MADANINEWS.ID, JAKARTA – Jumlah calon jemaah haji Indonesia yang masih menunggu keberangkatan mencapai sekitar 5,6 juta orang pada awal 2026. Panjangnya antrean tersebut tidak hanya menjadi tantangan penyelenggaraan haji, tetapi juga membuka peluang bagi industri asuransi syariah untuk menawarkan perlindungan kepada masyarakat yang tengah mempersiapkan perjalanan ke Tanah Suci.
PT Zurich General Takaful Indonesia atau Zurich Syariah melihat besarnya daftar tunggu tersebut sebagai potensi pasar. Perusahaan menilai masa tunggu yang panjang membuat aspek perencanaan dan perlindungan perjalanan semakin relevan bagi calon jemaah.
Presiden Direktur Zurich Syariah Hilman Simanjuntak mengatakan panjangnya waktu tunggu keberangkatan haji menunjukkan semakin pentingnya perencanaan perjalanan ibadah.
“Di mana kondisi ini mencerminkan bahwa kebutuhan akan perencanaan dan perlindungan semakin penting dalam perjalanan spiritual,” ujar Hilman kepada Kontan, Jumat (14/8/26).
Asuransi Perjalanan Syariah Jadi Andalan
Untuk menangkap peluang tersebut, Zurich Syariah mengandalkan produk asuransi perjalanan syariah yang dapat digunakan masyarakat yang melakukan perjalanan haji maupun umrah.
Hilman mengatakan perusahaan saat ini lebih berfokus mengoptimalkan produk yang telah tersedia sekaligus meningkatkan kualitas layanan. Langkah tersebut dilakukan agar manfaat perlindungan yang diberikan tetap relevan dengan kebutuhan nasabah.
Peluang pasar juga tidak hanya datang dari calon jemaah yang masuk daftar tunggu haji. Perubahan pola perjalanan masyarakat menuju Tanah Suci turut menjadi perhatian perusahaan.
Salah satu tren yang dicermati adalah meningkatnya minat terhadap umrah mandiri. Pola tersebut memberikan fleksibilitas lebih besar bagi masyarakat dalam mengatur perjalanan.
Perubahan pola perjalanan tersebut dinilai ikut memengaruhi kebutuhan perlindungan. Karena itu, solusi asuransi perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan cara masyarakat merencanakan dan menjalankan perjalanan ibadah.
Perluas Akses dan Edukasi
Zurich Syariah juga berupaya memperluas akses terhadap produk perlindungan berbasis syariah melalui berbagai kanal distribusi.
Perusahaan menjalin kolaborasi dengan mitra yang memiliki kedekatan dengan ekosistem haji dan umrah. Strategi tersebut dibarengi dengan edukasi mengenai pentingnya perlindungan selama perjalanan ibadah.
Edukasi diharapkan dapat membuat masyarakat memahami manfaat asuransi sebagai bagian dari perencanaan perjalanan yang lebih matang.
Hilman optimistis strategi tersebut dapat membantu Zurich Syariah menjangkau lebih banyak calon jemaah haji dan umrah secara berkelanjutan sekaligus menyediakan perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Namun, besarnya jumlah calon jemaah tidak otomatis membuat pasar asuransi syariah tumbuh. Penguatan ekosistem haji dan umrah menjadi salah satu faktor yang dinilai menentukan kemampuan industri dalam mengembangkan pasar tersebut.
Ekosistem Haji-Umrah Masih Jadi Tantangan
Pengamat Asuransi Syariah sekaligus anggota Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (KUPASI) Wahyudin Rahman menilai industri asuransi syariah tidak cukup hanya mengembangkan produk baru.
Menurutnya, ekosistem haji dan umrah juga perlu diperkuat agar mampu menyerap produk perlindungan syariah secara lebih optimal.
“Karena itu, tantangannya bukan hanya menciptakan produk, tetapi memastikan ekosistem haji dan umrah lebih optimal menyerap produk asuransi syariah,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (13/8/26).
Wahyudin menjelaskan, kebutuhan perlindungan dalam perjalanan haji dan umrah sebenarnya sudah memiliki sejumlah mekanisme. Di antaranya melalui tender haji maupun asuransi pembiayaan syariah.
Di sisi lain, industri asuransi syariah juga harus berhadapan dengan produk asuransi konvensional. Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu memperkuat diferensiasi sekaligus posisi produk berbasis syariah dalam ekosistem haji dan umrah.
Kolaborasi Jadi Kunci Perluasan Pasar
Menurut Wahyudin, penguatan pasar dapat dilakukan melalui kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pihak yang terlibat dalam perjalanan ibadah.
Kolaborasi tersebut dapat melibatkan perbankan syariah, biro perjalanan atau travel, penyelenggara haji dan umrah, hingga platform digital.
Melalui kerja sama lintas sektor, produk perlindungan tambahan dapat dirancang agar lebih sederhana, terjangkau, dan mudah diakses masyarakat.
Dengan demikian, besarnya jumlah calon jemaah haji yang masih menunggu keberangkatan serta meningkatnya aktivitas perjalanan umrah dapat menjadi peluang pertumbuhan bagi industri asuransi syariah.
Namun, peluang tersebut perlu ditopang ekosistem yang lebih terintegrasi agar kebutuhan perlindungan masyarakat dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan pasar yang berkelanjutan.
