Lebih Dekat Dengan Musyarakah Mutanaqishah

Penulis Abi Abdul Jabbar

Musyarakah Mutanaqishah (MMq) adalah akad yang sophisticated (canggih). Hal ini karena ia dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan dan produk perbankan syariah. Baik seperti misalnya: refinancing, working capital, take over, gabungan take over dan top up (refinancing), pengalihan hutang dari bank syariah ke bank syariah, restrukturisasi pembiayaan (konversi akad), capital expenditure (investasi), reimbursement, dan pembiayan konsumtif untuk KPRS.

Menurut Keputusan Dewan Syariah Nasional No.01/DSN-MUI/X/2013, Musyarakah Mutanaqishah adalah produk pembiayaan berdasarkan prinsip musyarakah, yaitu syirkatul ‘inan, yang porsi (hishshah) modal salah satu
syarik (Bank Syariah/LKS) berkurang disebabkan pengalihan komersial secara bertahap (naqlul hishshah bil ‘iwadh mutanaqishah) kepada syarik yang lain (nasabah).

The pet owners let her dog’s out around 8:00 p.m. and a minute later Carly started barking nonstop. Dooling went out to investigate and saw a man dragging her Newfoundland down her driveway.

Sedangkan tujuan dihadirkannya produk ini adalah untuk menyediakan fasilitas pembiayaan kepada nasabah
baik perorangan maupun perusahaan dalam rangka memperoleh atau menambah modal usaha atau aset (barang) berdasarkan sistem bagi hasil. Modal usaha yang dimaksud adalah modal usaha secara umum yang sesuai syariah. Aset (barang) yang dimaksud antara lain, namun tidak terbatas pada: Properti (baru/bekas), Kendaraan
bermotor (baru/bekas), atau barang lainnya yang sesuai syariah (baru/bekas).

Karakteristik Musyarakah Mutanaqishah

Secara umum, Musyarakah Mutanaqishah memiliki beberapa ciri. Ciri tersebut diantaranya adalah sebagai
berikut. Pertama. Modal usaha dari para pihak (Bank Syariah atau Lembaga Keuangan Syariah [LKS] dan nasabah)
harus dinyatakan dalam bentuk hishshah. Terhadap modal usaha tersebut dilakukan tajzi’atul hishshah, yaitu modal usaha dicatat sebagai hishshah (portion) yang terbagi menjadi unit-unit hishshah.
Kedua. Modal usaha yang telah dinyatakan dalam hishshah tersebut tidak boleh berkurang selama akad berlaku secara efektif. Ketiga. Adanya wa’d (janji). Di sini, Bank Syariah/LKS berjanji untuk mengalihkan seluruh hishshahnya secara komersial kepada nasabah dengan bertahap.

Keempat. Adanya pengalihan unit hishshah. Dimana pada setiap penyetoran uang oleh nasabah kepada Bank Syariah/LKS, maka nilai yang jumlahnya sama dengan nilai unit hishshah, secara syariah dinyatakan sebagai pengalihan unit hishshah Bank Syariah/LKS secara komersial (naqlul hishshah bil ‘iwadh), sedangkan nilai yang jumlahnya lebih dari nilai unit hishshah tersebut, dinyatakan sebagai bagi hasil yang menjadi hak Bank
Syariah/LKS.

Musyarakah Mutanaqishah Sebagai Hybrid Contract Secara umum, Musyarakah Mutanaqishah merupakan sebuah hybrid contract karena mengandung banyak akad. Ia merupakan produk turunan dari akad musyarakah, yang merupakan bentuk akad kerjasama antara dua pihak atau lebih. Akad yang membentuk Musyarakah Mutanaqishah di antaranya adalah syirkah inan, ba’i, dan ijarah.

