MADANINEWS.ID, JAKARTA – Gelombang protes tengah mengguncang lini masa X (Twitter) dan Instagram. Ribuan santri dan alumni pesantren menyerukan boikot terhadap Trans7 setelah salah satu tayangannya dinilai melecehkan dunia pesantren, khususnya KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Tagar #BoikotTrans7 menjadi seruan bersama di berbagai platform. Banyak warganet, terutama kalangan santri, menilai stasiun televisi tersebut telah gagal memahami kultur pesantren yang sarat nilai adab dan pengabdian.
Tayangan yang memicu amarah itu berasal dari program XPOSE dengan judul yang dianggap provokatif:
“Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?”
Bagi banyak santri, kalimat tersebut terasa menohok dan menyesatkan. Mereka menilai program itu menggambarkan kehidupan pesantren secara sempit—seolah penuh penindasan dan feodalisme—padahal justru di situlah santri ditempa untuk berdisiplin dan menghormati guru.
Gelombang kemarahan tak hanya datang dari warganet biasa. Sejumlah organisasi alumni pesantren juga turun tangan. Mereka mendesak Trans7 segera klarifikasi dan meminta maaf secara terbuka.
Akun santri bernama @cahpondok menulis panjang di media sosial:
“Jangan sampai kejadian seperti ini terulang, banyak Kiai yang kaya dari hasil usaha mereka sendiri, atau banyak dari mereka yang hidup dengan serba kekurangan, beberapa mobil mewahpun, itu juga kadang pemberian dari santri yang kadang menjadi Kaya, karena diberikan modal oleh Kiyai, banyak faktor yang tidak diklarifikasi oleh media sebesar @officialtrans7 Akhirnya sekali lagi kami serukan #BOIKOTTRANS7 #BOIKOTTRANS7 #BOIKOTTRANS7 #cahpondok #santri #pesantren #nahdlatululama #Lirboyo.”
Sikap Tegas dari Alumni dan Ulama
Protes makin besar setelah Ikatan Keluarga Alumni Asshidiqiyah (IKLAS) mengeluarkan pernyataan resmi berisi tujuh poin kecaman keras terhadap Trans7.
Dalam pernyataannya yang disebarkan Selasa (14/10/2025), IKLAS menulis:
“Pertama, kami mengecam atas ucapan pengisi suara yang mencederai etika dalam bernegara dengan tidak mengutamakan research yang mendalam dan cermat.”
IKLAS juga menuntut pihak Trans7 meminta maaf kepada para masyayikh dan kiai di seluruh Indonesia, serta memperingatkan bahwa bila hal itu tak dilakukan, mereka akan melapor ke Dewan Pers bahkan menggelar aksi bersama jaringan alumni pesantren.
“Ketujuh, pernyataan sikap ini kami lakukan agar para konten kreator dan tim skenario dalam produksi konten agar lebih bijak dalam membuat tayangan dan tidak menimbulkan kesalahpahaman dan tetap mengedepankan adab atau etika,” tulis IKLAS dalam surat terbuka itu.
