MADANINEWS.ID, JAKARTA – Bulan Ramadan selalu datang membawa harapan besar: pengampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan kesempatan memperbaiki diri. Namun, di balik keutamaan itu, Rasulullah SAW juga menyampaikan peringatan keras—bahwa tidak semua orang yang berpuasa otomatis mendapatkan pahala puasa.
Dalam sejumlah hadis, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ada perilaku-perilaku tertentu yang bisa menggerus bahkan merusak pahala puasa, sehingga seseorang hanya mendapatkan letih tanpa ganjaran.
Keutamaan puasa Ramadan ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam hadis tersebut, Nabi menjanjikan ampunan dosa bagi orang yang berpuasa dengan iman dan penuh pengharapan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ صَامَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ. ثُمَّ قَالَ: وَمَنْ وَافَقَ رَمَضَانَ بِصِيَامِهِ وَقِيَامِهِ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
Artinya:
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan barang siapa melaksanakan shalat malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan barang siapa berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka akan dihitung seakan-akan dia telah berpuasa selama setahun.’
Kemudian beliau bersabda: ‘Dan barang siapa berjumpa dengan bulan Ramadhan dengan berpuasa dan beribadah di dalamnya, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.’” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa besarnya ganjaran puasa. Namun, pada saat yang sama, Rasulullah juga mengingatkan adanya ancaman bagi mereka yang lalai menjaga adab dan perilaku saat berpuasa.
Peringatan bagi Puasa yang Tak Berbuah Pahala
Dalam hadis lain, Nabi SAW menggambarkan kondisi orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa pun selain rasa lapar dan haus.
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش
Artinya:
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. An-Nasa’i)
Hadis ini menjadi dasar peringatan bahwa ada perbuatan-perbuatan tertentu yang dapat merusak pahala puasa.
Empat Perkara yang Merusak Pahala Puasa
Berdasarkan hadis-hadis Rasulullah SAW dan penjelasan para ulama, terdapat sejumlah perbuatan yang dapat menggerus pahala puasa seseorang.
1. Berkata Bohong
Perkataan dusta menjadi salah satu penyebab utama rusaknya pahala puasa. Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa tanpa menjaga lisan tidak bernilai di sisi Allah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، مَنْ لَمْ يَدعْ قَوْلَ الزُّورِ والعمَلَ بِهِ فلَيْسَ للَّهِ حَاجةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرَابهُ
Artinya:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalan dusta serta kebodohan maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari)
2. Menggunjing Orang Lain
Ghibah atau membicarakan keburukan orang lain juga termasuk perbuatan yang merusak pahala puasa. Rasulullah SAW menyebutkan hal ini secara tegas dalam sabdanya:
خمسٌ يُفطِرن الصّائِم: الغِيبةُ، والنّمِيمةُ، والكذِبُ، والنّظرُ بِالشّهوةِ، واليمِينُ الكاذِبةُ
Artinya:
“Lima hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa: membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu.” (HR. Ad-Dailami)
3. Mengadu Domba
Mengadu domba atau namimah disebut secara khusus sebagai perbuatan yang merusak puasa. Dalam hadis lain.
4. Mengumpat dan Berkata Kasar
Selain hadis, para ulama juga menegaskan bahaya ucapan kasar terhadap kualitas puasa. Imam Nawawi menjelaskan hal ini dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab:
قال النووي في كتابه “المجموع” : “ويحصل الفساد في الصوم بالشتم والقذف والشحناء والبغضاء وما أشبه ذلك”.
Artinya:
“Puasa dapat rusak karena mengumpat, mencela, memaki, bermusuhan, dan sejenisnya.” (Al-Majmu’, 6 halaman 355)
Peringatan Rasulullah SAW ini menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah yang menuntut pengendalian diri secara menyeluruh—bukan hanya fisik, tetapi juga lisan dan hati. Menjaga puasa berarti menjaga akhlak, agar ibadah yang dijalani benar-benar berbuah pahala, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Wallahu a’lam.
