MADANINEWS.ID, JAKARTA – Transformasi pendidikan tinggi keagamaan Islam mulai menunjukkan hasil. Sebanyak 11 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) berhasil menembus daftar 100 universitas terbaik di Indonesia versi Webometrics edisi Juli 2026, mencerminkan peningkatan daya saing akademik, penguatan riset, hingga transformasi digital yang terus dilakukan di lingkungan PTKIN.
Pemeringkatan Webometrics dilakukan berdasarkan empat indikator utama, yakni Visibility, Openness, Excellence, dan Impact, yang mengukur visibilitas digital, keterbukaan akses pengetahuan, kualitas publikasi ilmiah, serta dampak akademik sebuah perguruan tinggi.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama, Prof. Sahiron, mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan 11 PTKIN masuk jajaran 100 besar perguruan tinggi nasional menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan tinggi Islam terus bergerak ke arah yang positif.
“Prestasi ini patut kita syukuri. Kehadiran sebelas PTKIN dalam Top 100 Universitas Indonesia membuktikan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam semakin kompetitif dan mampu berdiri sejajar dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Capaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga para mitra yang terus berkolaborasi membangun mutu pendidikan tinggi Islam,” ujar Prof. Sahiron di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
UIN Sunan Kalijaga Pimpin Peringkat PTKIN
Berdasarkan rilis Webometrics, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi PTKIN dengan peringkat tertinggi. Kampus tersebut menempati peringkat ke-22 nasional sekaligus peringkat 1.115 dunia.
Posisi berikutnya ditempati UIN Sunan Gunung Djati Bandung di peringkat ke-24 nasional, disusul UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada peringkat ke-41 nasional.
Selain ketiga kampus tersebut, delapan PTKIN lain yang berhasil masuk Top 100 nasional adalah:
- UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
- UIN Raden Intan Lampung
- UIN Sumatera Utara
- UIN Sunan Ampel Surabaya
- UIN Sultan Syarif Kasim Riau
- UIN Raden Fatah Palembang
- UIN Ar-Raniry Banda Aceh
- UIN Walisongo Semarang
Bukan Sekadar Soal Peringkat
Prof. Sahiron menegaskan, pencapaian tersebut tidak semata-mata dimaknai sebagai keberhasilan dalam pemeringkatan, tetapi juga menjadi indikator meningkatnya kontribusi PTKIN terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan penyebarluasan hasil-hasil akademik kepada masyarakat.
Menurutnya, indikator yang digunakan Webometrics mendorong perguruan tinggi untuk terus memperkuat publikasi ilmiah, memperluas keterbukaan akses pengetahuan, mengoptimalkan platform digital, serta meningkatkan visibilitas karya akademik di tingkat internasional.
PTKIN Diminta Terus Tingkatkan Daya Saing Global
Meski mencatatkan capaian positif, Prof. Sahiron mengingatkan agar seluruh PTKIN tidak cepat berpuas diri. Ia menilai tantangan pendidikan tinggi akan semakin kompleks sehingga transformasi kelembagaan harus terus dipercepat.
“Kita tidak boleh cepat berpuas diri. Tantangan pendidikan tinggi ke depan semakin kompleks. Karena itu, PTKIN harus terus meningkatkan kualitas riset, publikasi internasional bereputasi, inovasi, kolaborasi global, penguatan tata kelola digital, serta layanan akademik yang unggul agar mampu bersaing pada level dunia,” tegasnya.
Ia menambahkan, capaian tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Agama dalam membangun pendidikan tinggi yang unggul, inklusif, dan berdampak. PTKIN diharapkan mampu melahirkan lulusan berkualitas sekaligus menghadirkan inovasi dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat melalui penguatan tridarma perguruan tinggi.
“Ke depan, PTKIN harus menjadi pusat keunggulan (center of excellence) yang mampu menghadirkan pendidikan berkualitas, riset yang berdampak, serta pengabdian kepada masyarakat yang memberikan manfaat nyata. Dengan semangat kolaborasi dan perbaikan berkelanjutan, saya optimistis semakin banyak PTKIN yang akan masuk jajaran perguruan tinggi terbaik, baik di tingkat nasional maupun internasional,” pungkas Prof. Sahiron.
