MADANINEWS.ID, JEDDAH — Kerajaan Arab Saudi menjadi tuan rumah “Konferensi Internasional tentang Perempuan dalam Islam: Status dan Pemberdayaan” (International Conference on Women in Islam: Status and Empowerment) yang diselenggarakan oleh Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Jeddah pada Senin (06/11). Acara dibuka oleh Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan bin Abdullah.
Dalam kesempatan tersebut Menteri Faisal menyoroti Isu isu sentral mengenai perempuan muslim di seluruh dunia. Ia menilai perempuan Muslim menghadapi banyak tantangan, pelecehan, dan diskriminasi di beberapa negara akibat undang-undang yang membatasi dan mempengaruhi hak-hak mereka, khususnya dalam hal pemaikan hijab, yang merupakan bagian dari Islamofobia.
Menurutnya, hal ini tidak patut dibenarkan karena bertentangan dengan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan yang diadopsi oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) pada tahun 1979.
Dilansir dari Saudi Press Agency, Pangeran Faisal juga mengucapkan terima kasih kepada delegasi yang berpartisipasi karena telah menanggapi undangan Kerajaan untuk mengadakan konferensi penting tentang perempuan dalam Islam.
Selain itu, Pangeran Faisal membahas berbagai tantangan yang dihadapi perempuan di wilayah yang dilanda perang, termasuk kekerasan, kemiskinan, ketakutan, marginalisasi, dan kurangnya layanan kesehatan dan pendidikan untuk anak-anak mereka.
Ia menekankan perlunya upaya bersama untuk melindungi dan mendukung kelompok yang paling rentan dan kurang beruntung.
Dalam hal ini, Pangeran Faisal juga mengecam dengan keras pelanggaran Israel yang terus-menerus terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan terhadap perempuan Palestina di Gaza, dan menyatakan keprihatinan atas sikap diam dan keengganan masyarakat internasional untuk memenuhi tugas dan tanggung jawabnya untuk menghentikan eskalasi, menyelamatkan nyawa, dan memastikan akses langsung terhadap konflik. bantuan kemanusiaan yang mendesak.
Pangeran Faisal menyampaikan kecaman Kerajaan atas pelanggaran dan praktik ilegal yang dilakukan mesin perang Israel terhadap perempuan Palestina dan seluruh rakyat Palestina. Dia memuji peran penting dan pengorbanan perempuan Palestina dalam memperjuangkan keadilan.
Menyoroti langkah Arab Saudi dalam memberdayakan perempuan sejalan dengan Visi Saudi 2030, Pangeran Faisal menyebutkan peningkatan signifikan dalam partisipasi perempuan dalam angkatan kerja dari 19,3% menjadi 37% sejak tahun 2016, kepemilikan mereka atas 45% usaha kecil dan menengah, dan peningkatan keterwakilan mereka dalam posisi kepemimpinan dari 17% menjadi 39%.
Beliau memuji upaya Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dalam memberdayakan perempuan dan menempatkan mereka di garis depan prioritasnya. Khususnya, Ia menyebutkan pembentukan sebuah organisasi khusus yang didedikasikan untuk pembangunan perempuan, yang dipimpin oleh pakar perempuan Saudi.
Sebagai penutup, Menlu mengumumkan dokumen resmi konferensi bertajuk “Dokumen Jeddah untuk Perempuan dalam Islam” yang mencakup hak-hak perempuan dalam Islam secara komprehensif. Dokumen ini dimaksudkan untuk menjadi referensi hukum, legislatif, dan ideologis yang berkontribusi terhadap realisasi pemberdayaan sebagai realitas hidup dalam masyarakat Islam.
