Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Ibadah Makin Berat dan Hati Sering Gelisah? Waspadai Tanda Mulai Jauh dari Allah SWT

Abi Abdul Jabbar Sidik
31 August 2026 | 15:02
rubrik: Islamika, Renungan Hati
Ibadah Makin Berat dan Hati Sering Gelisah? Waspadai Tanda Mulai Jauh dari Allah SWT

Hati yang mulai jauh dari Allah SWT dapat ditandai dengan ibadah yang terasa berat, hilangnya rasa bersalah ketika berbuat maksiat, hingga kegelisahan yang terus muncul. Islam mengajarkan sejumlah jalan untuk kembali mendekat kepada-Nya. (Foto:Ist/dok)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, JAKARTA – Seseorang bisa memiliki pekerjaan, harta, aktivitas yang padat, bahkan kehidupan yang tampak baik-baik saja, tetapi tetap merasakan kegelisahan di dalam hati. Pada saat bersamaan, salat yang dahulu menenangkan mulai terasa berat, doa sekadar menjadi rangkaian kata, sementara maksiat perlahan tak lagi menimbulkan rasa bersalah.

Kondisi semacam ini patut menjadi bahan introspeksi. Sebab, hati yang mulai jauh dari Allah SWT tidak selalu terlihat dari luar.

Al-Qur’an menggambarkan bagaimana hati manusia dapat mengeras hingga sulit menerima petunjuk. Sebaliknya, Allah SWT juga menunjukkan jalan agar hati kembali menemukan ketenteraman.

Lantas, apa saja tanda hati mulai jauh dari Allah SWT? Apa bahayanya apabila kondisi tersebut terus dibiarkan dan bagaimana cara mengatasinya?

Ketika Hati Perlahan Menjadi Keras

Manusia pada dasarnya memiliki kelemahan. Allah SWT menjelaskannya dalam Surah An-Nisa ayat 28:

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.”

Kelemahan tersebut termasuk dalam menghadapi hawa nafsu dan berbagai penyakit hati, seperti kesombongan dan iri.

Jika tidak dijaga, hati manusia bahkan dapat mengeras. Kondisi tersebut digambarkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 74:

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras…”

Ayat tersebut menjelaskan watak orang-orang Yahudi yang hatinya justru membatu setelah menerima petunjuk atau kebenaran.

Peringatan mengenai kerasnya hati kembali disampaikan Allah SWT dalam Surah Az-Zumar ayat 22:

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”

Dari ayat-ayat tersebut dapat dipahami bahwa jauhnya hati dari Allah SWT bukan kondisi yang selalu terjadi secara tiba-tiba. Kelemahan yang terus dibiarkan dapat membuat seseorang semakin jauh dari petunjuk-Nya.

Karena itu, sejumlah tanda berikut patut menjadi bahan introspeksi.

1. Salat dan Ibadah Mulai Terasa Berat

Salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah ketika ibadah dan perbuatan baik mulai terasa sebagai beban.

Seseorang mungkin masih mengerjakan salat, tetapi tidak lagi disertai keikhlasan dan kesungguhan hati. Ibadah hanya dilakukan untuk menggugurkan kewajiban atau bahkan demi memperoleh pujian dari manusia.

See also  Dalih "Cuma Bercanda" Saat Hina Agama, Ini Peringatan Al Quran

Allah SWT memberikan peringatan mengenai perilaku tersebut dalam Surah An-Nisa ayat 142:

“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang masih mengerjakan salat, tetapi juga bagaimana ia menjalankan ibadah tersebut.

2. Berbuat Maksiat, tetapi Tak Lagi Merasa Bersalah

Dosa seharusnya membuat seorang Muslim menyadari kesalahannya dan kembali kepada Allah SWT. Namun, kondisi hati perlu diwaspadai ketika maksiat justru tidak lagi menimbulkan rasa bersalah.

Seseorang bahkan bisa merasa aman ketika terus melakukan perbuatan yang dilarang.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 99:

“Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.”

Hilangnya rasa bersalah dapat menjadi persoalan serius apabila membuat seseorang terus mengulangi kesalahan tanpa keinginan untuk memperbaiki diri.

3. Terlalu Mengejar Dunia hingga Melupakan Akhirat

Harta, jabatan, dan berbagai pencapaian duniawi dapat membuat seseorang lalai apabila menjadi tujuan utama kehidupan.

Salah satu bentuknya adalah ketamakan. Seseorang dapat melakukan berbagai cara demi menambah harta atau memperoleh kedudukan tanpa lagi memedulikan apakah jalan yang ditempuh halal atau haram.

Allah SWT mengingatkan dalam Surah At-Takasur ayat 1-2:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

Ayat tersebut mengecam manusia yang sibuk bermegah-megahan dengan harta, teman, atau berbagai urusan duniawi hingga lalai memperbanyak amal ibadah.

4. Sulit Menerima Nasihat dan Kebenaran

Tidak semua nasihat terasa menyenangkan. Namun, ketika seseorang terus menolak kebenaran, kondisi tersebut juga perlu menjadi perhatian.

Al-Qur’an menggambarkan adanya kebutaan yang bukan terjadi pada mata, melainkan pada hati.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 46:

“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”

Kebutaan hati itulah yang dapat menghalangi seseorang menerima kebenaran.

See also  Jangan Lewatkan! Ini Amalan Paling Utama di Bulan Muharram Menurut Hadis

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 7, Allah SWT juga berfirman:

“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.”

5. Hati Terus Gelisah Meski Hidup Berkecukupan

Kecukupan materi tidak selalu berbanding lurus dengan ketenteraman hati.

Seseorang dapat memiliki banyak hal yang diinginkannya, tetapi batinnya tetap dipenuhi kegelisahan. Al-Qur’an menunjukkan bahwa ketenteraman hati memiliki hubungan dengan mengingat Allah SWT.

Dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28, Allah SWT berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Karena itu, ketika kegelisahan datang, hubungan dengan Allah SWT menjadi salah satu hal yang perlu diperiksa kembali.

Jangan Dianggap Sepele, Ini Bahaya Hati yang Lalai

Jauhnya hati dari Allah SWT bukan persoalan yang seharusnya dibiarkan. Salah satu bahayanya berkaitan dengan doa.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah.” (HR Tirmidzi)

Hati yang lalai dalam konteks tersebut adalah tidak memiliki keyakinan terhadap doanya dan berdoa tanpa memahami maknanya.

Bahaya lainnya adalah istidraj, yakni kondisi ketika seseorang terus memperoleh kenikmatan dunia meskipun terus melakukan maksiat.

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa aman dalam perbuatan dosanya, padahal kenikmatan itu justru dapat membawanya menuju kebinasaan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 44:

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”

Nabi Muhammad SAW juga bersabda:

“Apabila engkau melihat Allah Ta’ala memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba yang terus-menerus berbuat maksiat padahal ia menyukainya, maka itu adalah istidraj (jebakan).” (HR Ahmad)

Merasa Sudah Jauh dari Allah? Lakukan 5 Hal Ini

Menyadari hati mulai menjauh dapat menjadi momentum untuk memperbaiki diri. Ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk kembali mendekat kepada Allah SWT.

See also  Doa Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Pertama, kembali menjaga ibadah secara konsisten.

Tidak harus memulai dengan amalan yang berat. Seseorang dapat menjaga salat lima waktu sekaligus membiasakan berbagai amalan kecil secara rutin.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin dilakukan meskipun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua, memperbanyak zikir.

Mengingat Allah menjadi salah satu jalan untuk mendekatkan kembali hati kepada-Nya. Sebagaimana diterangkan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28, mengingat Allah dapat mendatangkan ketenteraman hati.

Ketiga, mengingat kematian.

Kesibukan dunia dapat membuat manusia lupa bahwa kehidupan memiliki batas. Mengingat kematian dapat menjadi jalan untuk melunakkan hati yang mulai mengeras.

Rasulullah SAW bersabda:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan yaitu kematian.” (HR Tirmidzi)

Keempat, peduli kepada anak yatim dan fakir miskin.

Kepedulian terhadap orang lain juga menjadi salah satu jalan untuk melunakkan hati.

Seseorang pernah mengadu kepada Nabi Muhammad SAW mengenai kerasnya hati. Rasulullah SAW kemudian bersabda:

“Jika engkau ingin melunakkan hatimu, berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR Ahmad)

Kelima, kembali kepada Allah dengan tobat nasuha.

Sejauh apa pun seseorang merasa telah melangkah, kesadaran terhadap kesalahan semestinya diikuti dengan memohon ampun kepada Allah SWT.

Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan tobat nasuha dalam Surah At-Tahrim ayat 8:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Hati yang mulai jauh dari Allah SWT dengan demikian tidak semestinya hanya diratapi. Kondisi tersebut justru dapat menjadi pengingat untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki hubungan dengan-Nya.

Mulai dari menjaga salat, memperbanyak zikir, mengingat kematian, memperhatikan anak yatim dan fakir miskin, hingga bertobat atas kesalahan yang telah dilakukan.

Sebab, ketika hati mulai terasa kosong dan ibadah terasa semakin berat, mungkin sudah waktunya melihat kembali seberapa dekat hubungan kita dengan Allah SWT.

Tags: Al-Quranhatihati kerashikmahhublumminallahIslamPenyakit Hatitobattobat nasuha
Previous Post

Saat Hidup Terasa Berat, Al-Qur’an Ajarkan 2 Cara agar Tetap Kuat untuk Menghadapinya

Next Post

Sudah Banyak Ibadah, Kok Makin Cinta Dunia? Ini yang Perlu Dievaluasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks