MADANINEWS.ID, Mekkah – Menjelang musim haji 2025, Pemerintah Arab Saudi menerapkan pengamanan super ketat. Pemeriksaan dilakukan sejak pintu masuk Kota Mekkah, Sabtu (31/5), bahkan hingga ke pelosok gurun pasir. Salah satu bentuk pengetatan adalah razia besar-besaran terhadap jamaah haji ilegal yang tidak memiliki visa haji resmi.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan mencapai 50 meter di gerbang perbatasan Mekkah dari arah Jeddah. Polisi menghentikan setiap kendaraan untuk memeriksa dokumen jamaah. Tidak ada pemeriksaan STNK atau SIM seperti di Indonesia, melainkan pemeriksaan visa haji.
Seorang kru bus yang membawa jamaah dari berbagai negara mengingatkan, “Visa-nya harus sudah dibuka ya, sebelum polisi datang.” Dua polisi berseragam coklat dengan rompi “police” masuk ke dalam bus. Satu memeriksa dari depan, satu lagi dari belakang. Sebagian penumpang menunjukkan visa dalam bentuk cetak, lainnya dari ponsel.
Pemeriksaan berjalan cepat. Hanya beberapa visa yang dibaca dengan seksama, sisanya diperiksa sekilas. Tak sampai 15 menit, bus berisi 35 penumpang itu kembali melaju menuju Mekkah.
83 Persen Korban Meninggal Tahun Lalu adalah Haji Ilegal
Pemerintah Arab Saudi memang getol memberantas haji ilegal. Tahun lalu, dari total 1.301 jamaah yang wafat, sebanyak 83 persen merupakan jamaah ilegal. Mayoritas meninggal karena kelelahan dan tak memiliki tempat berteduh dari panas ekstrem.
Tahun ini, penertiban makin digencarkan. Pemeriksaan dilakukan tak hanya di pintu masuk, tapi juga di sekitar Masjidil Haram, hotel, penginapan, hingga padang pasir. Jalur tikus di gurun pun tak luput dari pantauan udara.
Fakta ini terbukti ketika pada 27 Mei, aparat keamanan Saudi menemukan tiga Warga Negara Indonesia (WNI) di wilayah gurun Jumum, Mekkah. Ketiganya mengalami dehidrasi parah. Salah satu dari mereka, SM, ditemukan sudah tidak bernyawa.
“Satu WNI atas nama SM ditemukan telah meninggal dunia, sementara dua WNI lainnya atas nama J dan S, berhasil diselamatkan,” kata Konsul Jenderal RI di Jeddah, Yusron B Ambary, saat dihubungi dari Jakarta, Ahad (1/6).
Menurut Yusron, sebelumnya SM bersama 10 WNI lainnya tertangkap razia karena mencoba berhaji dengan visa nonhaji dan dipulangkan ke Jeddah. Namun SM, J, dan S kembali mencoba masuk ke Mekkah lewat jalur gurun menggunakan taksi gelap.
“Dalam upayanya mencoba masuk kota Mekkah secara ilegal tersebut, ketiga WNI tiba-tiba dipaksa untuk turun di tengah gurun oleh supir taksi karena takut tertangkap patroli aparat keamanan Arab Saudi,” jelas Yusron.
Ketiganya ditemukan melalui patroli udara menggunakan drone. SM ditemukan sudah meninggal, sementara dua lainnya dirawat di rumah sakit dan kemudian kembali diusir ke Jeddah.
Ribuan Pasukan Dikerahkan, Simulasi Bom Hingga Helikopter Disiapkan
Tak hanya soal razia, Saudi juga menggelar apel pengamanan berskala besar. Ribuan pasukan dikerahkan dalam apel yang berlangsung Sabtu malam (31/5) di Padang Arafah, Mekkah. Tempat ini akan menjadi lokasi puncak ibadah haji, wukuf, yang dijadwalkan berlangsung Kamis (5/6).
Apel ini dipimpin langsung oleh Menteri Dalam Negeri Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Saud bin Naif bin Abdulaziz. Pasukan keamanan menunjukkan berbagai simulasi, termasuk respons terhadap ledakan di gedung bertingkat dan pengejaran pelaku kejahatan di jalan raya.
Ada demonstrasi aksi personel bersenjata yang melompat dari kendaraan, memanjat tangga truk, hingga helikopter yang mampu mendarat di ruang sempit antara tiang-tiang lampu.
Pasukan yang terlibat meliputi kepolisian, militer, pemadam kebakaran, tim medis, tim SAR, dan unit anti-teror. Semua dilibatkan untuk mengamankan sekitar dua juta jamaah haji dari berbagai penjuru dunia.
Dengan langkah-langkah ekstrem ini, Saudi ingin memastikan pelaksanaan haji 1446 H bebas dari gangguan—baik yang bersifat administratif seperti jamaah ilegal, maupun ancaman serius seperti aksi terorisme.
Wilayah strategis seperti Arafah, Muzdalifah, Mina, hingga Masjidil Haram kini dalam penjagaan ketat. Pemeriksaan identitas, patroli rutin hingga udara, serta kesiapsiagaan darurat, menjadi bagian dari skenario pengamanan komprehensif.
Targetnya jelas: haji yang aman, tertib, dan tanpa insiden.