Dalam akad Musyarakah Mutanaqishah nasabah sebenarnya hanya membayar cicilan pokok selama pengalihan kepemilikan. Di sini, nasabah saat menggunakan aset tersebut, ia bersinggungan dengan akad ijarah, sebab bank menyewakan bagian kepemilikannya kepada nasabah. Dari akad ijarah ini, terdapat pendapatan sewa yang dibagi sesuai porsi kepemilikan. Porsi bank masuk sebagai pendapatan untuk bank, sedangkan bagian pendapatan sewa nasabah akan digunakan untuk membeli kepemilikan aset dari bank. Asset Musyarakah Mutanaqishah bisa juga disewakan ke pihak ketiga atas kesepakatan pihak bank dan nasabah. Pendapatan sewa akan dibagi berdasar
porsi kepemilikan asset. Di akad Musyarakah Mutanaqishah ini, juga tidak terdapat double pricing. Hal ini terjadi karena saat pengalihan kepemilikan asset, tidak ada margin yang ditambahkan dalam aset. Pendapatan
bank murni hanya dari ujrah (upah sewa) saja.

“Secara umum, Musyarakah Mutanaqishah merupakan sebuah hybrid contract karena mengandung banyak akad. Ia merupakan produk turunan dari akad musyarakah, yang merupakan bentuk akad kerjasama antara dua pihak atau lebih.”

Aplikasi Dan Keuntungan Musyarakah Mutanaqishah

Dalam Perbankan Salah satu contoh aplikasi
Musyarakah Mutanaqishah dalam perbankan, adalah untuk pembiayaan take over dan top up sekaligus. Pelaksanaan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut.

Seorang nasabah menjalin kerjasama dengan bank syariah, untuk melakukan pembiayaan dengan akad Musyarakah Mutanaqishah sebesar Rp 420 juta. Nasabah tersebut di kemudian hari kemudian meminta tambahan pembiayaan sebesar Rp 100 juta. Untuk hal tersebut, bank dapat memberi pembiayaan nasabah sebesar Rp 520 juta, jadi Rp 420 juta dimasukkan ke bank sebelumnya untuk takeover dan Rp 100 juta untuk nasabah, jadi bisa takeover dan top up sekaligus dengan akad Musyarakah Mutanaqisah.

Dengan kemampuan aplikasi tersebut, Musyarakah Mutanaqisah menjadi lebih unggul dibanding akad yang lain. Secara umum, keunggulan Musyarakah Mutanaqisah dibandingkan akad lainnya adalah sebagai berikut.
Musyarakah Mutanaqisah sangat cocok untuk waktu pembiayaan yang panjang, melebihi 10 tahun. Keuntungan bank bukan ditentukan oleh besarnya cicilan tapi oleh besaran sewa. Dengan waktu yang panjang, besaran cicilan akan rendah, sedangkan besaran sewa bisa disesuaikan untuk kurun waktu tertentu.

Keunggulan lainnya adalah adanya kepemilikan bersama suatu barang, menjadikan bank syariah maupun
nasabah sama-sama melakukan penjagaan akan barang tersebut. Adanya bagi hasil antara kedua pihak atas margin sewa yang telah ditentukan pada barang tersebut. Adanya ruang negoisasi, dimana kedua pihak dapat menyepakati perubahan harga sewa seiring dengan harga pasar yang berlaku. Terakhir, tidak terpengaruh fluktuasi bunga pasar seperti halnya pada bank konvensional dan tak terpengaruh fluktuasi harga saat inflasi.

Agustianto Mingka.
Ketua I Ikatan Ahli Ekonomi Islam, Dosen Pascasarjana UI, Dosen Program S2 Magister Ekonomi IEF Trisakti dan Magister Managemen Bisnis dan Keuangan Islam Univ. Paramadina.

 

BACA JUGA

1 komentar

Hendarto 11 June 2020 - 9:14 pm

Asslmkum ww ..

Mhn info tambahan dengan penggunaan akad ini
Apakah ada peluang dari nasabah untuk mengurangi porsi kepemilikan bank di luar jadwal . Atau kalau di bank konven ada pelunasan dipercepat atau pembayaran pokok yg lebih besar dari jadwal angsuran untuk memperkecil pokok yg ada.
Syukron.

Balas

Tinggalkan komentar