Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Maqam Ibrahim, Sejarah dan Fadilahnya

Mi'roji
19 April 2018 | 14:29
rubrik: Dunia Islam
Maqam Ibrahim, Sejarah & Fadilahnya

Maqam Ibrahim, Sejarah & Fadilahnya

Share on FacebookShare on Twitter

ibadah.id – Dari sudut bahasa, “al-maqam” berarti “tempat pijakan”. Maka, Maqam Ibrahim merupakan sebuah bangunan dengan batu kecil yang dibawa oleh Isma’il ketika membangunkan Ka’bah. Batu ini telah digunakan oleh Nabi Ibrahim untuk berdiri guna melengkapi bongkahan-bongkahan batu untuk membangun Ka’bah.

Maqam Ibrahim juga diucapkan sebagai Makam Ibrahim, merupakan bangunan (struktur) yang mencakup batu lebar kecil yang terletak kurang lebuh 20 hasta di sebelah timur Ka’bah. Tempat ini bukanlah tempat yang menjadi kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana dugaan atau pendapat kebanyakan orang. Sebaliknya di dalam bangunan kecil ini terdapat sebuah batu yang diturunkan oleh Allah dari Surga bersamaan dengan dengan batu-batu kecil lainnya yang terdapat di Hajar Aswad.

Batu Maqam Ibrahim dipelihara oleh Allah, saat ini sudah ditutupi dengan perak. Sedangkan bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim memiliki spesifikasi dengan panjang 27 cm, lebar 14 cm dan berkedalaman 10 cm serta masih nampak dan jelas dan dapat dilihat hingga sekarang.

Dahulu batu pijakan Nabi Ibrahim ini letaknya menempel tepat di samping ka’bah. Orang-orang terdahulu sengaja mendiamkannya karena batu ini bersejarah, namun mereka tidak meyakini keutamaan tertentu dari batu ini. Selanjutnya pada saat Umar Bin Khattab diangkat menjadi khalifah, jumlah umat Islam ketika itu pun semakin bertambah dan para jamaah yang thawaf pun semakin banyak.

Para sahabat ketika itu mulai merasakan posisi Maqam Ibrahim yang terletak di sisi Ka’bah semakin mengganggu lalu lintas para jamaah yang thawaf. Maka Umar pun memutuskan agar Maqam Ibrahim letaknya ditarik mundur sejauh lebih kurang 18 meter agar para jamaah lebih merasa nyaman dalam thawaf.

Para ulama dari kalangan sahabat ketika melihat kebijakan Umar ini tidak ada yang menentang. Mereka justru mengatakan bahwa Umar-lah orang yang paling berhak memindahkan letak Maqam Ibrahim. Karena melalui gagasan beliau Allah meridhainya sehingga turunlah wahyu dalam surat Al-Baqarah: 125.

See also  ICMI: Pemimpin Harus Berkata Baik atau Diam Saja

Saat ini, Maqam Ibrahim diletakkan dalam rumah kaca di samping Mul tazam, Ka’bah. Siapa pun yang berthawaf di Masjdil Haram dan berada dekat bangunan rumah Allah tersebut, ia akan bisa melihat Maqam Ibrahim.

Warna Maqam Ibrahim menyerupai warna perunggu, agak kehitam-hitaman. Cetakan kaki Nabi Ibrahim terbuat dari besi. Adapun rumah kaca sengaja dibuat untuk menghindari kerusakan prasasti jejak kaki Sang Pembangun Ka’bah, Nabi Ibrahim AS.

Saat musim haji, tentu bukan perkara mudah untuk bisa shalat sunah tepat di belakang Maqam Ibrahim. Selain dijaga petugas, ada larangan terhadap jamaah agar tidak berdoa di depan Maqam Ibrahim.

Alasannya, berdoa di depan Maqam Ibrahim dikhawatirkan mengandung penyembahan dan penghormatan yang berlebihan pada prasasti tersebut. Tidak heran kalau petugas disana selalu menghalau jamaah yang terlihat berdoa di depan Maqam Ibrahim. Petugas biasanya memberi peringatan jika Maqam Ibrahim hanya sebatas untuk dilihat, bukan untuk disembah.

