MADANINEWS.ID, TANGERANG – Kepala Badan Penyelenggara Haji (BPH), Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, menegaskan pentingnya evaluasi sebagai langkah kolektif memperbaiki layanan haji. Ia menekankan setiap kelebihan dalam penyelenggaraan haji akan diterima sebagai motivasi, sedangkan kekurangan akan diperbaiki.
“Begitu pentingnya acara ini. Ini menjadi titik tolak kami. Kekurangan sekecil apapun akan kami perbaiki. Dan kelebihan, sekecil apapun, akan kami terima sebagai penyemangat,” ujar Gus Irfan dalam sambutan pembukaan Rakernas Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 1446 H/2025 M di Atria Hotel, Tangerang, Senin (28/7/2025).
Evaluasi Jadi Muhasabah, Bukan Cari Salah
Dalam forum yang dihadiri pemangku kepentingan haji, Gus Irfan menyebut evaluasi harus dijadikan ruang muhasabah. Ia juga menyoroti masukan dari Kedutaan Arab Saudi dan Tim Pengawas Haji DPR RI.
Menurutnya, tema legacy dalam Rakernas dimaknai sebagai amanah untuk memastikan pelayanan terbaik bagi jemaah.
“Seperti tema acara kali ini ada kata legacy, Legacy bagi saya adalah amanah. Tanggung jawab yang diberikan oleh Presiden adalah untuk memastikan pelayanan terbaik bagi jemaah haji Indonesia,” ujarnya.
Rakernas juga jadi ajang sosialisasi arah kebijakan ke depan, termasuk proses pengalihan kewenangan haji pada 2026.
“Kalau 2025 adalah tahun transisi, maka 2026 adalah tahun pengalihan. Pengalihan ini mencakup banyak hal, termasuk pengalihan SDM,” jelas Gus Irfan.
Ia menambahkan proses panjang yang telah dijalani menjadi dasar pembenahan ke depan.
“Ini bukan proses instan. Butuh waktu. Tapi kami berkomitmen untuk terus melangkah dengan tanggung jawab dan keterbukaan,” pungkasnya.
Formula 5BPH dan Terobosan Haji 2025
Sebelumnya, dalam penutupan operasional haji di Jakarta, 14 Juli 2025, Menteri Agama memaparkan keberhasilan penyelenggaraan haji tahun ini dengan formula 5B-5P-5H atau 5 BPH.
Lima terobosan (5B) antara lain: penurunan rata-rata BPIH dari Rp93,4 juta menjadi Rp89,4 juta; pencegahan monopoli dengan melibatkan delapan syarikah; publikasi awal daftar jemaah haji khusus berhak lunas; pembayaran Dam melalui Adahi dan Baznas; serta pelibatan tiga maskapai (Garuda Indonesia, Saudi Arabia Airlines, Lion Air).
Sementara itu, lima progresif (5P) mencakup peningkatan ekspor bumbu Nusantara 450 ton, pengembangan skema murur, optimalisasi Kawal Haji, Fast Track di tiga embarkasi, dan pengembangan Siskohat.
Adapun lima harapan (5H) Menag adalah percepatan regulasi haji, percepatan transisi, transformasi layanan haji yang responsif, penguatan istitha’ah kesehatan, serta mewujudkan haji yang berdampak secara spiritual, sosial, dan ekonomi.
“Mari kita doakan bersama, semoga ke depan kualitas jemaah dan penyelenggaraan haji Indonesia semakin baik. BPH hadir secara khusus untuk mengurus haji. Semoga dapat menghasilkan layanan yang semakin baik,” kata Menag Nasaruddin Umar.
