Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

7 Dalil Al-Qur’an dan Hadis yang Menjadi Landasan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Abi Abdul Jabbar Sidik
26 August 2026 | 11:00
rubrik: Islamika, Quran Solution
7 Dalil Al-Qur’an dan Hadis yang Menjadi Landasan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Simak 7 ayat Al-Qur'an dan hadis yang digunakan ulama sebagai landasan membolehkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.. (Foto:ist/dok)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, JAKARTA – Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam di berbagai daerah kembali menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan kelahiran Rasulullah SAW menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur, kecintaan kepada Nabi, sekaligus mengenang perjuangan beliau menyampaikan risalah Islam.

Di Indonesia, tradisi Maulid Nabi juga telah melekat dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Peringatan biasanya diisi dengan pembacaan selawat, kajian, pembacaan sirah Nabi, doa bersama hingga berbagi makanan.

Namun, perayaan Maulid Nabi juga memiliki perbedaan pandangan di kalangan ulama. Salah satu persoalan yang menjadi pembahasan adalah dalil yang digunakan untuk membolehkan peringatan tersebut.

Sejumlah ulama yang membolehkan Maulid Nabi menggunakan sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadis sebagai landasan. Dalil-dalil tersebut antara lain berkaitan dengan rasa syukur atas nikmat Allah SWT, kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta anjuran melakukan kebaikan.

Berikut sejumlah ayat dan hadis yang digunakan sebagai landasan oleh ulama yang membolehkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

1. Hadis tentang Memulai Perkara Baik

Salah satu hadis yang digunakan sebagai landasan adalah hadis riwayat Muslim mengenai sunnah hasanah atau memulai sebuah perkara baik.

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

Latin: Man sanna fil-islaami sunnatan hasanatan, falahuu ajruhaa, wa ajru man ‘amila bihaa ba’dahuu, min ghairi ay yanqusa min ujuurihim syai’un.

Artinya: “Barang siapa yang memulai dalam Islam sebuah perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan baiknya itu, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa berkurang sedikit pun pahala yang mereka dapatkan.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut digunakan sebagai dasar oleh para ulama untuk membolehkan sunnah hasanah selama tidak bertentangan dengan Alquran, sunnah, Atsar, maupun Ijma’.

Sunnah hasanah sendiri merupakan tindakan, perilaku, atau pelopor kebaikan dalam Islam yang dicontohkan oleh seseorang, kemudian perbuatan baik tersebut diikuti oleh orang lain.

See also  Kesunahan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Dalam konteks Maulid, peringatan dapat diisi dengan berbagai kegiatan yang bernilai ibadah dan kebaikan, seperti membaca Alquran, berselawat, bersedekah, dan mempelajari sirah Nabi.

2. Puasa Senin dan Syukur atas Kelahiran Nabi

Dalil berikutnya berkaitan langsung dengan kelahiran Rasulullah SAW. Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW menjelaskan alasan beliau berpuasa pada hari Senin.

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ: فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

Latin: ‘An Abii Qataadata al-Anshaariyyi radiyallaahu ‘anhu: anna Rasuulallaahi sallallaahu ‘alaihi wa sallama su’ila ‘an shaumi al-itsnaini faqaala: fiihi wulidtu wa fiihi unzila ‘alayya.

Artinya: “Dari Abu Qatadah Al-Anshari RA, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari Senin.

Rasulullah SAW menjawab: ‘Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu (pertama) diturunkan kepadaku’.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengaitkan ibadah puasa Senin dengan hari kelahirannya.

Bagi ulama yang membolehkan Maulid Nabi, hadis ini menjadi salah satu dasar bahwa mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran Rasulullah SAW diperbolehkan.

Bentuk syukur tersebut tidak harus terbatas pada puasa. Umat Islam juga dapat mengisinya dengan berbagai amal kebaikan, seperti bersedekah, membaca Alquran, dan berselawat.

3. Kegembiraan dan Kecintaan kepada Rasulullah SAW

Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW juga menjadi salah satu dasar yang digunakan dalam pembahasan mengenai Maulid.

Dalam hadis disebutkan:

مَنْ أَحَبَّنِى كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنـَّةِ

Latin: Man ahabbanii kaana ma’ii fil-jannati.

Artinya: “Barang siapa yang senang, gembira, dan cinta kepada saya maka akan berkumpul bersama dengan saya masuk surga.”

Hadis tersebut digunakan untuk menunjukkan keutamaan mencintai dan bergembira atas keberadaan Rasulullah SAW.

Karena itu, peringatan Maulid bagi ulama yang membolehkannya dapat menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan kembali kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW.

4. Hadis Asyura dan Ungkapan Syukur atas Nikmat Allah

Dalil berikutnya merupakan kiasan atau analogi yang dikaitkan dengan hadis mengenai puasa Asyura.

See also  Ramai Virus Corona, Amalkan Doa Ini Agar Terhidar dari Wabah Penyakit

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menemukan dalil kiasan (takhrij) yang sangat kuat dari kitab Shahihain (Bukhari dan Muslim) untuk dijadikan dasar maulid.

Dalil tersebut merujuk pada hadis berikut:

أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَسَأَلَهُمْ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ أَغْرَقَ اللَّهُ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَّى مُوسَى فَنَحْنُ نَصُومُهُ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Annan-nabiyya -sallallaahu ‘alaihi wa sallama- qadimal-madiinata fawajadal-yahuuda yashuumuuna yauma ‘aasyuuraa’a fasa’alahum faqaaluu hadzaa yaumun aghraqallaahu fiihi fir’auna wa najjaa muusaa fanahnu nashuumuhuu syukral lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Bahwa Rasulullah SAW datang ke Madinah, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab:

‘Ini adalah hari di mana Allah menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah Ta’ala’.”

Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa makna dari hadis di atas adalah kebolehan mengekspresikan rasa syukur kepada Allah SWT atas anugerah nikmat atau perlindungan dari marabahaya yang terjadi pada hari tertentu secara berulang.

Dalam konteks Maulid, kelahiran Nabi Muhammad SAW dipandang sebagai nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada alam semesta.

Atas dasar pemahaman tersebut, menyambut hari kelahiran Rasulullah SAW dengan ungkapan syukur pada setiap 12 Rabiul Awal dipandang diperkenankan dan sesuai dengan prinsip syariat oleh ulama yang menggunakan dalil ini.

5. QS Ali ‘Imran Ayat 164: Rasulullah SAW adalah Karunia Allah

Landasan lainnya terdapat dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 164. Ayat ini menjelaskan karunia Allah SWT kepada orang-orang beriman melalui pengutusan Rasulullah SAW.

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Latin: Laqad mannal laahu ‘alal mu’mineena iz ba’asa feehim Rasoolam min anfusihim yatloo ‘alaihim Aayaatihee wa yuzakkeehim wa yu’allimu humul Kitaaba wal Hikmata wa in kaanoo min qablu lafee dalaalim mubeen

See also  Kisah Kesabaran Rasulullah SAW

Artinya: “Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Alquran) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164)

Ayat tersebut menjadi landasan bagi pandangan bahwa diutusnya Rasulullah SAW merupakan karunia besar Allah SWT kepada orang-orang beriman.

6. QS Al-Anbiya’ Ayat 107: Rasulullah SAW sebagai Rahmat bagi Alam

Al-Qur’an juga menyebut kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Latin: Wa maaa arsalnaaka illaa rahmatal lil’aalameen

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

Ayat tersebut menjadi dasar dalam memandang kehadiran Rasulullah SAW sebagai rahmat Allah SWT bagi seluruh alam.

Karena itu, bagi ulama yang membolehkan Maulid, momentum mengenang kelahiran Nabi dapat menjadi sarana untuk mengingat kembali rahmat yang dibawa Rasulullah SAW sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada beliau.

7. Dalil tentang Syukur dan Kecintaan kepada Rasulullah SAW

Sejumlah dalil yang digunakan untuk membolehkan Maulid pada dasarnya bertemu pada satu gagasan utama, yakni mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT dan kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui kegiatan yang tidak bertentangan dengan syariat.

Peringatan Maulid dapat diisi dengan amalan seperti selawat, membaca Alquran, mempelajari sirah Nabi, bersedekah, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Namun, penting dicatat bahwa dalil-dalil tersebut merupakan landasan yang digunakan oleh ulama yang membolehkan perayaan Maulid Nabi. Perbedaan pendapat mengenai hukum Maulid tetap ada di kalangan ulama.

Karena itu, pembahasan mengenai Maulid Nabi tidak hanya berkaitan dengan boleh atau tidaknya sebuah tradisi, tetapi juga bagaimana umat Islam mengisinya dengan kegiatan yang sesuai dengan nilai-nilai syariat dan semangat meneladani Rasulullah SAW.

Tags: ayat al qurandalil maulidhadisMaulid Nabinabi muhammad saqrabiul awalRasulullah SAW
Previous Post

Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hukum Merayakannya, Tradisi yang Terus Hidup hingga Kini

Next Post

Siapa yang Disebut Fakir dan Miskin? Ini Kriterianya dalam Islam

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks