Ibadah.id –Menjadi karyawan di sebuah perusahaan yang bergerak dalam segmen keuangan atau perbankan, memiliki kepribadian yang takut kepada Allah adalah suatu keharusan. Apalagi perbankan syariah, yang notabene bank yang menerapkan nilai dan prinsip-prinsip syariat dalam menjalankan bisnis atau ber-mu’amalah-nya. Karena bagaimanapun segala sesuatunya pasti akan diperhitungkan oleh Sang Maha Pembuat Perhitungan.

PT Bank Negara Indonesia Syariah atau yang akrab disebut BNI Syariah, terus mencoba untuk membentuk kepribadian setiap karyawannya agar memiliki rasa takut kepada Allah Swt. Salah satu wujud dari keimanan yang tinggi dan ilmu pengetahuan yang luas. Dan tugas berat itu, terlebih berada di pundak para pengurus Kerohanian Islam, di BNI Syariah disebut dengan istilah Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) al Ikhlas.

Dengan Izin Allah, Segalanya Dipermudah

Walaupun menanggung beban berat, dengan rasa ikhlas, segala dipermudah. Sejak kepindahannya di Gedung Tempo Pavilion 1 Jl. HR Rasuna Said Kav. 10-11, Lt. 3-7, Jakarta, pada tahun 2013 akhir, keberadaan Rohis BNI Syariah hingga kini mulai berjalan dengan baik. Tapi bukan berarti tanpa ada kendala. Sebelumnya, di tahun-tahun awal berkantor, jangankan mengadakan kegiatan pengajian atau majelis ilmu untuk karyawan, buat tempat khusus shalat saja belum ada. Apalagi buat shalat jumat, –karyawan harus mencari masjid di luar area gedung yang jaraknya tak terbilang dekat.

Melihat kondisi seperti itu dan mengingat lembaganya syariah, maka beberapa orang terketuk, “bisakah kita mempunyai masjid sendiri?”. Tak lama kemudian, akhirnya setelah menghadap manajemen, ruang rapat di lantai tiga disulap menjadi masjid yang cukup megah dan nyaman. Walaupun awalnya masih buka tutup dan berebutan dengan kegiatan rapat, kini sudah menjadi masjid yang permanen.

Lagi-lagi tantangan tak kunjung sirna, manajemen menilai keberadaan masjid itu  mengganggu aaktifitas kerjaan –sedang enak-enaknya kerja atau rapat, diusik dengan suara adzan melalui sound system yang disambungkan dari masjid ke setiap rungan di setiap lantainya. Seiring dengan berjalannya waktu, itu teratasi, dan manajemen pun menginstruksikan bahwa ketika suara adzan berkumandang (penanda waktu shalat tiba), semua kegiatan atau transaksi perbangkan harus dihentikan dan bersama-sama menuju masjid shalat berjamaah.

Tak hanya itu, kegiatan pengajian-pengajian di setiap harinya diizinkan. Bahkan manajemen dan direksi juga ikut aktif terlibat dalam berbagai kegiatannya. Terlebih juga soal sokongan pendanaan demi lancarnya kegiatan-kegiatan tersebut.

Kegiatan Rutin

Pengajian ba’da dzhur (waktu istirahat) di setiap harinya adalah kegiatan rutin DKM BNI Syariah ini. Selain itu, ada juga kegiatan pengajian mingguan dan bulanan (kajian duha). Kajian-kajian itu membahas mulai dari tentang Tauhid, Fikih, Mua’malah, Kisah Nabawiyah, Tiibun Nabawi, Tarikh Islamiyah, sampai pada urusan-urusan rumah tangga (parenting). Tak lupa pula belajar soal hadits-hadits keseharian, tafsir, tahfidz, dan cara membaca Qur’an yang benar dan baik (tajwid wa tahsin) setiap ba’da ashar sampai isya’.

Kesemua kajian itu diajarkan langsung oleh ustadz yang berkompeten dalam bidangnya masing-masing. Sehingga tak ada keraguan lagi bagi karyawan untuk mengikutinya. Dari jumlah karyawan lebih dari 600 orang, sekitar 100-200-nya selalu memenuhi pengajian-pengajian itu. hal ini (khusus pengajian), tak ada instruksi dari manajemen untuk wajib mengikutinya, jadi sifatnya “siapa yang mau saja”.

Harapan dari adanya pengajian-pengajian itu adalah terpenuhinya asupan kerohanian bagi karyawan. Apalagi hampir di setiap harinya selalu dikantor, mengikuti pengajian itu menjadi suatu keharusan. Siapapun dan di manapun berada, menuntut ilmu adalah suatu kewajiban. Semoga dengan hadirnya majelis ilmu di BNI Syariah ini menjadikan para karyawannya sebagai orang-orang yang takut dan mendapatkan kemenangan.

“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan.” (QS. 24:52).

Kegiatan Majelis Ilmu Ramadhan

Khusus di bulan Ramadhan, selain pengajian ba’da dzuhur, juga diadakan pembacaan buku-buku, seperti hadits Arba’in Nawawi, Adab Muslim Harian, dan tahun ini buku hadits kebiasaan-kebiasaan Nabi Saw. Yang membacakannya mulai dari jajaran direksi sampai karyawan biasa.

Selama Ramadhan ini juga, Rohis ini mengadakan buka bersama di setiap harinya. Tak kurang dari 150 orang, kadang lebih sampai 200, hadir di acara ini. Tak jarang pula dilanjutkan dengan tarawih bersama.

Dukungan Manajemen

Berurusan dengan keuangan mesti mempunyai benteng, yakni keimanan. Kalau tidak, pasti akan mudah tergoda –yang pada akhirnya akan merugikan perusahaan dan karyawan yang bersangkutan. Untuk menghindari hal itu, manajemen, khususnya direksi mensuport penuh kegiatan-kegiatan Rohis tersebut. Bukan hanya berupa dukungan saran dan pikiran saja, tapi juga finansial, baik untuk sarana masjid, maupun untuk akomodasi para ustad tersebut. Apalagi di bulan Ramadhan ini pengeluarannya besar, terutama untuk ta’jil.

Jajaran direksi, rela merogoh kocek sendiri (sedikit dari karyawan) demi mendukung berjalannya acara-acara tersebut. Berharap, semoga dengan acara-acara itu, karyawan seamkin loyal dan memiliki siafat-sifat yang berkarakter mencerminkan keperibadian Rasulullah Saw. sebagaimana hadits berikut: “Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya.” (HR. Bukhari-Muslim). (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here