Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Jalan Menuju Ridha Allah di Bulan Ramadhan Menurut KH Quraish Shihab

Abi Abdul Jabbar Sidik
2 March 2026 | 15:04
rubrik: Islamika, Renungan Hati
Jalan Menuju Ridha Allah di Bulan Ramadhan Menurut KH Quraish Shihab

Quraish Shihab. (foto:ist/dok)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, JAKARTA – Bagi banyak Muslim, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah yang padat ritual, tetapi momentum paling menentukan dalam perjalanan spiritual: apakah amal diterima, dan lebih dari itu, apakah Allah meridhainya. Sebab, diterimanya amal belum tentu beriringan dengan ridha Allah, sementara ridha-Nya adalah puncak dari seluruh pengabdian manusia.

Dalam berbagai penjelasannya, Quraish Shihab mengajak umat Islam memandang Ramadhan secara lebih mendalam. Puasa, menurutnya, bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, melainkan proses meneladani sifat-sifat Allah SWT sesuai kemampuan manusia. Dari sanalah jalan menuju ridha Allah dibuka.

Puasa sebagai Latihan Meneladani Sifat Allah

Quraish Shihab menjelaskan bahwa puasa pada hakikatnya adalah latihan spiritual untuk meniru sifat Allah SWT dalam batas kemanusiaan. Manusia memiliki kebutuhan fa’ali—makan, minum, dan hubungan suami istri—yang masih bisa ditangguhkan dalam waktu tertentu. Berbeda dengan bernapas, yang sama sekali tak bisa ditinggalkan.

Allah SWT, jelasnya, tidak makan, tidak minum, dan tidak memiliki pasangan. Karena itu, melalui puasa, manusia dilatih untuk menahan kebutuhan-kebutuhan tersebut dalam rentang waktu tertentu, dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Waktu ini, menurut Quraish Shihab, telah diukur oleh Allah sesuai kemampuan rata-rata manusia, meski pada praktiknya ada wilayah yang durasi puasanya lebih panjang.

Namun, yang lebih penting dari sekadar aspek hukum adalah substansi puasa itu sendiri: meneladani sifat-sifat Allah SWT.

Meneladani Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Kaya

Puasa tidak berhenti pada menahan diri secara fisik. Dalam dimensi yang lebih dalam, Ramadhan adalah latihan meneladani sifat Allah SWT: Maha Pemaaf, Maha Mengetahui, Maha Menahan Amarah, Maha Dermawan, hingga Maha Kaya.

Kekayaan Allah, kata Quraish Shihab, bukanlah kekayaan materi, melainkan karena Allah tidak membutuhkan apa pun. Sementara manusia, meski memiliki harta berlimpah, sering kali tetap merasa kekurangan.

See also  Hukum Berpuasa Bagi Perempuan Hamil dan Ibu Menyusui

Dalam perspektif agama, ghaniyy bagi manusia justru berarti sedikit kebutuhannya. Semakin sedikit kebutuhan seseorang, semakin dekat ia pada makna kaya yang sejati. Inilah pelajaran mendalam yang hendak ditanamkan Ramadhan: membebaskan diri dari ketergantungan berlebihan pada dunia.

Fenomena sosial pun menunjukkan paradoks ini. Banyak orang berharta namun miskin jiwa, dan tidak sedikit pula yang serba kekurangan tetapi enggan meminta-minta. Gambaran ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 273:

لِلْفُقَرَاۤءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الْاَرْضِۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْۚ لَا يَسْـَٔلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَافًاۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌࣖ ۝٢٧٣

Artinya:

“(Apa pun yang kamu infakkan) diperuntukkan bagi orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah dan mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahuinya mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari mengemis. Engkau (Nabi Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya (karena) mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Tahu tentang itu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 273).

Empat Amalan Menuju Ridha Allah

Quraish Shihab juga mengutip pesan Rasulullah SAW menjelang datangnya Ramadhan. Nabi menyebutkan bahwa di bulan ini ada empat hal yang dianjurkan untuk dilakukan. Dua di antaranya mendatangkan ridha Allah, dan dua lainnya jangan sampai ditinggalkan.

Dua amalan yang membuat Allah ridha adalah bersyahadat dan memohon ampunan (istighfar). Sedangkan dua lainnya adalah memohon surga dan memohon perlindungan dari neraka.

Tak heran jika tradisi kaum Muslim terdahulu menjelang berbuka puasa kerap membaca doa:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْأَلُكَ الجَنَّةَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Artinya:

“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku memohon ampunan pada Allah, aku meminta surga dan meminta perlindungan dari neraka.”

Namun, Quraish Shihab mengingatkan bahwa doa ini bukan sekadar bacaan lisan. Di baliknya terdapat makna yang sangat dalam, yang menuntut kesadaran dan pembenahan iman.

See also  Menyelami Makna Takwa

Memperbarui Iman dengan Syahadat

Rasulullah SAW pernah bersabda:

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Artinya:

“Rasulullah SAW bersabda: ‘Perbaharuilah iman kalian.’ Lalu ditanyakan kepada beliau, ‘Bagaimana kami memperbaharui iman kami wahai Rasulullah?’ Nabi menjawab, ‘Perbanyaklah mengucapkan La ilaha illallah.’” (HR. Ahmad).

Menurut Quraish Shihab, La ilaha illallah bukan sekadar penafian sesembahan selain Allah, melainkan penegasan bahwa penguasa mutlak alam semesta dan kehidupan manusia hanyalah Allah SWT. Keyakinan ini harus mengalir dalam darah dan pikiran, sebagaimana keteguhan iman Rasulullah SAW dalam berbagai peristiwa hidupnya.

Menyambut Lailatul Qadar dengan Kesiapan Jiwa

Ramadhan juga menghadirkan tamu agung bernama Lailatul Qadar. Quraish Shihab menegaskan, malam ini tidak datang secara kebetulan. Ia hanya menghampiri orang-orang yang siap menyambutnya.

Kesiapan itu, menurutnya, bukan dibangun dalam satu malam, apalagi satu jam. Ia harus dipersiapkan sejak awal Ramadhan—dengan memperbanyak syahadat, istighfar, dan amal-amal saleh. Sebab, iman manusia tidak selalu murni. Kerap kali muncul lintasan hati, protes batin, atau rasa ketidakpuasan terhadap takdir, yang perlahan menggerus makna tauhid.

Ramadhan, pada akhirnya, adalah ruang pembersihan itu. Ruang untuk menata ulang iman, meneladani sifat-sifat Allah, dan menapaki jalan menuju ridha-Nya.

Wallahu a’lam.

Tags: berkah ramadhankh quraish shihabRAMADHANridha allah
Previous Post

Jangan Sepelekan! 4 Hal ini Bisa Merusak Pahala Puasa

Next Post

Cara Sahabat Mengajarkan Anak Berpuasa dengan Penuh Kelembutan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks