Jakarta-Madaninews.id, Sejumlah 30 peserta Finalis Duta Muslimah Preneur (DMP) Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) mengikuti berbagai pelatihan dan pembekalan, salah satunya dari owner “Ayam Bakar Mas Mono”, Agus Pramono di Grand Sahid Jakarta, Kamis (28/03).
Dalam pemaparannya, Agus Pramono atau yang biasa akrab disapa Mas Mono menjelaskan kisahnya dalam membangun bisnis “Ayam Bakar Mas Mono”. Salah satu pesan yang ia sampaikan bahwa ” Usaha Harus Fokus”.
Benar saja, fokus usaha yang Mas Mono lakoni menjadi Personal Brandingnya. Dimana bila bicara soal ayam bakar maka secara spontan terasosiasi dengan sosok Mas Mono. Begitulah pentingnya menjalankan usaha dengan fokus.
“Personal Branding dalam bisnis itu penting, maka konsistensi dan fokus dalam berusaha menjadi keharusan,” ujar Mas Mono dengan penuh semangat.
Pada awalnya Mas Mono hanyalah seorang pria biasa. Dengan mengandalkan ijazah SMA, Mas Mono memberanikan diri untuk merantau ke Jakarta mencari pekerjaan pada tahun 1994. Kala itu mas Mono melakoni profesi sebagai juru masak di sebuah restoran cepat saji di ibukota. Tak betah berlama-lama bekerja dengan orang lain, Mas Mono akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya pada tahun 1997 dan mendirikan usaha catering. Namun nasib baik belum berpihak padanya, saat krisis melanda di tahun 1998, usahanya pun ikut bangkrut. Akhirnya ia pun beralih profesi, dari seorang OB hingga tukang ketik di foto copy.
Pada awal tahun 2000, insting bisnis Mas Mono mulai terpanggil saat melihat sebuah lahan kosong di depan Universitas Sahid. Mas Mono dan sang istri, Nunung kemudian mulai membuka warung ayam bakar kecil-kecilan di lahan kosong tersebut. Mas Mono pun masih ingat di hari pertama warung ayam bakarnya, ia membawa 5 ekor ayam yang dijadikan 20 potong. Meskipun hanya laku 12 potong di hari pertama usahanya, Mas Mono dan sang istri merasa senang dengan pencapaian dan usaha mandiri tersebut.
Lambat laun kesabaran dan ketekunan Mas Mono mulai membuahkan hasil. Warung kecil yang tadinya hanya membutuhkan 5 ekor ayam mulai berkembang hingga 80 ekor ayam setiap harinya. Pegawainya pun bertambah dari 1 orang menjadi 8 orang. Dengan kesuksesan awal tersebut, Mas Mono berusaha untuk fokus dan menjaga konsistensi rasa dan pelayanan dengan menetapkan SOP sederhana, misalnya seragam pegawai, kebersihan rambut, kuku dan penampilan para pegawainya. (Ozi)