MADANINEWS.ID, Makkah – Jamaah yang beribadah di Masjidil Haram mungkin pernah memperhatikan posisi imam yang tidak selalu sama. Kadang imam berdiri tepat di depan Ka’bah, tapi di waktu lain posisinya agak menjauh di tempat khusus yang memang sudah disediakan.
Hal ini sering memunculkan pertanyaan: di mana sebenarnya shaf pertama? Dan apakah makmum boleh berdiri lebih dekat ke Ka’bah dibanding posisi imam?
Penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin
Ulama besar Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah pernah memberikan jawaban yang sangat jelas. Beliau berkata:
الصف الأول هو الذي يلي الإمام من خلفه والدائر حوله. وأما الذي في جهة غير الإمام فلهم أن يتقدموا إلى الكعبة ولا حرج كما نص على هذا أهل العلم لكن جهة الإمام لا يجوز لأحد أن يتقدم عليه فيها
Artinya:
“Shaf awalnya adalah shaf di belakang imam dan sekitar imam. Adapun makmum yang berada pada selain jihhah (arah) imam, maka mereka boleh berada lebih depan daripada imam mendekati Ka’bah. Ini tidak mengapa, sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama. Namun para makmum yang ada pada jihhah (arah) imam, mereka tidak boleh berada lebih depan daripada imam.”
(Majmu’ Fatawa wa Rasail, 13/40–41)
Gambaran Praktis di Masjidil Haram
Dengan penjelasan ini, shaf pertama ditentukan oleh posisi imam, bukan sekadar yang paling dekat dengan Ka’bah. Artinya, selama tidak berada tepat di arah imam, jamaah boleh berdiri lebih dekat dengan Ka’bah.
Di Masjidil Haram, posisi imam kadang ditempatkan di belakang Ka’bah, tepat di antara Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad. Karena itu, jalur shaf pada arah tersebut biasanya dikosongkan agar tidak ada makmum yang mendahului imam.
Kesimpulan
-
Shaf pertama selalu mengikuti posisi imam.
-
Makmum boleh berada lebih dekat dengan Ka’bah selama tidak berada di arah lurus imam.
-
Larangan hanya berlaku untuk jamaah yang berada tepat di jihhah (arah) imam.
Semoga Allah memudahkan kita semua untuk bisa menunaikan haji dan umrah, sehingga dapat menyaksikan dan merasakan langsung shalat di Masjidil Haram.
