Buruk Sangka kepada Allah

Penulis Abi Abdul Jabbar

 

Oleh: Muhamad Zain Aziz (1974-2018) * 

Jamaknya orang berburuk sangka kepada sesama. Mencurigai saudaranya secara berlebihan, tidak lagi punya trust/kepercayaan, hilang respek bahkan dendam. Itulah mengapa Islam sangat tegas memperingatkan kita agar tidak terjatuh pada perilaku buruk sangka atau berpikiranan buruk kepada sesama. Nabi bersabda: tinggalkanlah buruk sangka, sebab sebagian besar buruk sangka adalah dosa (kesalahan).

Namun, yang tidak jamak adalah berpikiranan negatif/buruk sangka kepada Allah, Tuhannya sendiri, Penciptanya sendiri, Pemberi rezekinya sendiri. Tidak jarang kita mengeluh, meratap, bahkan diam-diam memprotes “keputusan” Tuhan, menuduh Tuhan tidak adil, tidak memperhatikan kita, membiarkan kita, padahal klaim kita ribuan doa sudah dipanjatkan dan aneka ibadah sudah ditegakkan. Itulah sedikit potret tentang suuddzon kepada Allah, yang ternyata efeknya justru lebih berbahaya daripada buruk sangka kepada sesama makhluk, meski sama-sama dilarang.

Dalam sebuah riawayat, Rasul pernah mewanti-wanti agar jangan sampai dicabut nyawa kita kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah SWT. Artinya, karena kita tidak tahu kapan nyawa kita akan dicabut, maka sepanjang hidup, kita harus berpikiran positif kepada Allah, jangan sekali-kali pernah punya prasangka jelek kepada Tuhan, apa pun kondisi kita.

Nah, mari kita mengenali sejak dini, gejala penyakit suuddzon billah (prasangka buruk kepada Allah) ini, dengan harapan kita bisa memahami hakikat menjadi hamba yang ikhlas dalam  menjalani hidup dengan ringan dan tanpa beban.

Imam Syafi’i mendiagnosis ada tiga indikasi seseorang terkena gejala suuddzon billah dalam kehidupannya.

Pertama, rasa was-was.

Ragu-ragu adalah sesuatu yang manusiawi, akan tetapi jika overdosis atau berlebihan, maka ia berubah menjadi was-was. Selalu merasa ada yang kurang, ada yang salah, ada yang tidak sesuai, tidak pas, selalu gelisah dan serupanya, baik ketika beraktivitas, berinteraksi, terlebih ketika beribadah.

Kadangkala kita menjumpai seseorang berwudhu tidak selesai-selesai, hingga menghamburkan air wudhu berliter-liter, gegara rasa was-was saat berniat. Begitu juga ada seseorang memulai sholat dengan takbir yang diulang-ulang mirip salat Ied, tidak beres-beres, akibat was-was dan ragu yang berlebihan hingga ketinggalan imam yang sudah ruku’. Dalam ibadah, was-was dicela oleh syariat.

Dalam kehidupan, ada orang yang selalu was-was saat meninggalkan rumah. Ia merasa apakah sudah mematikan kompor, menutup keran air, mengunci pintu dsb. Ketika bekerja pun demikian, tidak ada kemantapan, hilang percaya diri, minder berlebihan, selalu ada yang salah dalam pekerjaannya.

Sejumlah perilaku diatas adalah gejala suuddzon kepada Allah, berpikiranan negatif kepada Tuhan. Kenapa? Karena ia merasa tidak yakin bahwa Allah ada untuk melindunginya. Seakan-akan ia hidup sendiri tidak ada Yang mengaturnya. Seakan-akan tidak ada celah bagi Allah untuk menoleransinya ketika ia harus salah, lupa, dan alpa. Secara tidak sadar ia sudah terjebak pada gejala awal berburuk sangka kepada Allah.

Kedua, perasaan takut secara terus menerus atas terjadinya suatu musibah.

Pernah mendengar ada orang yang tidak mau naik pesawat takut jatuh, tidak mau naik kapal takut tenggelam, tidak mau naik kereta api takut terguling dsb?

Dalam ilmu psikologi terdapat selusin jenis fobia atau ketakutan yang berlebihan atas terjadinya sesuatu atau paranoid. Dari fobia ketinggian hingga fobia terhadap jenis makanan tertentu.

