MADANINEWS.ID, JAKARTA – Tidak semua pergantian tahun disambut dengan pesta dan perayaan. Dalam Islam, datangnya Tahun Baru Hijriah justru menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah, melakukan muhasabah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah, menjadi salah satu bulan yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Bahkan, Rasulullah SAW menyebutnya sebagai “Syahrullah” atau bulan Allah, sebuah penyebutan yang menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya dibanding bulan-bulan lainnya.
Bagi umat Islam, Muharram bukan sekadar penanda awal tahun baru. Bulan ini juga menjadi kesempatan untuk membuka lembaran kehidupan dengan amal-amal terbaik, sebagaimana Dzulhijjah ditutup dengan berbagai ibadah besar seperti haji dan kurban.
Muharram, Bulan Mulia yang Dimuliakan Allah SWT
Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram (Asyhurul Hurum) yang dimuliakan Allah SWT. Selain Muharram, tiga bulan lainnya adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab.
Keistimewaan tersebut ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya:
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan sebagaimana dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu.” (QS At-Taubah: 36)
Karena termasuk bulan mulia, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan selama Muharram.
Puasa, Amalan Terbaik di Bulan Muharram
Dari sekian banyak amalan yang dianjurkan, puasa menjadi ibadah yang paling utama dilakukan selama bulan Muharram.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Ibnu Majah:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَيُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ؟ قَالَ: شَهْرُ اللَّهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ
Artinya:
“Seseorang datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, ‘Puasa apa yang paling utama setelah Ramadhan?’ Rasulullah menjawab, ‘Puasa pada bulan Allah yang kalian sebut Muharram.'” (HR Ibnu Majah)
Imam Al-Qurthubi yang dikutip Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa keutamaan puasa Muharram berkaitan dengan posisinya sebagai pembuka tahun Hijriah.
إِنَّمَا كَانَ صَوْمُ الْمُحَرَّمِ أَفْضَلَ الصِّيَامِ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ أَوَّلُ السَّنَةِ الْمُسْتَأْنَفَةِ فَكَانَ اسْتِفْتَاحُهَا بِالصَّوْمِ الَّذِي هُوَ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ
Artinya:
“Puasa Muharram menjadi puasa yang paling utama karena ia merupakan awal tahun yang baru. Sangat baik apabila tahun baru dibuka dengan puasa yang termasuk amal paling utama.”
Selain puasa sepanjang bulan Muharram, umat Islam juga dianjurkan melaksanakan puasa Tasu’a pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram.
Keutamaan puasa Asyura dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadis berikut:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya:
“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)
Amalan-Amalan Sunnah yang Dianjurkan Saat Muharram
Para ulama juga menjelaskan sejumlah amalan yang dianjurkan selama Muharram, khususnya pada hari Asyura. Dalam kitab Kanzun Naja was Surur fi Ad’iyyati Tasyrahus Shudur disebutkan:
فِى يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ
بِهَا اثْنَتَانِ وَلَهَا فَضْلٌ نُقِلْ
صُمْ صَلِّ صِلْ زُرْ عَالِمًا عُدْ وَاكْتَحِلْ
رَأْسُ الْيَتِيْمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ
وَسِّعْ عَلَى الْعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرًا
وَسُوْرَةَ الْإِخْلَاصِ قُلْ أَلْفًا تَصِلْ
Artinya:
“Pada hari Asyura terdapat sepuluh amalan yang disertai dua amalan tambahan yang memiliki keutamaan. Berpuasalah, salatlah, sambunglah silaturahim, ziarahilah orang alim, jenguklah orang sakit, dan bercelaklah. Usaplah kepala anak yatim, bersedekahlah, mandilah, lapangkan nafkah keluarga, potonglah kuku, dan bacalah surat Al-Ikhlas seribu kali.”
Berdasarkan penjelasan para ulama, berikut amalan yang dianjurkan selama Muharram:
1. Memperbanyak Salat Sunnah
Muharram menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah melalui salat sunnah seperti Tahajud, Dhuha, Witir, dan berbagai salat sunnah lainnya.
2. Menjalin dan Mempererat Silaturahim
Awal tahun Hijriah juga dapat menjadi momen memperbaiki hubungan yang sempat renggang dengan keluarga, kerabat, maupun sahabat.
3. Menjenguk Orang Sakit
Menjenguk orang sakit merupakan bentuk kepedulian sosial yang bernilai ibadah dan sangat dianjurkan dalam Islam.
4. Memperbanyak Sedekah
Muharram termasuk waktu yang baik untuk meningkatkan kepedulian kepada sesama melalui sedekah, infak, maupun berbagai bentuk bantuan sosial lainnya.
5. Menyantuni Anak Yatim
Memuliakan anak yatim merupakan amalan yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Muharram menjadi salah satu momentum terbaik untuk berbagi kebahagiaan bersama mereka.
6. Berziarah kepada Ulama
Mengunjungi ulama yang masih hidup untuk menimba ilmu dan nasihat, atau berziarah ke makam ulama yang telah wafat, dapat menjadi sarana memperkuat keimanan dan mengingat kehidupan akhirat.
7. Memperhatikan Kebersihan dan Kerapian Diri
Tradisi ulama juga menyebutkan sejumlah amalan seperti mandi sunnah, memotong kuku, dan memakai celak sebagai bentuk menjaga kebersihan diri yang dianjurkan dalam Islam.
8. Memperbanyak Membaca Surat Al-Ikhlas
Salah satu amalan yang juga banyak disebut dalam kitab-kitab ulama adalah memperbanyak membaca Surat Al-Ikhlas, terutama pada hari Asyura.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Artinya:
“Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.” (QS Al-Ikhlas: 1-4)
Muharram sejatinya bukan hanya penanda dimulainya tahun baru Islam. Lebih dari itu, bulan ini merupakan kesempatan bagi setiap Muslim untuk memperbarui niat, memperkuat ketakwaan, dan memulai perjalanan satu tahun ke depan dengan amal-amal terbaik.
Dengan memperbanyak puasa, salat sunnah, sedekah, silaturahim, serta berbagai amalan saleh lainnya, diharapkan Tahun Baru Hijriah menjadi awal yang penuh keberkahan dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Wallahualam bissawab.
