MADANINEWS.ID, JAKARTA – Penyelenggaraan Haji 1447 H diarahkan lebih protektif bagi jemaah lanjut usia dan berisiko tinggi. Pemerintah menyiapkan rangkaian kebijakan yang menitikberatkan pada kesiapan kesehatan sejak keberangkatan hingga pengelolaan mobilitas saat puncak ibadah di Tanah Suci.
Kementerian Haji dan Umrah menegaskan penguatan istithaah kesehatan serta optimalisasi skema Tanazul dan Murur sebagai instrumen utama perlindungan jemaah rentan. Kebijakan ini dirancang untuk menekan risiko kelelahan ekstrem dan gangguan kesehatan, terutama pada fase krusial ibadah haji.
Kesehatan Jadi Fondasi Sejak dari Tanah Air
Menteri Haji dan Umrah RI, Moch. Irfan Yusuf, menekankan bahwa perlindungan jemaah—khususnya lansia dan jemaah risiko tinggi—menjadi prioritas pemerintah pada penyelenggaraan haji tahun ini.
“Perlindungan jemaah, khususnya lansia dan risti, adalah prioritas utama kami pada penyelenggaraan haji tahun ini,” tegasnya dalam forum Saudi–Indonesian Umrah Co.Exchange di Makkah (16/02/2026).
Ia menambahkan, istithaah kesehatan harus diposisikan sebagai fondasi keselamatan, bukan sekadar persyaratan administratif.
“Istithaah kesehatan adalah fondasi utama. Kita ingin memastikan jemaah yang berangkat benar-benar siap secara fisik, terkontrol penyakit penyertanya, serta memahami risiko perjalanan ibadah,” lanjutnya.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah memperketat skrining kesehatan, pengawasan komorbid, serta edukasi kebugaran bagi calon jemaah. Pendekatan preventif ini diarahkan untuk menekan jumlah jemaah risiko tinggi sebelum keberangkatan.
Langkah tersebut diharapkan memastikan kesiapan fisik jemaah sejak awal, sekaligus meminimalkan potensi gangguan kesehatan selama rangkaian ibadah.
Murur dan Tanazul untuk Kurangi Beban Fisik
Di Arab Saudi, penguatan perlindungan kesehatan dilanjutkan melalui pengelolaan mobilitas jemaah pada fase puncak. Indonesia menekankan optimalisasi skema Murur dan Tanazul sebagai langkah strategis mengurangi kelelahan dan kepadatan.
Skema Murur memungkinkan jemaah lansia dan risiko tinggi melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bus, sehingga menekan beban fisik. Sementara Tanazul memberi opsi sebagian jemaah kembali lebih awal ke hotel setelah melontar jumrah untuk mengurangi kepadatan di Mina.
“Murur dan Tanazul bukan hanya solusi teknis, tetapi bentuk keberpihakan pada jemaah rentan. Prinsipnya, ibadah harus sah sekaligus aman dan manusiawi,” ujar Menhaj.
Kesiapsiagaan Medis di Jalur Jamarat
Sebagai penguatan tambahan, Indonesia juga mengusulkan kesiapsiagaan dukungan medis di jalur menuju Jamarat. Usulan ini ditujukan untuk mempercepat respons pada kondisi darurat saat puncak lempar jumrah.
“Kita ingin menggeser pendekatan dari reaktif menjadi preventif. Jangan menunggu jemaah sakit, tetapi pastikan mereka tetap sehat selama menjalankan ibadah,” pungkasnya.
Dengan penguatan istithaah kesehatan, optimalisasi Tanazul–Murur, serta koordinasi kesehatan lintas negara, pemerintah optimistis penyelenggaraan Haji 1447 H dapat berlangsung lebih tertib, aman, dan berorientasi pada keselamatan serta kenyamanan jemaah.
