MADANINEWS.ID, JAKARTA — Keterbatasan fisik tidak menghalangi dr. I Gede Kevin Hindu Dharmawan, S.Ked. meraih prestasi akademik tinggi. Dokter muda kelahiran Singaraja, 21 November 2001 itu berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) dengan predikat cumlaude dan IPK 4,00.
Pencapaian tersebut diraih Kevin dalam Sumpah Dokter Periode ke-51 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar.
Kevin merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Sejak kecil, ia telah memiliki cita-cita menjadi dokter. Namun, perjalanan menuju profesi tersebut tidak ditempuh dengan mudah.
Sebagai penyandang disabilitas, Kevin harus menghadapi berbagai tantangan selama menjalani pendidikan kedokteran yang berlangsung kurang lebih enam tahun.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti mengejar cita-cita.
Dukungan Lingkungan Jadi Kekuatan
Kevin mengakui selama menempuh pendidikan kedokteran dirinya menghadapi berbagai hambatan, baik secara fisik maupun tantangan lainnya.
Namun, ia bersyukur memiliki support system yang kuat, mulai dari keluarga, teman-teman, dosen, hingga lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar.
Menurut Kevin, perhatian kampus terhadap kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas menjadi faktor penting yang membuatnya semakin percaya diri menjalani proses pendidikan.
“Dukungan tersebut membuat saya merasa lebih percaya diri untuk menjalani setiap proses pendidikan hingga akhirnya dapat menyelesaikannya dengan baik,” ujar Kevin.
Bagi Kevin, dukungan kedua orangtua menjadi salah satu fondasi terpenting dalam perjalanan pendidikannya. Dukungan tersebut kemudian diperkuat oleh teman, dosen, serta keluarga besar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar.
Prestasi IPK 4,00 yang diraihnya pun tidak ia pandang sebagai hasil perjuangan seorang diri.
Di balik capaian tersebut terdapat peran banyak pihak yang membantunya melewati berbagai tantangan selama masa pendidikan.
Keterbatasan Jadi Motivasi
Kevin mengatakan motivasi utamanya sederhana, yakni mewujudkan cita-cita menjadi dokter yang telah ia miliki sejak kecil.
Keinginan tersebut terus ia jaga sepanjang proses pendidikan hingga akhirnya mampu menyelesaikan studi dengan hasil akademik sempurna.
“Bagi saya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. Justru, kondisi tersebut menjadi motivasi untuk terus berkembang dan memberikan yang terbaik,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan tidak datang secara instan.
Setiap proses membutuhkan kesungguhan, konsistensi, serta kemauan untuk terus belajar dan berkembang.
Pengalaman Disabilitas Bentuk Empati kepada Pasien
Menjadi dokter sekaligus penyandang disabilitas memberikan sudut pandang tersendiri bagi Kevin dalam melihat pelayanan kesehatan.
Pengalaman pribadinya menghadapi berbagai keterbatasan justru ingin ia jadikan bekal ketika kelak memberikan pelayanan kepada pasien.
Menurut Kevin, setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, seorang dokter tidak cukup hanya memiliki kemampuan medis, tetapi juga dituntut mampu memberikan pelayanan dengan empati dan memahami kondisi pasien secara menyeluruh.
“Saya ingin memberikan pelayanan dengan penuh empati dan memahami pasien secara lebih menyeluruh, termasuk kepada pasien penyandang disabilitas,” ungkap dia.
Pengalaman tersebut diharapkan menjadi modal Kevin dalam memberikan pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi, khususnya kepada pasien yang memiliki keterbatasan atau membutuhkan perhatian khusus.
Ajak Penyandang Disabilitas Berani Bermimpi
Kevin juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa maupun calon dokter penyandang disabilitas agar tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.
Ia mendorong penyandang disabilitas berani mengambil kesempatan dan terus mengembangkan kemampuan diri.
“Mungkin dalam perjalanan akan ada tantangan dan keterbatasan yang harus dihadapi. Namun, selama kita memiliki kemauan, dukungan, dan terus berusaha, saya yakin kita bisa mencapai apa yang kita cita-citakan,” katanya.
Khusus bagi calon mahasiswa penyandang disabilitas, Kevin mengingatkan agar tidak merasa rendah diri atau takut menghadapi tantangan pendidikan.
“Jangan merasa takut atau minder. Selama kita memiliki kemauan untuk belajar dan berkembang, teruslah berusaha,” pesannya.
Perjalanan Kevin menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan yang inklusif dapat memberikan ruang bagi mahasiswa penyandang disabilitas untuk berkembang dan mencapai prestasi akademik.
Di saat yang sama, kegigihan individu tetap menjadi bagian penting dalam proses mewujudkan cita-cita.
