MADANINEWS.ID, JAKARTA – Ibadah haji bagi lanjut usia (lansia) bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga tantangan fisik yang membutuhkan kesiapan ekstra. Dengan rangkaian ibadah yang padat di tengah cuaca ekstrem, jamaah lansia perlu melakukan persiapan matang agar tetap sehat dan dapat beribadah dengan khusyuk.
Merujuk pada buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah 2026 terbitan Kementerian Haji dan Umrah RI, terdapat sejumlah langkah penting yang perlu diperhatikan lansia sejak sebelum keberangkatan hingga pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.
1. Terapkan Pola Hidup Sehat Sejak Dini
Jamaah lansia dianjurkan mulai membiasakan pola hidup sehat sebelum berangkat. Kondisi fisik yang prima menjadi kunci agar mampu menjalani seluruh rangkaian ibadah haji dengan lancar.
2. Pahami Manasik Haji
Pemahaman tentang tata cara ibadah sangat penting. Dengan mempelajari manasik haji lebih awal, jamaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan tidak kebingungan saat di lapangan.
3. Wajib Lolos Pemeriksaan Kesehatan
Jamaah lansia harus mengikuti pemeriksaan kesehatan hingga dinyatakan memenuhi syarat istitha’ah. Proses ini dilakukan oleh Dinas Kesehatan bersama fasilitas layanan kesehatan setempat sebagai bagian dari persiapan haji.
4. Jaga Stamina Selama di Tanah Suci
Saat pelaksanaan haji, lansia diminta memperbanyak istirahat dan menjaga asupan makanan serta cairan. Hal ini penting untuk mencegah kelelahan dan gangguan kesehatan.
5. Lempar Jumrah Bisa Diwakilkan
Bagi jamaah lansia yang memiliki keterbatasan fisik, melempar jumrah dapat diwakilkan kepada anggota rombongan lain. Langkah ini menjadi solusi agar ibadah tetap terlaksana tanpa membahayakan kondisi kesehatan.
6. Tawaf Boleh Menggunakan Kursi Roda
Lansia dengan kondisi fisik terbatas dianjurkan menggunakan kursi roda, skuter, atau fasilitas lain saat melakukan tawaf.
Kebolehan ini didasarkan pada hadits berikut:
عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال: طاف النبي صلى الله عليه وسلَّم في حَجَّةِ الوَدَاعِ على بعير، يستلم الركن بمحجن ( رواه البخاري )
Artinya: “Dari Ibnu Abbas RA berkata:, ‘Rasulullah SAW Tawaf pada waktu haji wada’ dengan mengendarai unta sambil menyalami rukun Yamani dengan tongkat. (HR Bukhari dari Ibnu Abbas RA)
7. Sai Juga Bisa dengan Bantuan Alat
Hal yang sama berlaku untuk ibadah sa’i. Jamaah lansia dapat menggunakan kursi roda, digendong, atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia.
Landasan kebolehan ini terdapat dalam hadits berikut:
عن جابر بن عبد الله يقول طاف النبي صلى الله عليه وسلم في حِجَّةِ الْوَدَاعِ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِالْبَيْتِ وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةَ لِيَرَاهُ النَّاسُ وَلِيُشْرِفَ لِيَسْأَلُوْهُ فَإِنَّ النَّاسَ غَشُوهُ (رواه مسلم)
Artinya: “Dari Jabir bin ‘Abdullah RA. berkata; Nabi SAW ketika Tawaf pada haji wada’ dengan menaiki tunggangannya, dan juga ketika Sai di Safa dan Marwah, orang ramai melihatnya dan beliau dapat menyelia untuk mereka bertanya kepada beliau, maka sesungguhnya orang ramai mengerumuni beliau.” (HR Muslim)
Dengan memahami berbagai keringanan dalam ibadah, jamaah lansia tetap dapat menjalankan haji secara aman tanpa memaksakan diri. Persiapan fisik, mental, serta pemahaman manasik menjadi faktor penting agar ibadah berjalan lancar dan penuh keberkahan.
