IBADAH.ID, Tangerang-Penyebaran dan penyusupan paham radikal di Indonesia dianggap makin mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir dan harus diambil langkah-langkah komprehensif untuk meredamnya. Bahkan paham radikal sudah mulai masuk ke berbagai institusi pendidikan di tanah air.
Bukan tanpa alasan, berdasarkan rilis Badan Intelejen Negara (BIN) pada bulan April 2018 menginformasikan bahwa sebanyak 39 persen mahasiswa di Indonesia terpapar radikalisme. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada bulan Mei 2018 lalu juga merinci lebih detail persebarannya pada beberapa perguruan tinggi. Menurutnya, setidaknya sebanyak 7 Perguruan Tinggi yang terindikasi terpapar radikalisme.
Merespon data tersebut, Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama menuturkan pemerintah akan meredesain program-program di berbagai institusi pendidikan untuk untuk mencegah tumbuhnya pemahaman radikal. Salah satu yang ditawarkan adalah program kemitraan dengan pimpinan Fakultas Tarbiyah pada PTKI yang memiliki program studi PAI untuk membuat laboratorium PAI pada sekolah-sekolah umum.
“Apa yang terjadi saat ini adalah investasi 10 – 20 tahun yang lalu, dan apa yang kita lakukan saat ini dampaknya baru bisa dirasakan 10-20 tahun yang akan datang,” kata Imam saat Rapat Kerja Penyusunan Program, Kegiatan dan Anggaran PAI di Tangerang, Selasa (03/07/2018).
Imam memaparkan ada beberapa model yang akan ditawarkan Direktorat PAI Kemenag. Di antaranya adalah program kemitraan pengembangan model PAI multikultural, membuat pusat data dan sumber belajar berbasis moderasi keberagamaan, pengembangan digital library dan sejenisnya.
Ia juga mendorong agar penyelenggaraan praktik lapangan di fakultas tarbiyah dilakukan secara berkelanjutan dan diarahkan menyentuh daerah-daerah yang disinyalir kekurangan guru agama atau di daerah-daerah yang direkomendaskan oleh BNPT sebagai wilayah yang berpotensi radikalisme tumbuh subur.
Sebagaimana diinformasikan sebelumnya, bahwa kekurangan guru PAI secara nasional hampir mencapai angka 27.000. “Jika PPL secara berkelanjutan dan berkesinambungan dilakukan oleh fakultas-fakultas tarbiyah, problem kekurangan guru teratasi dalam kisaran 10 s/d 15%,” pungkasnya.
