MADANINEWS.ID, MAKKAH – Banyak jemaah haji dan umrah penasaran: kenapa lantai Masjidil Haram terasa sejuk meski suhu di luar bisa tembus 50 derajat Celsius? Bukan karena ada AC di bawah lantai, ternyata rahasianya ada pada jenis marmer langka asal Yunani!
Fakta ini sebenarnya sudah tercatat sejak masa Raja Khalid, yang memerintahkan perluasan Masjidil Haram pada tahun 1396 H. Dua tahun kemudian, area thawaf diperluas dan dilapisi marmer khusus bernama Thassos, yang dikenal tetap dingin meski terpapar terik matahari.
Marmer Thassos: Dingin Alami dari Yunani untuk Tanah Suci
Menurut Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, marmer Thassos diimpor langsung dari Pulau Thassos, Yunani. Marmer ini memiliki kemampuan unik untuk memantulkan panas dan cahaya, serta menyerap kelembapan malam hari dan melepaskannya di siang hari melalui pori-pori mikro di permukaannya.
Ketebalan marmer yang digunakan mencapai 5 sentimeter, cukup untuk menyimpan kesejukan stabil sepanjang hari. Marmer ini tidak diganti dengan granit atau batu lain karena sifat reflektif dan pendinginnya dianggap terbaik di dunia.
Pulau Thassos sendiri terletak di utara Yunani dan dikenal sebagai penghasil marmer putih kristal murni, salah satu kualitas tertinggi di dunia.
Diimpor dan Diolah Khusus untuk Dua Masjid Suci
Arab Saudi mengimpor marmer Thassos dalam bentuk bongkahan besar, yang kemudian diproses di pabrik khusus di bawah pengawasan teknisi ahli. Batu-batu tersebut dipotong dan dibentuk sesuai ukuran standar sebelum dipasang di halaman dan area thawaf Masjidil Haram.
Hasilnya? Jamaah bisa langsung merasakannya: lantai tetap sejuk dan nyaman, meski cuaca ekstrem. Sensasi ini kerap disebut sebagai bagian dari kenyamanan spiritual di Tanah Suci, yang membuat thawaf terasa ringan dan khusyuk meski cuaca panas menyengat.
