Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Pontianak, Kota Seribu Warung Kopi

Abi Abdul Jabbar Sidik
10 April 2018 | 14:55
rubrik: Ekonomi Syariah, Indeks
Sumber: Internet

Sumber: Internet

Share on FacebookShare on Twitter

 

Oleh: Nuris Romeiyani*

Tahun 2018 menjadi era keemasan bagi bisnis warung kopi di Pontianak. Tak hanya kalangan pekerja saja yang kerap melepas penat dengan bersantai di warung kopi atau menggunakan warung kopi sebagai lokasi untuk rapat.

Banyak dari kalangan mahasiswa dan pelajar juga memanfaatkan warung kopi sebagai tempat untuk mengerjakan tugas. Jadi selain menikmati kopi, mereka juga dapat menyelesaikan tugas bersama. Pelaku bisnis online pun seolah tak ingin ketinggalan untuk melakukan transaksi COD (Cash on Delivery) di warung kopi.

Dampak Krisis Moneter

Jika kita mundur ke tahun 1998 yang lalu, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar juga ikut mempengaruhi perekonomian masyarakat Pontianak. Bagaimana tidak, jika dulu dengan uang lima ribu rupiah kita sudah bisa membeli nasi dengan lauk ayam goreng potongan besar lengkap dengan sayur dan sambalnya, dan menikmati kopi dengan harga seribu rupiah per cangkir, maka sekarang untuk porsi yang sama kita harus merogoh dompet lebih dalam. Terlebih lagi, kenaikan harga secara massal tersebut tidak diiringi dengan kenaikan pendapatan masyarakat pada saat itu.

Sementara itu, para pengusaha terutama pengusaha kuliner harus berpikir keras bagaimana menyajikan produk yang berkualitas namun dengan harga terjangkau. Di sisi lain, harga perolehan bahan baku masih cukup mahal. Terlebih jika bahan baku tersebut didatangkan dari luar pulau yang berpotensi menambah biaya pengiriman.

Kemunculan Warung Kopi Sebagai Satu Cabang Dari Bisnis Kuliner di Pontianak

Memasuki tahun 2010, bisnis kuliner kembali memiliki peluang besar untuk berkembang. Perkembangan pesat bisnis kuliner di Pontianak dapat dibuktikan dengan menjamurnya puluhan gerai makanan dan ratusan warung kopi. Hal ini ditandai dengan pembukaan warung kopi baru hampir setiap minggunya di berbagai lokasi di Pontianak.

Saat itu, warung kopi yang bermunculan di Pontianak masih berupa warung kopi tradisional. Tidak seperti warung kopi modern yang banyak tersebar di Jakarta yang pada umumnya sudah dilengkapi dengan mesin espresso yang canggih, warung kopi tradisional masih menggunakan alat seduh tradisional yang berupa saringan kain dan teko kuningan.

See also  UMKM Harus Tangguh dalam Menyongsong Kebangkitan Ekonomi Islam

Warung kopi tradisional ini menyajikan berbagai fasilitas yang mampu membuat kita betah berjam-jam bersantai disana. Selain musik, sebagian besar pebisnis dengan berani memfasilitasi warung kopi nya dengan Wi-Fi yang super kencang. Tentunya dengan biaya bulanan yang juga tidak sedikit. Beberapa warung kopi bahkan menyediakan proyektor dan layar dan mengadakan sesi nonton sepakbola bersama. Fasilitas ini biasanya disediakan oleh warung kopi dengan jam operasional 24 jam nonstop.

Namun, di awal tahun 2016 beberapa warung kopi telah memodifikasi cara penyajian kopi mereka dengan teknik Manual Brew. Teknik ini mampu menghasilkan espresso cukup dengan menggunakan alat penyaringan khusus yang dipergunakan secara manual. Contohnya Vietnam Drip, Hario V60, Moka Pot, French Press, Acupress dan Syphon. Selain dapat menghapus biaya pembelian mesin hal ini pun dapat mendorong penjualan produk dengan harga lebih terjangkau.

Dengan penggunaan teknik baru, kopi yang digunakan bisa bervariasi antara biji (beans), gilingan medium (bubuk kasar) atau gilingan halus (bubuk). Teknik roasting atau pembakaran juga menghasilkan kopi bervariasi dari light (pembakaran singkat yang menghasilkan warna biji kopi cenderung pucat), medium (pembakaran standar yang menghasilkan warna biji kopi cenderung coklat muda) hingga dark (pembakaran dengan waktu yang agak lama yang menghasilkan warna biji kopi cenderung coklat kehitaman). Perbedaannya terletak pada rasa, dimana kopi yang dark roasted cenderung lebih pahit dibanding kopi yang light atau medium roasted. Pilihan produk yang bervariasi diharapkan dapat memenuhi keinginan pengunjung yang beraneka ragam.

Pada awal 2017 telah muncul beberapa warung kopi modern di sekitar Pontianak. Hanya saja jika dibandingkan dari segi harga, satu gelas kopi di warung kopi modern harganya berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 45.000. Sedangkan di warung kopi tradisional, dengan uang lima ribu rupiah kita sudah bisa menikmati secangkir kopi hangat yang nikmat. Namun setiap produk memiliki pasar nya masing-masing, Jadi baik warung kopi tradisional maupun modern tetap sama-sama ramai pengunjung.

See also  OJK Luncurkan Merger Perusahaan Daerah (PD) BPR Kabupaten Cirebon

Bisnis Warung Kopi Memberi Dampak yang Cukup Besar Bagi Perekonomian Kota Pontianak

Kebutuhan kopi yang semakin meningkat didukung pula dengan pesatnya pertumbuhan perkebunan kopi di daerah Punggur, Pontianak. Jika pada awalnya para pebisnis warung kopi hanya menggunakan kopi bubuk kemasan atau memasok langsung kopi dari Sumatra dan daerah penghasil kopi yang lain, kini mereka dapat memasok langsung dari petani lokal di Punggur. Hal ini tentunya dapat menghapus ongkos pengiriman. Harga kopi lokal pun cenderung lebih terjangkau dibanding kopi dari daerah lain.

Dengan  demikian, dapat dikatakan bahwa perkembangan bisnis warung kopi di Pontianak turut memperbaiki kondisi perekonomian masyarakatnya terutama yang bukan dari kalangan pegawai pemerintahan, pegawai swasta maupun wirausahawan non-kopi. Dengan tumbuh suburnya warung-warung kopi yang baru tentunya mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan mengurangi pengangguran. Apalagi jika seluruh pebisnis warung kopi di Pontianak memasok kopi dari petani kopi lokal. Hal ini dapat mensejahterakan kehidupan para petani kopi lokal dan membentuk sistem tatanan ekonomi yang baik dan saling menguntungkan di antara pihak pelaku bisnis kopi di Pontianak.

Sebagai contoh kita bisa lihat Aming Coffee, salah satu pioneer warung kopi di Pontianak yang sukses menjual minimal enam ratus gelas perhari, apalagi ditambah dengan penjualan produk lainnya, omsetnya mampu mencapai ratusan juta rupianh dalam sebulan. Dengan jam kerja dari pukul 05.30 hingga pukul 23.00, Aming Coffee telah berhasil memberi lapangan kerja bagi 25 orang karyawannya.

Aming Coffee bahkan sudah memiliki brand sendiri untuk produk kopinya. Anda bahkan bisa memilih ingin membeli kopi dalam bentuk bubuk atau biji. Harganya pun relatif terjangkau, yaitu sekitar Rp 70.000 per kilogram, kopi tersedia dalam berbagai ukuran kemasan. Bahkan pelancong dari luar Pontianak pun tak lupa untuk membeli kopi tersebut sebagai oleh-oleh khas Pontianak. Mengapa kopi dari Aming Coffee bisa dijual dengan harga yang terjangkau? Karena Aming Coffee memasok kopi langsung dari petani kopi lokal di Pontianak. Dan perlu diingat pula, dengan omset yang luar biasa tersebut Aming Coffee turut memberi kontribusi yang positif terhadap pendapatan pajak daerah Pontianak.

See also  Mandiri Syariah Luncurkan Platform Wakaf Digital "Jadiberkah.id"

Kendati demikian, selama kurun waktu sembilan tahun, yakni dari tahun 2010 hingga sekarang, pertambahan warung kopi baru terus berlangsung. Wajar kiranya kita jika menyebut Pontianak sebagai Kota Seribu Warung Kopi. Uniknya, walaupun jumlah warung-warung kopi ini sudah sangat banyak, warung-warung tersebut tidak pernah terlihat sepi pengunjung. Terutama pada akhir pekan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kendaraan yang memenuhi lahan parkir di sekitar warung kopi.

Aming Coffee merupakan salah satu contoh warung kopi yang sukses berkontribusi terhadap perekonomian kota Pontianak. Masih banyak warung kopi yang berlomba-lomba meraih kesuksesan yang sama dengan omset yang tak kalah menarik. Semoga hal ini adalah pertanda baik bagi kemajuan perekonomian kota Pontianak di masa yang akan datang. Dan diharapkan dapat berkembang lebih baik lagi serta dapat menjadi destinasi wisata yang dikenal karena kuliner dan kopi nya yang nikmat.

 

* Penulis adalah pegawai di lingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat

 

 

Tags: bisnis kopikopipariwisataPontianakUMKMwarung
Previous Post

Layanan Pembiayaan Aqiqah dengan Amitra

Next Post

Menanggapi Berita Hoaks

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks