MADANINEWS.ID, MAKKAH – Di balik megahnya bangunan Masjidil Haram yang terus diperluas dari masa ke masa, tersimpan banyak jejak sejarah dakwah Rasulullah SAW. Sebagian masih dikenali hingga hari ini, sebagian lainnya nyaris hilang tertelan pembangunan modern Kota Makkah.
Salah satu kisah yang sering menarik perhatian jemaah haji dan umrah adalah tentang lokasi yang diyakini sebagai bekas rumah Abu Jahal, musuh besar Nabi Muhammad SAW, yang kini disebut telah berubah menjadi toilet umum di sekitar kawasan Marwah.
Cerita ini kerap beredar di kalangan jemaah dan pemandu lokal karena dianggap menyimpan pesan simbolis tentang bagaimana kemuliaan dan kehinaan ditentukan oleh sikap seseorang terhadap kebenaran.
Namun, bagaimana sebenarnya kisah Abu Jahal dan rumahnya di Makkah?
Abu Jahal, Musuh Besar Dakwah Rasulullah SAW
Abu Jahal dikenal sebagai salah satu tokoh Quraisy yang paling keras memusuhi Rasulullah SAW dan ajaran Islam pada masa awal dakwah di Makkah.
Dalam buku Cerita Al-Qur’an karya M. Zaenal Abidin disebutkan bahwa Abu Jahal merupakan julukan yang berarti “Bapak Kebodohan”.
Nama aslinya adalah Amr bin Hisyam, seorang bangsawan Quraisy yang memiliki pengaruh besar di Makkah saat itu.
Ia dikenal keras hati, sombong, dan menjadi tokoh yang paling sering menyakiti Rasulullah SAW serta kaum muslimin.
Berbagai riwayat mencatat bagaimana Abu Jahal berkali-kali berusaha menghalangi dakwah Nabi Muhammad SAW, termasuk saat Rasulullah sedang salat di dekat Ka’bah.
Namun setiap upayanya untuk mencelakai Nabi selalu gagal.
Tewas dalam Perang Badar
Permusuhan Abu Jahal terhadap Islam berakhir dalam Perang Badar pada tahun ke-2 Hijriah.
Dalam buku Dakwah Islam Rasulullah Secara Rahasia dan Secara Terang-Terangan karya Muhammad Ridha dijelaskan bahwa Abu Jahal tewas dalam keadaan kafir di medan perang.
Ia dibunuh oleh dua pemuda Anshar, yakni Mu’adz bin Amr bin Al-Jamuh dan Mu’awwidz bin Afra’.
Kematian Abu Jahal menjadi salah satu titik penting kemenangan kaum muslimin dalam sejarah awal Islam.
Kawasan Rumah-rumah Bersejarah di Sekitar Masjidil Haram
Pada masa Rasulullah SAW, kawasan sekitar Ka’bah merupakan permukiman padat suku Quraisy.
Di sanalah Nabi Muhammad SAW lahir, tumbuh, dan memulai dakwah Islam.
Lokasi yang diyakini sebagai tempat kelahiran Rasulullah SAW kini dikenal sebagai Maktabah Makkah Al-Mukarramah atau perpustakaan Makkah.
Sementara rumah Nabi Muhammad SAW bersama Sayyidah Khadijah RA diyakini berada di sekitar kawasan dekat Babussalam, meski kini bekas bangunannya sudah tidak tampak lagi akibat perluasan Masjidil Haram.
Bekas Rumah Abu Jahal Disebut Kini Jadi Toilet Umum
Di sekitar pintu keluar Marwah, tempat berakhirnya sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah, terdapat area yang oleh sebagian kalangan diyakini sebagai lokasi bekas rumah Abu Jahal.
Kini kawasan tersebut telah berubah menjadi fasilitas umum berupa toilet untuk jemaah Masjidil Haram.
Cerita tentang bekas rumah Abu Jahal yang menjadi toilet umum banyak disampaikan secara turun-temurun oleh pemandu haji dan umrah.
Bagi sebagian jemaah, kisah ini dianggap memiliki makna mendalam karena rumah musuh besar Rasulullah SAW justru berubah menjadi tempat yang dianggap paling rendah secara simbolis.
Meski kisah tersebut populer di kalangan jemaah, penting dipahami bahwa tidak semua titik sejarah di Makkah memiliki bukti arkeologis atau penanda resmi yang kuat.
Kota Makkah telah mengalami renovasi dan perluasan besar-besaran selama berabad-abad, terutama di kawasan Masjidil Haram.
Akibatnya, banyak situs bersejarah berubah bentuk bahkan hilang dari wujud aslinya.
Karena itu, sebagian riwayat mengenai lokasi rumah Abu Jahal lebih banyak hidup dalam tradisi lisan masyarakat dan cerita para pembimbing haji.
Pelajaran dari Kisah Abu Jahal
Terlepas dari perdebatan soal lokasi pastinya, kisah Abu Jahal menjadi pengingat tentang bagaimana kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran dapat menjatuhkan seseorang.
Abu Jahal adalah tokoh terpandang Quraisy dengan kekuasaan dan pengaruh besar. Namun namanya justru dikenang sepanjang sejarah sebagai simbol permusuhan terhadap Islam.
Sebaliknya, Rasulullah SAW yang dahulu dihina dan ditentang kini menjadi sosok yang dicintai miliaran umat manusia di seluruh dunia.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT tidak ditentukan oleh kekayaan, jabatan, atau keturunan, tetapi oleh iman dan ketakwaannya.