Terlepas dari itu semua, prasasti Maqam Ibrahim mengandung muatan sejarah yang tak ternilai. Prasasti jejak kaki Ibrahim itu menunjukkan betapa Nabi Ibrahim membangun Ka’ bah dengan tangannya sendiri. Batu-batu yang digunakan juga bebatuan yang dibawa sang putra, Nabi Ismail. Setiap kali bangunan Ka’bah bertambah tinggi, semakin tinggi pula tempat pijakan Nabi Ibrahim. Di atas makam yang ditandai dengan sebuah batu dari surga ini pula Nabi Ibrahim menyerukan manusia supaya datang menunaikan ibadah haji.

Fadilah Maqam Ibrahim

Sama halnya dengan Hajar Aswad yang menempel di Ka’bah, Maqam Ibrahim juga memiliki keistimewaan (Fadilah). Jika Hajar Aswad mengandung sunah penghormatan dengan cara mencium atau mengusapnya, maka Maqam Ibrahim dihormati dengan melakukan shalat sunah di belakangnya. Hal ini juga dituliskan dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 125:

See also  Dari Hajar Aswad hingga Hijir Ismail, Ini 13 Bagian Ka'bah yang Wajib Diketahui Jemaah

“Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim tempat solat”

Terdapat pula hadis sahih yang diriwayatkan oleh Jabir mengenai sifat Haji Nabi Saw, bahwa: “Ketika sampai di Ka’bah bersama Rasulullah Saw, ia langsung mencium rukun Hajar Aswad, kemudian berlari-lari kecil tiga putaran, dan (selebihnya) yang empat putaran dengan jalan biasa (Tawaf). Lalu beliau menghadap ke Maqam Ibrahim dan membaca: “Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim tempat solat”, dan menjadikannya berada diantara dirinya dan Ka’bah”.

Nabi Muhammad Saw bersabda, bahwa Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim adalah dua batu yang datangnya dari surga, seandainya Allah tidak menghilangkan cahaya (dari) kedunya, niscaya ia akan menerangi Timur dan Barat secara keseluruhan. Sementara dalam riwayat dari Imam al-Baihaqi, disebutkan seandainya bukan karena dosa dan kesalahan manusia, maka kedua batu itu mampu menerangi timur dan barat.

Menurut Imam Hasan al-Basri dan ulama-ulama terkenal lainnga, berdoa didepan Maqam Ibrahim akan dikabulkan oleh Allah Swt. Bahkan, ada doa khusus sebelum dan sesudah shalat sunah di belakang Maqam Ibrahim. Tentu saja, doa khusus itu berada di antara doa-doa pribadi jamaah kepada Allah Swt.

Tags: Maqam IbrahimSejarah & Fadilahnya
Previous Post

Bila Harus Meninggalkan Salat Jumat Terus-Menerus Karena Pekerjaan

Next Post

Perumahan Baru untuk Karyawan Segera Hadir

Comments 2

  1. Pingback: Maqam Ibrahim, Sejarah & Fadilahnya - umrohamanah.com
  2. Jaka Sumpena says:
    5 years ago

    PERJALANAN SPIRITUAL MENUJU MAQAM IBRAHIM
    Kebanyakan manusia sering menyampaikan sesuatu yang dia sendiri tidak memahaminya.
    Banyak orang yang sekadar hafal dalil, tetapi sebenarnya dia tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh dalil itu. Akhirnya pemahaman yang keliru itu menyebar dan terbentuklah opini yang salah.
    Masyarakat yang dipenuhi dengan pemahaman dan opini yang salah sama dengan masyarakat yang dipenuhi sampah. Masyarakat demikian pasti rawan terhadap serangan penyakit. Oleh karena itu, masyarakat harus dibebaskan dari berbagai macam kebohongan. Masyarakat harus diajar dan dididik untuk memahami realitas kehidupan.
    Agar tidak saling membohongi, manusia harus kembali mengenal dirinya. Setiap orang harus dididik untuk menyadari perannya dalam hidup ini. Para cerdik cendekia harus mengerti fungsinya di dunia. Orang harus diajarka untuk bisa mengerti dunia ini sebagaimana adanya. Agama harus diajarkan sebagai jalan hidup dan bukan alat untuk meraih kekuasaan. Oleh karena itu, keimanan harus diajarkan dengan benar dan bukan sekadar diajarkan sebagai kepercayaan. Iman harus diajarkan sebagai penghayatan, pengalaman, dan pengamalan kebenaran.
    Ayat-ayat kitab suci harus dipahami berdasarkan kenyataan, dan tidak diindoktrinasikan serta diajarkan secara harfiah apalagi beraromamistik. Agama harus diajarkan secara arif dan bisa dibumikan, tidak terus menggantung di langit. Agama harus diterjemahkan dalam bentuk yang dapat dipahami dan dipraktikkan oleh masyarakat penerimanya.
    Kebanyakan manusia salah kaprah memaknai “MAQAM” dengan kuburan.
    Maka, ziarah Maqam, datang ke kuburan untuk melakukan do’a- do’a.
    Hal ini sudah berlangsung secara turun temurun, milyaran manusia terjebak dalam kegiatan keagamaan yang stagnan dan hampa makna.
    Ziarah ke “MAQAM” Ibrahim, datang ke kuburan nabi Ibrahim.
    Hal ini terjadi, dikarenakan manusia cenderung berpikir praktis, menerima apa yang disampaikan orang – orang yang dianggap berpengaruh tanpa mau mempertanyakan kebenarannya.
    Sudah saat nya kita sebagai manusia, memaksimalkan sarana yang dianugerahkan Allah, Tuan Semesta Alam, berupa Pendengaran, Penglihatan dan alat berpikir untuk mencari kebenaran fakta sejarah.
    MAQAM IBRAHIM Merupakan fakta sejarah untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang memaksimalkan alat bepikir.
    Dan kebenaran itu datangnya hanya dari Allah, Tuan Semesta Alam.
    Alkuran merupakan kumpulan firman Allah yang mampu menjelaskan berbagai fakta sejarah.
    Mari kita sama sama simak QS.12/111
    لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِى الْأَلْبٰبِ  ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
    Siapa yang di maksud “Mereka”, tentu orang orang yang telah dianugerahi Rahmat Oleh Allah, Tuan Semesta Alam.
    Fakta sejarah tentang kisah kisah mereka (MAQOM IBRAHIM) bukan hasil rekayasa syahwat manusia, akan tetapi berfungsi untuk meluruskan kembali, menjelaskan, petunjuk serta rahmat bagi orang orang beriman.
    Sebelum kita membahas makna MAQAM IBRAHIM, ada hal penting yang perlu digaris bawahi, yaitu kedudukan kita sebagai hamba Allah, yakni seorang manusia yang melaksanakan segala perintah dari perintah dan larangan Allah.
    Sebagai hamba Allah, tentunya memiliki komitmen yang kuat untuk tidak merugikan orang lain, selalu jujur dalam kehidupannya ( yaitu selalu memperbaiki diri), dan selalu istiqomah atau konsisten dalam menjalankan segala perintah Allah.
    Dengan menyadari kedudukan kita di sisi Allah, maka àkan memudahkan cara berpikir kita dalam mengaplikaksikan kehidupan untuk mencapai sesuatu yang ingin kita raih, sekaligus membuat kita semangat untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa di hadapan Allah Tuan Semesta Alam.
    Para Pelopor Misi Risalah Millah Abraham,yang di muliakan Tuan Semesta Alam.
    Dalam realitas kehidupan, tingkatan kedudukan itu merupakan hukum yang pasti, adanya kedudukan yang paling rendah, ada kedudukan yang selevel, ada kedudukan yang tinggi dan ada kedudukan paling tinggi baik itu hubungan manusia dengan Allah ataupun hubungan manusia dengan manusia.
    A. MAQOM IBRAHIM
    Kata “MAQOM IBRAHIM” bisa kita lihat pada QS.2/125 dan QS.3/97
    QS.2/125
    وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَّقَامِ إِبْرٰهِـۧمَ مُصَلًّى  ۖ وَعَهِدْنَآ إِلٰىٓ إِبْرٰهِـۧمَ وَإِسْمٰعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَالْعٰكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُود
    “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan bayyita ( rumah ) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ism’ail, Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang rukuk, dan orang yang sujud.
    …..” Dan jadikanlah Maqom Ibrahim itu tempat sholat.
    وَاتَّخِذُوا مِنْ مَّقَامِ إِبْرٰهِـۧمَ مُصَلًّى
    QS.3/97
    فِيهِ ءَايٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ إِبْرٰهِيمَ  ۖ وَمَنْ دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا  ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا  ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ الْعٰلَمِين َ
    “Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”
    …..” pada Maqom Ibrahim terdapat tanda tanda ( kekuasaan Allah ) yang jelas”…Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia
    فِيهِ ءَايٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ إِبْرٰهِيم
    وَمَنْ دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا
    Kedua ayat diatas menjelaskan bahwa Maqam Ibrahim itu merupakan tempat berkumpul dan tempat yang aman, disanalah ada tanda tanda kuasaan Allah.
    Jadi, Maqom Ibrahim bukan kuburan nabi Ibrahim, karena kuburan nabi Ibrahim sesuai fàkta sejarah adanya di kota Hebron Palestina, bukan di Arab.
    Dijelaskan pada ayat di atas, Maqam Ibrahim merupakan tempat berkumpul dan tempat yang aman, disanalah ada tanda tanda kuasaan Allah.
    Nabi Ibrahim disisi Allah (QS.4/125)
    وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرٰهِيمَ حَنِيفًا  ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرٰهِيمَ خَلِيلًا
    “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan-(Nya).”
    Jadi Maqom Ibrahim adalah kedudukan Nabi Ibrahim yang di muliakan atau ditinggikan derajat nya sebagai kesayangan Allah.
    Untuk menjadi manusia kesayangan Allah, nabi Ibrahim berjuang dengan penuh kesadaran sebagai hamba Allah, mengorbànkan jiwa dan raga nya melalui tahapan ujian panjang yang penuh dengan berbagai rintangan.
    B. PROFIL IBRAHIM (QS.60/4)
    قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِىٓ إِبْرٰهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءٰٓؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدٰوَةُ وَالْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَىْءٍ  ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
    “Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja, kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu. (Ibrahim berkata), Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,”
    Ibrohim merupakan satu satunya nabi yang disebut dalam Al-Qur’ an sebagai suri teladan yang baik dalam membumikan aqidahnya. Beliau rela meninggalkan keluarga dan bangsanya demi satu visi, mengembalikan manusia kepada jati dirinya, yakni menjadi hamba Allah Tuan semesta Alam.
    Sebut saja, bagaimana visionernya nabi Ibrahim tatkala mengorbankan anak yang dicintainya, di “buang” pada suatu tempat yang sebelumnya tidak ada kehidupan. Kurang lebih 3000 tahun kemudian, kaderisasi nabi Ibrohim pada anaknya, Ismail berhasil membangun sebuah peradaban baru melalui Rasul Muhammad menjadikan Madinah sebagai mercusuar dunia.
    C. PERJUANGAN IBRAHIM
    1. Di awali dengan satu komitmen kesatuan visi dan misi.
    Pada QS.2/125 diatas, Allah menyatakan :
    وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ
    “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan bayyita ( rumah ) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia.
    Menjadikan rumah tempat berkumpul mempunyai makna : Menjadikan sebuah komunitas dalam satu visi dan misi. Tentu didalamnya terkandung sebuah komitmen yang mengikat antara kedua belah pihak, yang perlu di implementasikan secara paripurna.” Memperbaiki akhlak, memperkuat keyakinan, yakni : kesadaran akan kehendak dan rencana Tuan Semesta Alam, mensucikan jiwa serta menyadari kedudukan sebagai hamba”.
    Dialektika Perjanjian Ibrahim dengan Tuàn Semesta Alam ( QS.2/124 )
    وَإِذِ ابْتَلٰىٓ إِبْرٰهِـۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ  ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا  ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِى  ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِين
    “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia. Dia (Ibrahim) berkata, Dan (juga) dari anak cucuku? Allah berfirman, (Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.
    Kejadian 17: 1-5
    Ketika Abram berumur 99 tahun, maka Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya, ” Akulah Allah yang maha kuasa, hiduplah dihadapan Ku dengan tidak tercela”
    Aku akan mengadakan perjanjian dengan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak.
    Lalu sujud lah Abram, dan Allah berfirman kepadanya :
    “Dari pihak ku inilah perjanjian Ku dengan engkau : Engkau akan menjadi bapak sejumlah besar bangsa”
    Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah kutetapkan menjadi bapak sejumlah besar bangsa.
    Nabi Ibrahin mendapat mandat dari Allah, Tuan Semesta Alam melalui perjanjian yang mengikat, untuk senantiasa melaksanakan segala perintah dari perintah dan larangan Allah Tuan Semesta Alam.
    Nas itu kini ada pada kita, tanggung jawab sebagai syaksi Allah untuk menggenapi segala kehendak dan rencana-Nya ada di pundak generasi spiritual MILLAH ABRAHAM.
    Atas Nama Tuan Semesta Alam Yang Maha Pengasih dan Penyayang
    Saya bersyaksi
    Atas Nama Tuan Semesta Alam yang maha pengasih dan penyayang artinya ; keberadaan kita di muka bumi menyandang tugas dari Tuan Semesta Alam. Segala pikir,ucap dan perilaku menyatu dengan kehendak dan rencana Tuan Semesta Alam dengan dasar kasih dan sayang.
    INNA SHOLATI WA NUSUQI WA MAYAHYA WA MAMATI LILLAHI ROBBIL ALAMIN.:
    1. Bahwa, tidak ada Tuan yang saya patuhi kehendak dan perintahnya, selain Tuan semesta Alam, Tuan yang Maha Esa.
    Konsekwensinya menyadari sebagai hamba yang hanya melaksanakan segala perintah dari perintah dan larangan Tuan Semesta Alam.
    2. Bahwa, Mesias adalah syaksi Tuan Semesta Alam, untuk menggenapi segala kehendak dan perintah-Nya bagi ummat manusia.
    Karakter Mesias yang di tanamkan Tuan Semesta Alam, untuk melaksanakan misi penyelamatan manusia.
    3. Dibawah bimbingan syaksi-syaksi Tuan Semesta Alam,saya sanggup berkorban harta dan diri saya, untuk mewujudkan kehendak dan rencana Tuan Semesta Alam yang akan menjadikan kehidupan damai sejahtera di muka bumi.
    Untuk mencapai kondisi yang di kehendaki Allah ( menjadi ummat kesayanagan Allah ) memerlukan pengorbanam jiwa dan raga.
    Jihad yang sesungguhnya QS.22/78
    وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَا دِهٖ ۗ هُوَ اجْتَبٰٮكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ ۗ مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَ ۗ هُوَ سَمّٰٮكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّا سِ ۖ فَاَ قِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰ تُوا الزَّكٰوةَ وَا عْتَصِمُوْا بِا للّٰهِ ۗ هُوَ مَوْلٰٮكُمْ ۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
    “Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”
    2. Segala aktivitas hidupnya berorientasi menuju Maqom Ibrahim (kesayangan Allah)
    وَاتَّخِذُوا مِنْ مَّقَامِ إِبْرٰهِـۧمَ مُصَلًّى  ۖ وَعَهِدْنَآ إِلٰىٓ إِبْرٰهِـۧمَ وَإِسْمٰعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَالْعٰكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُود
    Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ism’ail, Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang rukuk, dan orang yang sujud.
    Menjadikan Maqom Ibrahim sebagai arah perjuangan termasuk didalamnya melaksanakan prinsip prinsip dasar nya yaitu proses kebersihan lahir dan batin guna memuluskan perjalanan mencapai kedudukan sebagai kesayangan Allah ( maqom Ibrahim ) yakni dianugerahkan kuasa untuk memimpin manusia.
    Tentu dalam proses nya diperlukan kedisiplinan dalam melaksanakan segala perintah dari perintah dan larangan Allah melalui tahapan ujian mencakup hasrat mencapai kesucian lahir dan batin, memahami esensi kehidupan, pencarian Tuhan dan pencarian kebenaran sejati (ilahiyyah)
    Prosesi perjuangan Ibrahim dalam menggenapi perintah Tuan Semesta Alam,di abadikan dalam paparan do’a do’a yang tertuang dalam QS.( 2/126- 129 )
    3. MISI PENYELAMATAN
    Mendambakan agar negerinya menjadi negeri yang makmur, harmonis, aman, sentosa. ( QS.Al-Baqaràh 126 )
    وَإِذْ قَالَ إِبْرٰهِـۧمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُۥ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْأَاخِرِ  ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُۥٓ إِلٰى عَذَابِ النَّارِ  ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
    “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhanku, jadikanlah ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, Dia (Allah) berfirman, Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
    “Al Balad” pada ayat tersebut artinya “negeri” yakni bagian dari bumi yang dihuni oleh satu komunitas manusia yang terikat dalam satu komitmen atau ikrar sebagai syaksi Tuan Semesta Alam.
    Jadi yang dimaksud “Al-Balad” pada ayat diatas, bukan merupakan institusi kekuasaan atau berupa kelembagaan apapun.
    Artinya ; Bersama siapapun, Muslimin berkomunitas di suatu “negeri”, mereka akan berkontribusi untuk kemakmuran dan keamanan negerinya. Bukan sebaliknya, malah membuat masalah, kerusuhan, kekacauan bahkan menebar bencana sepanjang zaman.
    ( LA ILAH ILLA ALLAH )
    4. MENINGKATKAN MARTABAT
    Memiliki semangat untuk membangun dan meningkatkan peradaban yang diwarisi dari pendahulunya (sebagai prestasi mereka), itulah pengabdian (ibadah) kepada Allah. (Al Baqoroh : 127)
    وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرٰهِـۧمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ  ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
    “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
    Bahwa, pengabdian/Ibadah kepada Allah adalah aktivitas yang dilakukan dengan berorientasi kepada kehendak dan rencana Allah, selaras dengan program Allah. Bukan berbagai suguhan kebaktian/ritus, sedangkan aktivitas hidup malah merusak peradaban, menghambat kemajuan dan juga membuat kekumuhan dan kejumudan kultural.
    5. MENINGKATKAN KUALITAS IMAN DAN TAQWA
    Segenap keluarga dan keturunannya (genarasi penerusnya) diharapkan tetap konsisten sebagai Ummat Muslimin yang sepenuh jiwanya tunduk patuh kepada Allah yang disampaikan melalui para Imam.(Al Baqoroh : 128)
    رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ  ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
    “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak-cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
    Menjaga, memuliakan dan melestarikan pengabdian yang benar, bermakna dan legal berdasarkan ketetapan dan petunjuk Allah. Bukan berbagai bentuk ritual yang diada-adakan dan diatur sendiri (bid’ah/iftiro) apalagi beraroma mistis, hayali dan hampa makna.
    6. MENINGKATKAN MORALITAS DAN KARAKTERISTIK
    Berharap agar senantiasa dimunculkan seorang Rosul di kalangan generasi penerusnya, yang mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Hikmah serta memimpin dan menjaga mereka untuk tetap dalam kesucian, dan kebersihan jiwa. ( QS. Al-Baqarah 129 )
    رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ  ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُï
    “Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
    Demikianlah paparan firman Tuan Semesta Alam tentang perjalanan spiritual menuju Maqom Ibrahim. Yang diabadikan melalui rangkaian doa-doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur-an, merupakan arah dan cita-cita perjuangan Nabi Ibrahim sebagai ummat perjanjian menuju tanah yang dijanjikan Tuan Semesta Alam. Jelas tergambar suatu visi dan cita-cita perjuangan yang suci dan mulia, serta sangat manusiawi (sesuai fithrah manusia).
    Kejadiaan 17 : 4
    “Dari pihak ku inilah perjanjian Ku dengan engkau : Engkau akan menjadi bapak sejumlah besar bangsa”
    QS.24/55
    وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا  ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْئًا  ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُونَ
    “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
    Kejadian : 17 ; 5
    Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah kutetapkan menjadi bapak sejumlah besar bangsa.
    Maka Sangatlah logis dan pantas sekali bahwa Allah menegaskan, betapa bodohnya orang-orang yang enggan atau tidak menyukai Millah Abraham sebagai konsep dan arah perjuangan menegakkan keadilan, menciptakan perdamaian dan kesejahteraan ummat manusia.
    (Al-Baqarah ayat 130 )
    وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ إِبْرٰهِـۧمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُۥ  ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنٰهُ فِى الدُّنْيَا  ۖ وَإِنَّهُۥ فِى الْأَاخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِينَ
    “Dan orang yang membenci agama Ibrahim, hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Dan sungguh, Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini. Dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh.”
    Ayat tersebut, merupakan penutup (conclusion) dari apa yang Allah ungkapkan sebagai harapan dan cita-cita perjuangan Ibrahim pada Al Baqoroh : 126 – 129.
    Dengan demikian perjalanan spiritual Ibrahim menuju ummat kesayangan Allah yang selanjutnya disebutkan dengan “Millah Abraham”, merupakan arah dan cita cita generasi spiritual MILLAH ABRAHAM.
    Demikianlah, dihubungkan dengan pengertian yang sebenarnya tentang “mengikuti Rosul” yaitu “berjalan di belakangnya” atau “berjalan mengikuti jejak langkahnya”, maka ketika Rosul sudah tiada, jejak langkahnya pun telah berlalu ditelan waktu, dan Allah menyatakan bahwa hal yang sudah berlalu itu termasuk pekara gaib yang hanya Allah saja yang mengetahuinya, maka yang harus dicari tahu itu adalah: “Kemana Rosul menuju ?”.
    Jawabannya jelas sekali bahwa Rosulullah itu diperintah Allah untuk mengikuti Millah Abraham. Ini berarti bahwa siapapun yang ingin mengkuti Rosulullah, berarti merekapun harus mengikuti Millah Abraham, sebagai landasan pejuangan, bukan malah menentangnya. (QS.16/120-123)
    إِنَّ إِبْرٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
    “Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik ( mempersekutukan Allah )
    شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ  ۚ اجْتَبٰىهُ وَهَدٰىهُ إِلٰى صِرٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
    “dia mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus.”
    وَءَاتَيْنٰهُ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً  ۖ وَإِنَّهُۥ فِى الْأَاخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِينَ
    “Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang yang saleh.”
    ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرٰهِيمَ حَنِيفًا  ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
    “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.”
    Inilah jawaban yang selama hidup kita pinta kepada Allah 17 kali dalam sehari :
    اهْدِنَا الصِّرٰطَ الْمُسْتَقِيم َ
    “Tunjukilah kami jalan yang lurus,”
    Terjawablah harapan panjang kita bahwa yang dimaksud “SIROT AL MUSTAQIM” itu adalah perjalanan atau perjuangan nabi Ibrahim menuju ummat kesayangan Allah.
    Dan sudah sepatutnya bagi orang-orang yang mengikuti sunnah nya menjadikan “MILLAH ABRAHAM” sebagai dasar dan arah perjuangan.
    قُلْ إِنَّنِى هَدٰىنِى رَبِّىٓ إِلٰى صِرٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرٰهِيمَ حَنِيفًا  ۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
    “Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.”
    Dengan demikian Jalan Spiritual menuju “MAQAM IBRAHIM” menurut paparan Firman Allah adalah “Sirot Al Mustaqim” itu sendiri, yaitu jàlan para Rasul Allah dalam menegakkàn Din Al-Islam.
    DAMAI SEJAHTERA

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks