MADANINEWS.ID, JAKARTA – Tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, persaingan, hingga ketidakpastian masa depan menjadi bagian dari kehidupan manusia. Di tengah ritme hidup yang serba cepat, tuntutan untuk tetap kuat pun terasa semakin besar.
Namun, Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia menghadapi seluruh persoalan hanya dengan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Ada sumber pertolongan yang dapat menjadi pegangan ketika jalan terasa berat, bahkan ketika manusia merasa kemampuan yang dimilikinya sudah mencapai batas.
Dua di antaranya adalah sabar dan salat.
Pesan tersebut ditegaskan Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 152-153. Menariknya, perintah untuk meminta pertolongan dengan sabar dan salat didahului dengan pesan untuk mengingat Allah dan bersyukur kepada-Nya.
فَاذۡكُرُوۡنِىۡٓ اَذۡكُرۡكُمۡ وَاشۡکُرُوۡا لِىۡ وَلَا تَكۡفُرُوۡنِ (١٥٢) يٰٓاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِيۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَالصَّلٰوةِ ؕ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيۡنَ (١٥٣)
Artinya: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Dua ayat tersebut membentuk rangkaian pesan penting bagi seorang Muslim. Saat ujian datang, manusia bukan sekadar diperintahkan bertahan. Ia juga diajak membangun hubungan dengan Allah agar memiliki arah dan kekuatan dalam menjalani kehidupan.
Saat Masalah Datang, Jangan Lupa Mengingat Allah
Tafsir Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa kaum Muslimin diperintahkan untuk selalu mengingat Allah, baik di dalam hati maupun melalui lisan.
Mengingat Allah dapat dilakukan dengan tahmid, tasbih, membaca Al-Qur’an, sekaligus merenungkan tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta.
Zikir dengan demikian bukan hanya persoalan memperbanyak ucapan. Di dalamnya terdapat kesadaran bahwa manusia tidak menjalani kehidupan seorang diri.
Pesan ini menjadi relevan di tengah kehidupan modern. Ketika menghadapi persoalan, seseorang bisa merasa seolah seluruh masalah harus diselesaikan dengan kemampuan pribadinya.
Padahal, semakin besar persoalan yang dihadapi, manusia juga semakin menyadari bahwa tidak seluruh keadaan berada dalam kendalinya.
Di sinilah mengingat Allah membantu seorang Muslim menata kembali cara pandangnya. Manusia tetap berkewajiban berikhtiar, tetapi hasil akhir berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Tafsir Kemenag menegaskan, apabila manusia selalu mengingat Allah, Allah pun akan mengingat mereka.
Punya Banyak Nikmat, Sudahkah Benar-Benar Bersyukur?
Setelah perintah mengingat Allah, Surah Al-Baqarah ayat 152 juga berbicara mengenai syukur.
Syukur tidak cukup berhenti pada ucapan “alhamdulillah”. Rasa syukur juga harus tercermin dari bagaimana seseorang mempergunakan nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya.
Menurut Tafsir Kemenag RI, bersyukur dilakukan dengan melaksanakan ketentuan Allah, memuji-Nya, bertasbih, serta mengakui segala kebaikan yang diberikan-Nya.
Sebaliknya, kufur nikmat bukan hanya berarti mengingkari keberadaan nikmat, tetapi juga menyia-nyiakan atau menggunakannya di luar garis yang telah ditentukan Allah.
Pesan tersebut penting direnungkan, terutama bagi mereka yang berada pada usia produktif.
Kemampuan, waktu, kesehatan, jabatan, harta, hingga teknologi bukan semata-mata modal untuk mengejar keberhasilan pribadi. Semua itu merupakan amanah yang perlu dipergunakan dengan benar.
Sebab, kesuksesan tanpa kesadaran dalam mempergunakan nikmat dapat membuat manusia kehilangan arah. Syukur menjadi salah satu cara agar keberhasilan tidak justru berubah menjadi kesombongan.
Sabar dan Salat, Dua Kekuatan Saat Hidup Terasa Berat
Lantas, apa yang harus dilakukan ketika persoalan datang dan hidup terasa semakin berat?
Surah Al-Baqarah ayat 153 memberikan jawabannya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Tafsir Kemenag RI menjelaskan perjuangan menegakkan kebenaran harus diiringi kesabaran dan memperbanyak salat.
Dengan keduanya, kesukaran dan cobaan menjadi lebih ringan karena Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar.
Namun, sabar bukan berarti diam dan menyerah begitu saja terhadap keadaan.
Sabar merupakan kemampuan menjaga keteguhan ketika proses belum menghasilkan sesuatu yang diharapkan, ketika perjuangan menemui hambatan, atau ketika hasil yang dinantikan belum juga terlihat.
Sementara itu, salat menjadi ruang bagi seorang Muslim untuk mengembalikan kekuatan jiwanya kepada Allah.
Di tengah kehidupan yang menuntut segala sesuatu berlangsung cepat, pesan tersebut menjadi semakin relevan. Sebab, tidak semua persoalan harus dihadapi dengan ketergesa-gesaan.
Ada saatnya seseorang harus terus bekerja dan berikhtiar, tetapi pada saat yang sama juga perlu menenangkan diri serta memperkuat hubungannya dengan Allah SWT.
Empat Pegangan agar Tak Mudah Runtuh
Surah Al-Baqarah ayat 152-153 pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang satu cara menghadapi kesulitan.
Ada rangkaian pegangan spiritual yang saling berhubungan: mengingat Allah agar hati tidak kehilangan arah, bersyukur agar nikmat tidak disalahgunakan, bersabar agar tidak runtuh menghadapi ujian, dan salat agar perjuangan tetap memiliki sumber kekuatan.
Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi memiliki makna mendalam bagi manusia yang hidup di tengah berbagai tekanan.
Ketika kehidupan menuntut semakin banyak hal, hubungan dengan Allah justru tidak seharusnya menjadi sesuatu yang dikorbankan.
Sebab, ketika ikhtiar terasa berat dan kemampuan manusia memiliki batas, Al-Qur’an mengingatkan dua jalan untuk memohon pertolongan: sabar dan salat.
