Masjid Qiblatain, Masjid Dua Kiblat

Penulis Abi Abdul Jabbar

Sebagian besar umat Islam, tentu mengenal nama Masjid Qiblatain, yaitu satu-satunya masjid di dunia yang memiliki dua arah kiblat. Kiblat pertama mengarah ke masjid al-Aqsha (baitul Maqdis), di Yerusalem (Palestina) dan kedua mengarah ke Baitullah (Ka’bah), Masjid al-Haram di Makkah. Perubahan ini berdasarkan perintah Allah Swt sebagaimana tercantum dalam QS Al-Baqarah ayat 144. Secara tegas, ayat ini menerangkan perintah kepada Nabi Muhammad Saw untuk memalingkan wajah (kiblat)-nya ke arah masjidil Haram. Awalnya, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Rasulullah Saw menghadap ke Al-Quds (Al-Aqsha) ketika melaksanakan shalat semasa di Madinah. Menurut Imam Nawawi, perubahan ini terjadi pada hari nisfu Sya’ban (hari ke lima belas) tahun kedua Hijriyah.

Melaksanakan shalat dengan menghadap ke Al-Quds itu berlangsung selama lebih kurang 16-17 bulan, sebelum datang perintah untuk memalingkan arah kiblat ke Ka’bah, Masjidil Haram. Namun, Rasulullah Saw menginginkan kiblatnya umat Islam, sama seperti kiblatnya Nabi Adam Alaihissalam dan Nabi Ibrahim Alaihissalam. Rasulullah berharap, Allah mengabulkan permohonannya. Karena itu, Rasul senantiasa menengadahkan wajahnya ke langit dengan harapan turun wahyu yang memerintahkan mengalihkan arah kiblat dari Masjid Al-Aqsha ke Masjidil Haram.

Hingga akhirnya turunlah wahyu, sebagaimana tersebut diatas. Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS, juga menjadikan Ka’bah (Baitullah) sebagai kiblat. Sedangkan Al-Quds ditetapkan sebagai kiblat hanya untuk sebagian para Nabi dari bangsa Israel. Dan para Nabi itu ketika shalat di dalam Al-Quds, biasa menghadap

pada arah sedemikian rupa sehingga kedua-duanya, Al-Quds dan Baitullah di Makkah, saling berhadapan. Ketika QS Al-Baqarah ayat 144 turun, Rasulullah baru melaksanakan shalat dua rakaat. Kemudian, dengan turunnya ayat itu, maka beliau segera menghentikan shalat sebentar, kemudian Rasulullah berputar 180 derajat menghadap arah baru, sehingga jamaah yang ikut shalat itu terpaksa jalan memutar dan tetap berada di belakang Nabi. Dan akibat perubahan arah kiblat ini, kaum Yahudi dan Nasrani memperolok-olok umat Islam. Namun, dalam hati kecilnya, mereka khawatir perubahan kiblat itu justru menunjukkan adanya perbedaan diantara Islam dan Yahudi, khususnya.

Sebab, sebelumnya kaum Muslim sedikit banyak bisa diterima Yahudi. Dengan perubahan arah kiblat ini, menandakan kaum Muslim adalah suatu bangsa atau kelompok lain yang terpisah dengan mereka. Karenanya, bangsaYahudi meningkatkan perlawanan terhadap umat Islam dan menghormati musuh Islam. Sebagaimana diterangkan dalam QS Al-Baqarah ayat 143, sebenarnya perpindahan arah kiblat itu memang dimaksudkan untuk memisahkan antara orang munafik dari kaum Muslim dengan orang-orang yang tulus dan ikhlas.

‘’Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi pentunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.’’

Renovasi Masjid Qiblatain

Dari masa ke masa, Masjid Qiblatain telah mengalami pemugaran beberapakali. Renovasi pertama dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman, yakni sekitar tahun 893 Hijriyah atau 1543 Masehi. Renovasi Masjid Qiblatain yang paling signifikan terjadi pada tahun 1987, ketika masa pemerintahan Raja Fahd. Perluasan dan pembaharuan konstruksi dilakukan pada masa itu demi menciptakan kenyamanan para peziarah yang datang. Meski begitu, ciri khas Masjid Qiblatain yang memiliki dua mihrab di dalamnya, yakni yang menghadap Baitul Maqdis dan Masjidil Haram, tidak hilang sama sekali. Ruang mihrab Masjid Qiblatain memiliki konstruksi geometri ortogonal yang ditegaskan dengan keberadaan menara dan kubah kembar.

Kubah utama menandakan arah kiblat utama yang menghadap Masjidil Haram, sedangkan kubah kedua menghadap  menunjukkan arah kiblat palsu yang dahulu menjadi arah para umat Muslim ketika mengerjakan salat. Di antara kubah tersebut terdapat garis silang yang menandakan proses perpindahan arah kiblat. sementara, di bawahnya terdapat sebuah miniatur mihrab tua yang menyerupai ruang kubah batu di Yerusalem. Jika masuk ke dalam, kita bisa melihat sendiri bekas tempat imam salat. Tempat imam salat yang dulu dipakai saat kiblat menghadap Baitul Maqdis berupa pasir dan tidak ada sajadah.

Sebaliknya, tempat salat imam yang sekarang telah memiliki mimbar khusus lengkap dengan sajadahnya. Saat ini, Masjid Qiblatain menjadi salah satu tempat persinggahan wajib umat muslim yang sedang wisata religi ke Madinah. Mereka ingin melihat secara langsung saksi bisu perpindahan arah kiblat. Mihrab yang menghadap Baitul Maqdis tetap dipertahankan demi menjadi penanda bahwa peristiwa berubahnya arah kiblat merupakan titik balik kebangkitan umat Muslim yang menegaskan perbedaannya dengan umat-umat sebelumnya. (Dari Pelbagai Sumber)

BACA JUGA

Tinggalkan komentar