batil/zalim), menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Ia kemudian diadili dengan cara membagi-bagikan pahalanya kepada orang yang pernah dizaliminya. Ketika telah habis pahalanya, sementara masih ada yang menuntutnya maka dosa orang yang menuntutnya diberikan kepadanya. Akhirnya, ia pun dilemparkan ke dalam neraka”
