mururMADANINEWS.ID, MAKKAH – Pemerintah memperketat skema mobilisasi jemaah haji Indonesia menjelang fase puncak ibadah haji 1447 Hijriah/2026. Langkah ini dilakukan seiring besarnya jumlah jemaah Indonesia yang telah tiba di Arab Saudi, dengan fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) diperkirakan menjadi titik paling padat sekaligus paling rawan dalam seluruh rangkaian ibadah haji.
Hingga hari ke-29 operasional haji 2026, tercatat sebanyak 186.041 jemaah haji reguler yang tergabung dalam 481 kelompok terbang (kloter) serta 13.180 jemaah haji khusus telah tiba di Arab Saudi. Dengan pergerakan jutaan jemaah dari berbagai negara yang berlangsung dalam waktu hampir bersamaan, pemerintah menyiapkan skema perpindahan ketat untuk mencegah kepadatan ekstrem.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff, menegaskan fase Armuzna merupakan momen paling krusial dalam pelaksanaan ibadah haji.
“Fase Armuzna ini merupakan inti dari rangkaian ibadah haji sekaligus fase paling krusial. Jutaan jemaah dari berbagai negara akan bergerak bersamaan dalam ruang dan waktu yang sangat terbatas,” ujar Maria dalam konferensi pers yang disiarkan langsung melalui YouTube Kemenhaj, Selasa (19/5/2026).
Pergerakan ke Arafah Dimulai 25 Mei, Dibagi 3 Gelombang
Berdasarkan skema yang dirilis pemerintah, keberangkatan jemaah dari Makkah menuju Arafah dijadwalkan berlangsung pada Senin, 25 Mei 2026 atau 8 Zulhijjah.
Pergerakan dilakukan menggunakan armada bus dari hotel masing-masing dengan pembagian tiga gelombang keberangkatan, yakni:
- pukul 06.00 WAS
- pukul 11.30 WAS
- pukul 17.30 WAS
Pemerintah menargetkan seluruh jemaah sudah tiba di Arafah sebelum pukul 24.00 WAS.
Untuk menghindari kepadatan di area hotel, jemaah diminta tidak berkumpul di lobi sebelum jadwal keberangkatan kloter masing-masing. Setelah tengah malam, petugas akan melakukan sweeping di kawasan Makkah guna memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal.
Skema Murur untuk Lansia dan Jemaah Risiko Tinggi
Setelah wukuf di Arafah pada Selasa, 26 Mei 2026 atau 9 Zulhijjah, jemaah akan diberangkatkan menuju Muzdalifah dan Mina.
Dalam fase ini, pemerintah menerapkan dua skema pergerakan, yakni murur dan non-murur.
Skema murur diperuntukkan bagi jemaah lansia, penyandang disabilitas, dan kategori risiko tinggi. Dalam mekanisme ini, jemaah tidak turun di Muzdalifah dan langsung melintas menuju Mina menggunakan bus.
Sementara jemaah non-murur tetap akan turun di Muzdalifah untuk menjalani mabid sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina.
“Targetnya nanti seluruh jemaah telah diberangkatkan dari Muzdalifah sebelum pukul 07.00 pagi waktu Arab Saudi,” jelas Maria.
Pemerintah juga menargetkan seluruh tenda di Arafah sudah kosong pada pukul 23.00 WAS. Petugas akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal.
Jadwal Lontar Jumrah hingga Pulang ke Hotel
Setibanya di Mina pada 10 Zulhijjah, jemaah dijadwalkan melaksanakan lontar Jumrah Aqobah mulai pukul 10.00 WAS.
Selanjutnya, pada 11 hingga 13 Zulhijjah, jemaah akan menjalani mabid di Mina sekaligus melaksanakan lontar Jumrah Ula, Wusta, dan Aqobah sesuai jadwal kloter masing-masing.
Proses pemulangan jemaah ke Makkah dibagi dalam dua skema:
- Nafar Awal, meninggalkan Mina pada 12 Zulhijjah
- Nafar Tsani, meninggalkan Mina pada 13 Zulhijjah
Pemerintah menargetkan seluruh proses pemulangan jemaah ke hotel di Makkah rampung paling lambat pukul 15.00 WAS pada 13 Zulhijjah.
Maria juga mengingatkan jemaah untuk disiplin menjaga keselamatan selama fase puncak haji.
“Jangan memaksakan diri apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Syariat pun memberikan keringanan melalui mekanisme badal (diwakilkan) lontar jumrah,” pungkas Maria.
