MADANINEWS.ID, JAKARTA – Banyak orang beranggapan bahwa semakin banyak ibadah yang dilakukan, semakin besar pula peluang seseorang menjadi penghuni surga. Anggapan tersebut memang tidak keliru, sebab Allah SWT menjanjikan balasan terbaik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Latin: Wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’budoon.
Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Selain itu, Allah SWT juga berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 82:
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.”
Namun, Islam juga mengajarkan bahwa ibadah tidak cukup hanya dilakukan secara lahiriah. Amal yang banyak bisa kehilangan nilainya apabila diiringi akhlak yang buruk, kezaliman, kesombongan, atau niat yang tidak ikhlas. Rasulullah SAW bahkan mengingatkan adanya beberapa golongan ahli ibadah yang terancam masuk neraka.
1. Ahli Ibadah yang Menyakiti Tetangganya
Rajin salat malam, gemar berpuasa, dan banyak bersedekah tidak akan bernilai apabila seseorang gemar menyakiti tetangganya dengan lisan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW tentang seorang wanita yang dikenal rajin beribadah, tetapi sering menyakiti tetangganya.
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah (seorang wanita) rajin mendirikan salat malam, gemar puasa di siang hari, mengerjakan (kebaikan) dan bersedekah, tapi sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.”
Rasulullah SAW menjawab:
“Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.”
Kemudian para sahabat menyebut wanita lain yang hanya mengerjakan salat wajib dan bersedekah sederhana, tetapi tidak pernah menyakiti siapa pun.
Rasulullah SAW bersabda:
“Dia adalah penghuni surga.” (HR Bukhari).
Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga hubungan dengan sesama merupakan bagian penting dari kesempurnaan ibadah.
2. Ahli Ibadah yang Zalim kepada Sesama
Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang orang yang bangkrut di akhirat, yaitu mereka yang datang membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi pernah menzalimi orang lain.
Kezaliman yang dimaksud meliputi mencela, memfitnah, mengambil harta orang lain, menyakiti, memukul, hingga menumpahkan darah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
“Tahukah kalian siapa yang disebut sebagai orang yang bangkrut (muflis)?”
Para sahabat menjawab:
“Orang yang bangkrut adalah yang tidak memiliki uang dan harta.”
Beliau kemudian bersabda:
“Sesungguhnya orang yang benar-benar bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, namun ia pernah mencela, menuduh tanpa bukti, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul sesama. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sementara kezalimannya belum terbayar, dosa-dosa mereka dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim).
Hadis ini menjadi pengingat bahwa ibadah kepada Allah harus berjalan seiring dengan menjaga hak-hak sesama manusia.
3. Ahli Ibadah yang Sombong dan Merasa Paling Suci
Kesombongan juga dapat menghapus nilai ibadah seseorang. Rasulullah SAW mengisahkan dua orang dari Bani Israil; seorang rajin beribadah, sedangkan yang lain sering berbuat dosa.
Orang yang rajin beribadah itu terus-menerus menghakimi saudaranya hingga berkata:
“Demi Allah, sungguh Allah tidak akan mengampunimu atau tidak akan memasukkanmu ke dalam surga.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).
Ketika keduanya meninggal, Allah SWT justru memberikan rahmat kepada orang yang berdosa, sedangkan ahli ibadah tersebut diperintahkan menuju neraka karena telah lancang memvonis urusan yang menjadi hak Allah SWT.
Kisah ini mengajarkan bahwa tidak ada seorang pun yang berhak memastikan nasib akhir seseorang. Seorang Muslim justru diperintahkan untuk rendah hati, memperbaiki diri, dan tidak merasa paling suci dibandingkan orang lain.
4. Ahli Ibadah yang Beramal karena Riya
Bahaya lain yang mengancam ahli ibadah adalah riya, yakni melakukan amal agar dipuji manusia, bukan semata-mata karena Allah SWT.
Dalam hadis disebutkan bahwa di antara orang yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid, orang berilmu, dan orang kaya yang dermawan. Apabila amal mereka dilakukan demi popularitas atau pujian manusia, maka amal tersebut tidak bernilai di sisi Allah SWT.
Dalam hadis qudsi, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman:
“Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amal dengan menyekutukan-Ku di dalamnya (ria), maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya itu.” (HR Muslim).
Hadis ini menjadi pengingat bahwa keikhlasan merupakan ruh dari setiap amal ibadah. Sebesar apa pun amal seseorang, nilainya akan hilang apabila dikerjakan demi mendapatkan pujian manusia.
Ibadah Harus Disertai Akhlak dan Keikhlasan
Ibadah dalam Islam bukan sekadar memperbanyak salat, puasa, atau sedekah. Seorang Muslim juga dituntut menjaga lisan, menghormati hak sesama, menjauhi kezaliman, menghindari kesombongan, dan meluruskan niat hanya karena Allah SWT.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, menjaga hati dari sifat riya dan sombong, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memperoleh rahmat dan keselamatan di dunia maupun akhirat.
