MADANINEWS.ID, Madinah – Di antara peninggalan Rasulullah SAW yang paling dihormati dan terus terjaga hingga hari ini adalah mimbar beliau di Masjid Nabawi. Bangunan sederhana yang dulu dibuat untuk memudahkan beliau menyampaikan khutbah kini berdiri sebagai saksi abadi perjalanan dakwah di Madinah.
Mimbar ini bukan sekadar peralatan masjid. Ia adalah simbol kepemimpinan, pusat penyampaian wahyu, dan tempat Nabi SAW memandu umatnya. Meski bentuknya sudah beberapa kali mengalami penyesuaian seiring zaman, posisinya tetap dipertahankan di lokasi semula di area Rawdah Syarifah, sisi barat Masjid Nabawi.
Dari Batang Kurma ke Anak Tangga
Sejarah penggunaan mimbar dimulai pada tahun ke-8 Hijriah. Sebelum itu, Rasulullah SAW berkhutbah hanya dengan berdiri dan bersandar pada sebatang pohon kurma di dalam masjid. Namun, seiring bertambahnya jamaah dan masuknya banyak mualaf, kebutuhan akan tempat yang lebih tinggi tidak terhindarkan agar suara dan pandangan beliau menjangkau seluruh jamaah.
Atas usulan seorang perempuan Anshar, dibuatlah sebuah mimbar sederhana dari kayu Tamarix (kayu keras) yang dibawa dari daerah utara Madinah, wilayah yang kini disebut Al-Khalil. Mimbar itu terdiri atas tiga anak tangga. Sejak saat itulah Rasulullah SAW mulai menggunakan mimbar untuk khutbah.
Peristiwa menakjubkan terjadi ketika mimbar ini pertama kali digunakan. Batang kurma yang sebelumnya menjadi sandaran Rasulullah SAW mengeluarkan suara tangisan seperti anak kecil karena tidak lagi dipakai. Nabi pun turun dari mimbar, memeluk batang kurma itu hingga tangisannya berhenti.
Rasulullah SAW bersabda:
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya aku tidak mendekapnya, niscaya ia akan terus menangis hingga hari kiamat.” (HR. Bukhari)
Bentuk dan Keberadaan Mimbar di Masjid Nabawi
Kini, mimbar Nabi berdiri dengan tinggi sekitar lima meter. Di bagian atas pintu masuknya terukir kalimat tauhid:
“La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah.”
Mimbar dilengkapi dua anak tangga berlapis karpet, pintu dari kayu, serta pagar berlapis emas yang melindungi area sekitarnya. Imam masjid naik melalui tangga khusus setiap Jumat dan hari besar untuk menyampaikan khutbah.
Posisi mimbar berada di area yang sangat dimuliakan umat Islam, yakni Rawdah Syarifah—tempat di antara rumah Nabi dan mimbarnya. Rasulullah SAW bersabda:
“Salah satu taman dari taman-taman surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Makna Simbolik dan Perjalanan Panjang Mimbar Nabi
Mimbar bukan hanya sebuah struktur. Ia menjadi simbol nubuwah, kepemimpinan, ilmu, dan pusat pengarahan strategi umat. Dari tempat ini, Rasulullah SAW mengajarkan hukum, memberikan nasihat, dan memimpin umat Islam di Madinah.
Setelah beliau wafat, mimbar tetap dipakai oleh khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman dengan hanya penyesuaian kecil. Perubahan bentuk fisik baru terjadi di masa-masa setelahnya:
-
Era Muawiyah bin Abu Sufyan (Umayyah): mimbar ditinggikan dengan tambahan beberapa tingkat.
-
Masa Abbasiyah dan Mamluk: mimbar dipercantik dengan ornamen tanpa mengubah posisinya.
-
Zaman Ottoman: bahan kayu diganti dengan marmer dan dihiasi ukiran Islami.
-
Era modern Saudi: dibuat lebih besar dan kokoh untuk memenuhi kebutuhan jamaah yang terus bertambah, tetapi lokasi aslinya tidak dipindahkan.
Hingga saat ini, posisi asli mimbar Nabi tetap dijaga sebagai salah satu lokasi paling dimuliakan di Masjid Nabawi. Walaupun struktur fisik kini modern, titik bersejarah tempat Rasulullah SAW berdiri masih ditandai dengan penuh kehormatan.
Mimbar Nabi adalah pengingat kuat tentang pusat dakwah Islam yang mengubah arah sejarah dunia dari kota Madinah.
