MADANINEWS.ID, JAKARTA – Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) terus menelan korban jiwa dan meninggalkan duka mendalam. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Selasa pagi (9/12/2025), korban meninggal mencapai 962 orang, dengan 291 masih hilang dan 5.000 mengalami luka-luka.
Aceh tercatat sebagai provinsi paling parah terdampak, dengan 389 korban meninggal, diikuti Sumut 338 jiwa dan Sumbar 235 jiwa. Kabupaten Agam, Aceh Utara, dan Tapanuli Selatan menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak.
Para ahli lingkungan menyoroti kerusakan alam sebagai salah satu pemicu bencana. Ketua Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh, Muhammad Nur, menyebut pembalakan liar dan ekspansi perkebunan sawit sebagai faktor utama terjadinya banjir dan longsor.
Dalam perspektif Islam, larangan merusak alam sudah jelas ditegaskan dalam Al-Qur’an. Beberapa ayat menekankan pentingnya menjaga bumi agar tidak mendatangkan bencana bagi umat manusia. Berikut 5 ayat Al-Qur’an tentang larangan merusak lingkungan:
1. Al-Baqarah Ayat 11
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ ١١
Wa idzâ qîla lahum lâ tufsidû fil ardli qâlû innamâ naḫnu mushliḫûn.
Artinya: “Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi,’ mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.’”
Imam Thabari menjelaskan, kerusakan di bumi meliputi maksiat, kekafiran, dan kemunafikan. Barangsiapa tidak taat kepada Allah, berarti ikut merusak bumi.
2. Al-Baqarah Ayat 205
وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
Wa idzâ tawallâ sa‘â fil-ardli liyufsida fîhâ wa yuhlikal-ḫartsa wan-nasl, wallâhu lâ yuḫibbul-fasâd.
Artinya: “Apabila berpaling, dia berusaha merusak bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan.”
Imam al-Qurthubi menekankan, membakar tanaman atau membunuh hewan termasuk tindakan yang dilaknat Allah. Kerusakan di bumi akan membawa balasan alam berupa bencana.
3. Al-A’raf Ayat 56
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ٥٦
Wa lâ tufsidû fil-ardli ba‘da ishlâḫihâ wad‘ûhu khaufaw wa thama‘â, inna raḫmatallâhi qarîbum minal-muḫsinîn.
Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan takut dan harap. Rahmat Allah dekat bagi yang berbuat baik.”
Prof Quraish Shihab menegaskan, larangan ini mencakup pencemaran lingkungan, penebangan hutan liar, dan tindakan yang mengganggu keseimbangan alam.
4. Al-Mulk Ayat 15
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ ١٥
Huwalladzî ja‘ala lakumul-ardla dzalûlan famsyû fî manâkibihâ wa kulû mir rizqih, wa ilaihin-nusyûr.
Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi mudah dimanfaatkan. Jelajahi penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kita kembali.”
Syekh Wahbah Az-Zuhaili menekankan bahwa bumi adalah ladang ujian dan pengamatan perilaku manusia, bukan panggung bebas untuk merusak.
5. Al-A’raf Ayat 85
وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَاۤءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ ٨٥
Wa ilâ madyana akhâhum syu‘aibâ, qâla yâ qaumi‘budullâha mâ lakum min ilâhin ghairuh…
Artinya: “Jangan merusak bumi setelah diperbaiki. Sempurnakan takaran dan timbangan, serta hindari merugikan orang lain. Itulah lebih baik jika kalian beriman.”
Syekh Nawawi Al-Bantani menekankan pentingnya menjaga bumi, terutama setelah Allah menghiasinya dengan banyak nikmat.
Bencana banjir di Sumatera kali ini menjadi pengingat keras bagi umat manusia: merusak alam tidak hanya dosa, tapi juga bisa mendatangkan musibah. Islam menekankan agar manusia bertindak sebagai khalifah yang menjaga bumi, bukan sebaliknya.
