Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

“Aku Akan Jadi Mata dan Kaki Ummi”: Kisah Cinta dan Pengandian Anak pada Ibu di Tanah Suci

Abi Abdul Jabbar Sidik
23 May 2025 | 15:18
rubrik: Haji & Umrah
“Aku Akan Jadi Mata dan Kaki Ummi”: Kisah Cinta dan Pengandian Anak pada Ibu di Tanah Suci

Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas Deka Kurniawan memberi motivasi pada jamaah haji lansia dan disabilitas Junaina M Tayyib di Madinah.

Share on FacebookShare on Twitter

Demi sang ibu, Fatimah memilih tinggal di Madinah dan melewatkan keberangkatan rombongan ke Makkah

13 Tahun Menunggu, Bahagia Itu Akhirnya Datang

MADANINEWS.ID Jember – Bagi Fatimah Zahro (50), panggilan berhaji tahun ini bukan sekadar anugerah, tapi jawaban dari penantian panjang selama 13 tahun. Namun yang membuat air matanya jatuh bukan hanya kabar keberangkatan dirinya, melainkan karena sang ibu, Junaina M Toyyib (78), yang seharusnya berangkat tahun depan, juga bisa menunaikan rukun Islam kelima bersamanya.

Senyum Fatimah merekah ketika tahu mereka satu rombongan. Tapi di balik senyum itu ada kesadaran besar: ibunya adalah penyandang disabilitas ganda—buta, lumpuh, dan lanjut usia. Sejak komplikasi diabetes merenggut penglihatan dan fungsi motorik sang ibu pada 2016, Fatimah telah menjadi perawat setia.

“Aku akan jadi mata dan kaki tangan ummi selama di Tanah Suci,” ujar Fatimah dengan nada bergetar, sesaat sebelum bertolak dari embarkasi Surabaya bersama sang ibu dan suaminya.

Mereka tiba di Madinah pada 11 Mei lalu bersama kloter 31. Di sana, Fatimah dan Junaina tekun menunaikan arbain—shalat wajib 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi. Meski suhu menyengat, semangat ibunya tak pernah luntur. “Ummi selalu ingin di shaf terdepan,” kata Fatimah.

Terpisah Manifes, Fatimah Menolak Naik Bus ke Makkah

Namun takdir kembali menguji. Menjelang keberangkatan ke Makkah, nama Fatimah dan ibunya tak muncul di manifes bus yang sama. Sistem syarikah—perusahaan penyedia layanan haji di Arab Saudi—menempatkan mereka di bus berbeda karena perbedaan waktu daftar 13 tahun lalu.

Fatimah bersama suaminya tercatat di bus nomor 6. Sang ibu malah dimasukkan ke bus nomor 10, sendirian.

Tanpa ragu, Fatimah memutuskan mundur dari keberangkatan. Ia menolak meninggalkan ibunya.

See also  Pengumuman! Visa Ziarah Tidak Bisa Masuk Makkah Hingga 15 Zulhijjah 1445 H

“Saya langsung menolak. Saya tidak bisa tinggalkan ibu,” tegas Fatimah. “Ibu saya tidak bisa melihat. Ia harus ditemani, apalagi ini perjalanan panjang menuju Makkah.”

Suaminya pun harus melanjutkan perjalanan tanpa Fatimah. Perempuan tangguh itu memilih bertahan di Madinah demi ibunya. Di tengah aturan syarikah yang kaku, Fatimah tetap teguh. Tak peduli kalau ia harus menunggu tanpa kepastian bus pengganti.

Petugas Bergerak, Sistem Ditegakkan, Cinta Dibenarkan

Kisah Fatimah sampai ke telinga Siti Maria Ulfa, petugas sektor dua Madinah yang menangani jamaah lansia dan disabilitas. Ulfa langsung turun tangan. Ia bernegosiasi dengan pihak syarikah agar Fatimah dan ibunya bisa berangkat bersama.

“Saya bahagia sekali. Alhamdulillah, saya tetap bisa mendampingi ibu saya. Ummi tak bisa berjalan jauh, tak bisa melihat dunia. Tapi ia punya semangat luar biasa untuk berhaji. Saya tak akan biarkan ia sendirian,” ucap Fatimah, menahan tangis di lobi hotel tempat mereka menginap.

Ulfa menyusun skema khusus di luar sistem. “Saya harus sekuat tenaga membantu mereka. Saya punya ibu, dan saya belum bisa sepenuhnya berbakti padanya. Karena itu saya harus bantu mbak Fatimah dan ibu Junaina,” kata Ulfa.

Dari Hotel Abraj Tabah Tower, tempat sektor dua bermarkas, koordinasi dilakukan cepat dengan Daker Madinah. Keduanya akhirnya diberangkatkan secara mandiri ke Makkah, di luar jadwal resmi.

Di sisi lain, petugas terus menyemangati Fatimah. “Pasti nanti akan diberangkatkan,” janji Ulfa. Ia sadar, ini bukan soal aturan semata. Ini soal hati. “Kita petugas kan sudah berjanji akan melayani jamaah. Jadi itu harus kita kerjakan, bagaimanapun sulitnya kondisi jamaah kita.”

Apresiasi datang dari Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) Deka Kurniawan. “Ini bukan soal administrasi. Ini soal hati. Jamaah lansia dan disabilitas bisa mengalami stres berat kalau tidak bersama pendampingnya. Karena itu saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas inisiatif dan keberanian petugas,” ujar Deka.

See also  Catat! Jadwal Kunjungan Terbaru ke Pemakaman Baqi di Madinah

Kasus Fatimah dan Junaina memang bukan satu-satunya. Sejak sistem syarikah diberlakukan, banyak jamaah sempat terpisah dari keluarganya. Namun perlahan, satu per satu berhasil direunifikasi. Bahkan rombongan dari Diyar Taibah, yang sempat terpisah, akhirnya diberangkatkan bersama lewat 13 bus coaster.

PPIH Indonesia pun terus mendorong agar sistem ini menjadi lebih lentur. Negosiasi dengan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi dilakukan agar reunifikasi bisa terjadi, terutama menjelang puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Kini Fatimah sudah berada di Makkah bersama ibunya. Ia sadar, medan belum selesai. Tapi hatinya tenang. Karena ia telah memilih yang benar: cinta, bakti, dan kebersamaan. Ia akan berdoa lebih banyak, lebih lama. “Agar kami jadi haji yang mabrur, dan ummi pulang dalam keadaan sehat,” pungkasnya.

Tags: kisah jemaah haji
Previous Post

Perhatikan! Ini Aturan Pakaian & Etika Saat Ihram dan di Tanah Suci

Next Post

Suhu saat Wukuf Diprediksi Tembus 50°C, Jemaah Haji Diminta Fokus Ibadah di Dalam Tenda

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks