Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Cara Sahabat Mengajarkan Anak Berpuasa dengan Penuh Kelembutan

Abi Abdul Jabbar Sidik
2 March 2026 | 16:19
rubrik: Gaya Hidup, Keluarga
Tips Mengajari Anak Berpuasa Sejak Dini

Ilustrasi Anak Berpuasa. (foto:dok/ist)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, JAKARTA – Setiap Ramadan, suasana rumah-rumah Muslim berubah. Jadwal makan bergeser, ritme harian melambat, dan ibadah menjadi pusat aktivitas. Di tengah suasana itu, muncul satu pertanyaan yang kerap dihadapi orang tua: bagaimana mengenalkan puasa kepada anak tanpa membuatnya merasa terbebani?

Islam memang tidak mewajibkan puasa bagi anak yang belum baligh. Namun, para sahabat Nabi telah memberi teladan bagaimana menanamkan kecintaan pada puasa sejak dini, bukan dengan paksaan, melainkan dengan kelembutan dan kebijaksanaan.

Puasa sebagai Jalan Menuju Takwa

Puasa Ramadhan adalah ibadah wajib bagi kaum Muslimin. Kewajiban ini ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:

“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

Puasa melatih manusia menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu sejak fajar hingga magrib. Lebih dari itu, puasa mengajarkan pengendalian emosi, keikhlasan, dan kerendahan hati—nilai-nilai yang justru penting dikenalkan sejak masa kanak-kanak.

Anak Tidak Wajib, Tapi Perlu Dibiasakan

Meski syariat tidak mewajibkan anak-anak untuk berpuasa, para ulama menganjurkan orang tua mengenalkan puasa secara bertahap. Tujuannya bukan agar anak langsung kuat berpuasa penuh, melainkan agar tubuh dan jiwanya belajar menyesuaikan diri.

Orang tua juga perlu memahami satu prinsip penting: tidak memaksakan anak untuk bertahan hingga magrib. Jika anak sudah tidak kuat, ia boleh berbuka. Memberi tekanan, bahkan dengan dalih pahala besar, justru berisiko membuat anak memandang ibadah sebagai beban.

Teladan Sahabat dalam Mengajarkan Puasa

Cara bijak mengajarkan anak berpuasa telah dicontohkan para sahabat Nabi. Hal ini diriwayatkan oleh al-Rubayyi’ binti Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha:

See also  MUI Terbitkan 6 Rekomendasi Panduan Ibadah Ramadhan saat Pandemi Corona

عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ قَالَتْ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ الَّتِى حَوْلَ الْمَدِينَةِ «مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ» فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ. رواه البخاري

Dalam riwayat ini diceritakan, pada masa ketika puasa Asyura masih diwajibkan, Nabi SAW mengumumkan agar siapa pun yang telah berniat puasa menyempurnakannya. Para sahabat pun ikut berpuasa dan mengajak anak-anak mereka yang masih kecil.

Ketika anak-anak menangis karena lapar, para sahabat memberi mereka mainan dari bulu untuk mengalihkan perhatian hingga waktu berbuka tiba. Tidak ada paksaan, tidak ada ancaman—yang ada adalah kelembutan dan kreativitas.

Mainan dan Hadiah sebagai Sarana Pendidikan

Riwayat lain menguatkan metode ini:

وَحَدَّثَنَاهُ يَحْيَى بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا أَبُو مَعْشَرٍ الْعَطَّارُ عَنْ خَالِدِ بْنِ ذَكْوَانَ قَالَ سَأَلْتُ الرُّبَيِّعَ بِنْتَ مُعَوِّذٍ عَنْ صَوْمِ عَاشُورَاءَ قَالَتْ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رُسُلَهُ فِى قُرَى الأَنْصَارِ. فَذَكَرَ بِمِثْلِ حَدِيثِ بِشْرٍ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَنَصْنَعُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ فَنَذْهَبُ بِهِ مَعَنَا فَإِذَا سَأَلُونَا الطَّعَامَ أَعْطَيْنَاهُمُ اللُّعْبَةَ تُلْهِيهِمْ حَتَّى يُتِمُّوا صَوْمَهُمْ. رواه البخاري ومسلم

Dari riwayat ini, para ulama menyimpulkan bahwa mengalihkan perhatian anak dengan permainan atau memberikan hadiah diperbolehkan sebagai sarana pendidikan. Sebagian orang tua melatih anak berpuasa setengah hari, sebagian lainnya menggunakan pendekatan hadiah agar anak termotivasi.

Hadiah, Tapi Niat Tetap Ibadah

Pandangan ini juga sejalan dengan pendapat Buya Yahya. Menurutnya, memberi hadiah kepada anak dalam rangka mengajarkan ibadah diperbolehkan, selama orang tua menanamkan niat bahwa ibadah dilakukan semata-mata karena Allah SWT.

See also  Jangan Sepelekan! 4 Hal ini Bisa Merusak Pahala Puasa

Tugas orang tua adalah membiasakan anak berbuat baik, menanamkan iman, dan menjelaskan bahwa setiap kebaikan akan membuahkan hasil. Ketika anak tumbuh dewasa, ia tidak lagi bergantung pada hadiah duniawi, melainkan merindukan pahala dan ridha Allah.

Pujian atas proses, bukan hanya hasil, juga menjadi bagian penting dari pendidikan ini.

Mengajarkan anak berpuasa, sebagaimana dicontohkan para sahabat, bukan tentang seberapa lama anak menahan lapar. Lebih dari itu, ia adalah proses menanamkan cinta pada ibadah—dengan kesabaran, kelembutan, dan keteladanan.

Wallahu a’lam.

Tags: parenting islamiPendidikan Islampuasapuasa anakRAMADHANSahabat Nabi
Previous Post

Jalan Menuju Ridha Allah di Bulan Ramadhan Menurut KH Quraish Shihab

Next Post

Cegah Jemaah Tersesat, Masjid Nabawi Kini Dilengkapi Peta Digital

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks