Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Dua Bank Syariah Ini Siap Tantang Dominasi BSI, Siapa Saja?

Abi Abdul Jabbar Sidik
23 July 2026 | 11:30
rubrik: Ekonomi Syariah
BSI Segera Realisasikan Rencana Pembukaan Kantor Cabang di Arab Saudi

Bank Syariah Indonesia. (foto:ist/dok)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, JAKARTA – Persaingan industri perbankan syariah nasional diperkirakan akan semakin kompetitif dalam beberapa tahun mendatang. Sejumlah bank mulai menyiapkan strategi ekspansi untuk menjadi pemain utama, seiring target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membentuk tiga hingga lima bank syariah berskala besar sebagai penyeimbang dominasi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).

Dua bank yang secara terbuka menyatakan ambisinya adalah Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank CIMB Niaga Tbkyang akan menjadi bank umum syariah (BUS) melalui proses spin off, serta PT Bank Syariah Nusantara (BSN) yang memilih memperkuat pertumbuhan secara organik.

CIMB Niaga Syariah Bidik Posisi Nomor Dua

Direktur Syariah CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara, mengatakan proses spin off saat ini tinggal menunggu izin usaha dari OJK. Perseroan menargetkan proses tersebut rampung pada akhir semester II 2026.

“Di akhir semester II ini targetnya, kami masih menunggu perizinan lanjutan dari regulator,” ujar Pandji.

Setelah resmi menjadi bank umum syariah, CIMB Niaga Syariah menargetkan menjadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia paling lambat pada 2030.

“Target kami menjadi bank syariah terbesar kedua, selambat-lambatnya pada 2030,” katanya.

Untuk mencapai target tersebut, perseroan tetap mengandalkan sinergi dengan induk usaha melalui skema full leveraging, namun akan mengubah fokus bisnis ke segmen ritel, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta komunitas muslim.

“Strateginya tetap leveraging dengan induk, tetapi kami akan lebih menyasar segmen SME dan konsumer, khususnya komunitas muslim,” ujarnya.

Saat ini sekitar 45 persen portofolio pembiayaan CIMB Niaga Syariah masih berasal dari segmen korporasi dan komersial. Ke depan, porsi tersebut ditargetkan turun menjadi sekitar 20 persen, dengan peningkatan pembiayaan ke sektor ritel dan UMKM.

See also  BSI Siapkan Ekspansi ke Jeddah, Bidik Potensi Besar Ekosistem Haji dan Umrah

Perseroan juga membidik total aset menembus Rp100 triliun pada 2030. Hingga Maret 2026, aset CIMB Niaga Syariah tercatat sebesar Rp58,82 triliun.

Selain memperluas pembiayaan, strategi pertumbuhan juga akan ditopang penguatan layanan digital berbasis OCTO, pemanfaatan jaringan kantor induk, serta peningkatan pembiayaan hijau (green financing).

Meski agresif berekspansi, CIMB Niaga Syariah menegaskan belum memiliki rencana melakukan merger maupun akuisisi.

“Belum ada rencana aksi korporasi. Tetapi kalau di tengah perjalanan ada peluang yang baik tentu akan kami eksplorasi. Yang jelas saat ini belum ada,” ujarnya.

BSN Pilih Tumbuh Secara Organik

Sementara itu, PT Bank Syariah Nusantara (BSN) juga menyatakan kesiapan menjadi salah satu bank syariah besar nasional, namun memilih memperkuat fondasi bisnis melalui pertumbuhan organik.

Direktur Utama BSN, Alex Sofjan Noor, menyambut positif kebijakan OJK yang mendorong lahirnya tiga hingga lima bank syariah besar di Indonesia.

“Bank BSN menyambut positif arah kebijakan OJK dalam memperkuat industri perbankan syariah nasional. Sebagai entitas yang telah berdiri sendiri, Bank BSN berkomitmen menjadi salah satu bank syariah terkemuka yang berkontribusi terhadap penguatan ekosistem keuangan syariah di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Alex, fokus utama BSN saat ini adalah memperkuat pertumbuhan aset, pembiayaan, dana pihak ketiga (DPK), serta membangun ekosistem keuangan syariah.

Pada 2026, BSN menargetkan aset sekitar Rp87 triliun, pembiayaan Rp66 triliun, dan DPK sebesar Rp69 triliun.

Hingga Mei 2026, aset BSN telah mencapai Rp78 triliun. Sementara pembiayaan tumbuh 22,68 persen secara tahunan menjadi Rp58,38 triliun, sedangkan DPK meningkat 14,68 persen menjadi Rp60,62 triliun.

Dalam tiga hingga lima tahun mendatang, BSN akan memperkuat bisnis berbasis ekosistem, meningkatkan penghimpunan dana murah (current account savings account/CASA), serta mempercepat digitalisasi layanan.

“Bank BSN juga akan terus meningkatkan efektivitas jaringan distribusi, mempercepat digitalisasi proses bisnis, serta memperkuat kualitas layanan agar dapat memberikan pengalaman yang lebih baik kepada nasabah,” katanya.

Alex menegaskan, di tengah tren konsolidasi industri, BSN belum memiliki rencana melakukan merger maupun akuisisi.

“Saat ini prioritas utama Bank BSN adalah memperkuat pertumbuhan secara organik. Dengan fondasi yang kuat, kami akan memiliki fleksibilitas yang lebih besar untuk memanfaatkan berbagai peluang pertumbuhan di masa depan,” ujar Alex.

Tags: Bank SyariahBank Syariah indonesiabank syariah nasionalCIMB Niaga SyariahEkonomi SyariahKeuangan Syariah
Previous Post

Di Forum Bank Dunia, Dompet Dhuafa Paparkan Peran Zakat Atasi Kemiskinan

Next Post

Pemerintah Musnahkan 312 Ton Bahan Baku Pakan Terkontaminasi Unsur Babi, BPJPH: Demi Lindungi Masyarakat

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks