Optimalkan Peran Zakat di Era Disruptif, Dompet Dhuafa Terapkan VUCA

Penulis Abi Abdul Jabbar

IBADAH.ID, Perekonomian dunia dewasa ini terus bergerak cepat dengan membawa berbagai perubahan. Di tengah arus perubahan tersebut, inovasi teknologi mengambil peran besar dalam mengubah kecenderungan tren perilaku ekonomi di masyarakat.

Salah satu kecenderungan perilaku ekonomi yang berubah di masa yang dikenal dengan Era Disruptif ini adalah perilaku dari pelaku ekonomi yang tadinya cenderung bersifat owning menjadi lebih banyak bersifat sharing. Perilaku demikian nyatanya bukan saja berpengaruh terhadap bisnis dan industri, namun juga kepada lembaga filantropi salah satunya lembaga zakat.

Dalam seminar memperingati Hari Zakat yang diinisiasi oleh Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Universitas Indonesia pada Kamis (12/07) lalu, Dirut Dompet Dhuafa Filantropi, Imam Rulyawan berbagi tips bagaimana Dompet Dhuafa berkiprah di era disruptif. Menurut Imam, jika era disruptif kini kental dengan kondisi yang V.U.C.A (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity), maka Dompet Dhuafa pun menggunakan V.U.C.A untuk menghadapinya.

“Kita hadapi juga tantangan ini dengan VUCA (Vision, Understanding, Clarity, dan Agility). Pertama, dengan memiliki visi yang kuat Dompet Dhuafa terus bergerak hingga kini memasuki usia 25 tahun. Selanjutnya tips menghadapi era disruptif adalah dengan berusaha memahami dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Baik itu penyesuian dengan teknologi yang ada, maupun dengan peraturan yang dibuat oleh pemerintah.” Ujar Imam  dalam keterangan pers yang diterima ibadah.id, Minggu (15/07).

Menurut Imam, dalam mengimplementasikan 4 prinsip V.U.C.A tersebut untuk optimalisasi peran zakat, Dompet Dhuafa mempunyai 4 contoh strategi dalam bentuk program.

“Contoh program kami yang diinisiasi berdasarkan perkembangan kondisi antara lain beasiswa profesi, pembangunan rumah sakit, program grant making, dan situs crowdfunding. Beasiswa profesi kami inisiasi berdasarkan kondisi masa kini dimana banyak sarjana kedokteran yang tidak bisa membuka praktik karena tidak mampu membiayai biaya koas maupun biaya sekolah kedokteran profesi. Padahal kebutuhan akan tenaga medis semakin hari semakin banyak. Kedua, kami menginisiasi rumah sakit sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat akan kebutuhan akses kesehatan.” Ungkap Imam.

“Di bidang ekonomi, kami menyadari bahwa diluar sana sudah banyak masyarakat yang secara kreatif telah menciptakan inovasi-inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Mereka yang telah mempunyai ide-ide kreatif ini kami rangkul dengan memberi pembekalan dan pendampingan yang lebih profesional sehingga hasil yang didapatkan bisa lebih maksimal.” Tambah Imam.

Terakhir, kuatnya arus inovasi teknologi di era disruptif ditangkap oleh Dompet Dhuafa sebagai peluang untuk memperbesar bentangan kebaikan. Dompet Dhuafa pun meluncurkan kanal crowdfunding bawaberkah.org.

“Kanal ini memungkinkan para donatur untuk berdonasi sesuai dengan proyek kebaikan yang mereka inginkan. Dengan proses transaksi yang cepat, mudah, dan transparan, kanal ini bisa menjawab kebutuhan generasi masa kini yang mengedepankan kemudahan dan transparansi.”

Imam pun menutup presentasinya dengan mengungkapkan bahwa di era disruptif ini bukanlah mereka yang terkuat dan terpintar yang bisa bertahan. Namun yang mampu bertahan adalah mereka yang bisa beradaptasi dengan baik. Dan beradaptasi adalah salah satu kunci eksistensi Dompet Dhuafa selama 25 tahun berkiprah di dunia filantropi islam

BACA JUGA

Tinggalkan komentar