MADANINEWS.ID, Makkah – Menjelang puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), banyak jemaah haji Indonesia memanfaatkan waktu di Makkah untuk menunaikan umrah sunnah. Salah satu tempat miqat favorit jemaah adalah Masjid Tan’im, atau yang juga dikenal sebagai Masjid Aisyah.
Tan’im terletak sekitar 7 km dari Masjidil Haram dan menjadi miqat terdekat bagi jemaah yang sudah berada di Makkah. Untuk mencapainya, jemaah biasanya menggunakan bus atau taksi. Lokasinya yang nyaman, fasilitas MCK yang memadai, ruang salat yang luas, dan lahan parkir yang lapang membuat tempat ini ramai dikunjungi.
Dalam sejarahnya, tempat ini memiliki nilai khusus. Berdasarkan hadist riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW memperbolehkan Siti Aisyah untuk menunaikan umrah dari Tan’im. Saat itu, Aisyah sedang dalam kondisi haid dan belum bisa tawaf. Setelah suci, Nabi meminta saudaranya, Abdurrahman bin Abu Bakar, untuk mengantarkannya ke Tan’im agar bisa memulai ihram dari sana.
Setibanya di Tan’im, jemaah biasanya berwudhu, melaksanakan salat sunnah ihram, lalu berniat ihram dan kembali ke Masjidil Haram sambil mengumandangkan talbiyah.
Pembimbing Ibadah Kloter 15 Embarkasi Solo (SOC 15), Muhaimin, mengatakan pihaknya memilih Tan’im sebagai lokasi miqat untuk umrah sunnah para jemaah.
“Kami melakukan niat dan berpakaian ihram dari miqat Tan’im ini. Mengingat miqat ini yang terdekat dengan Masjidil Haram. Kemudian kami imbau jemaah untuk menjaga larangan ihram selama umrah sunnah,” ujarnya di Makkah, Selasa (20/5/2025).
Meski begitu, PPIH Arab Saudi mengimbau jemaah untuk tidak berlebihan dalam menunaikan umrah sunnah demi menjaga kondisi fisik menjelang pelaksanaan puncak haji.
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Makkah PPIH Arab Saudi, Ali Machzumi, meminta jemaah untuk tidak sering-sering menjalani umrah sunnah, apalagi bagi jemaah lansia atau dengan risiko tinggi (risti).
“Dalam pelaksanaan umrah sunnah ini pun kami menganjurkan kepada jamaah agar tetap menjaga kesehatan dengan menggunakan APD alat pelindung diri, saling membantu di antara jamaah yang membutuhkan bantuan, tidak egois mementingkan dirinya sendiri, dan gemar menolong. Kami juga berpesan kepada jemaah untuk jaga kebersamaan dan kekompakan,” ujarnya.
Menurutnya, ibadah utama yang lebih penting masih menanti, yaitu pelaksanaan wukuf dan rangkaian puncak haji lainnya. Oleh sebab itu, kesehatan jemaah harus menjadi prioritas.