Ketakutan adalah hal wajar yang dialami manusia. Menjadi tidak wajar jika sudah dihinggapi rasa cemas dan ketakutan yang di luar logika, tidak beralasan dan di luar kewajaran. Hanya karena melihat mendung hitam, berhari-hari ia tidak mau keluar rumah, bahkan perjalanan penting pun ia batalkan. Seakan-akan musibah besar akan menghadang, kecelakaan dan tragedi akan terjadi, padahal tidak ada apa-apa. Termasuk dalam hal ini adalah percaya pada hari-hari sial, angka-angka sial dan situasi-situasi lainnya yang menyurutkan keimanan kita kepada Sang Maha Pengatur alam semesta.

Mengapa hal ini dianggap berburuk sangka kepada Allah?

Sebab ia sudah terkikis kepercayaannya bahwa yang menciptakan aman dan mara bahaya adalah Allah semata. Ketika ia belum apa-apa sudah berprasangka buruk akan terjadi suatu bencana, entah itu kecelakaan, kebakaran, atau yang lainnya, maka ia sudah “memvonis” Tuhan telah merencanakan hal yang buruk baginya. Tuhan telah disangkanya hendak berbuat jahat kepadanya. Naudzubillah.

Ketiga, mengintai larinya kenikmatan.

Dalam sebuah hadis, Nabi menyatakan bahwa nikmat ibarat hewan liar, maka harus diikat dengan mensyukurinya. Rasa syukur adalah tali pengikat yang kuat sehingga nikmat tidak gampang lari meninggalkan kita. Begitulah cara kita menjaga nikmat, mensyukurinya.

Namun, tidak jarang sebagian dari kita menjaga nikmat dengan cara yang menonjolkan sisi materi fisiknya secara absurd. Karena khawatir hilangnya nikmat tersebut, lalu mengawasinya dengan rasa kecemasan di luar logika. Ia memantaunya dengan ketat, mengintai agar jangan sampai lari. Sebentar-bentar dilihat dompetnya, memastikan bahwa uangnya aman. Sebentar-bentar mengecek saldo atm-nya, sebentar-bentar ditengok mobilnya dari ujung ke ujung, adakah yang tergores, lecet dsb. Ada rasa takut kehilangan nikmat materi.

Kekayaan materi dunia selalu menggelayut di hatinya, bahkan ketika berkomunikasi dengan Tuhannya (sembahyang), yang ada di pikiranannya adalah kecemasan akan hilangnya harta, jabatan, profesi, karier, dan kenikmatan dunia lainnya.

Ia jadi tidak khusyuk dalam bermunajat, sebab terbayang motornya yang terparkir di pinggir jalan raya, terbayang sepasang sepatu seharga ratusan ribu yang ia taruh di depan masjid, jangan-jangan hilang, tertukar, dicuri dsb.

Langsung atau tidak langsung, sikap selalu memantau hilangnya nikmat adalah perilaku buruk sangka yang akut terhadap Allah SWT. Ia seakan sudah tidak lagi mempercayai bahwa kenikmatan datangnya dari Allah, lebih dari itu, ia tidak lagi percaya bahwa Allah maha penjaga, maha pelindung.

Pembaca, mari kita merenung adakah di antara kita terjangkit penyakit suuddzon kepada Allah, berpikiran negatif terhadap ketentuan dan takdir-Nya? Mari kita diagnosis sesuai resep analisis Imam Syafii di atas. Jika memang ada, segera mari kita singkirkan dan kikis habis perasaan itu.

Caranya adalah pertama, dengan memperkuat totalitas kepasrahan kita, tawakal kita kepada Allah, dzat yang Maha pengatur alam semesta. Kedua, dengan senantiasa mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkan. Ketiga, menghilangkan rasa was-was semaksimal mungkin. Pasrahkan semua kepada Allah. Hilangkan keragu-raguan. Waspada penting dan harus, tetapi was-was wajib dihapus. Keempat, usaha riyadhoh bathiniyah dengan senantiasa memperbanyak membaca surah muawwidhatain (an-naas dan al-falaq) agar dijauhkan dan dijaga Allah dari sikap was-was, gelisah, cemas dan ragu-ragu, yang datang baik dari jin maupun manusia (minal jinnati wan naas).

Wallahu a’alam.

* Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Ibadah edisi 15 Februari-14 Maret 2018

BACA JUGA

1 komentar

M RIDWAN 29 July 2020 - 9:10 am

Orang yang tidak mampu boss

Balas

Tinggalkan komentar