MADANINEWS.ID, JAKARTA – Indonesia harus mempercepat pembangunan ekonomi dan keuangan syariah setelah posisinya dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2026 turun dari tiga besar menjadi peringkat keempat dunia. Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma’ruf Amin meminta penurunan tersebut menjadi momentum untuk mempercepat langkah secara terukur.
Pesan itu disampaikan Kiai Ma’ruf saat menjadi keynote speaker dalam Forum Sinergi Pusat dan Daerah dalam Pengembangan Ekonomi Syariah bertajuk “Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah yang Berkelanjutan melalui Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah”.
Forum tersebut merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Kiai Ma’ruf mengatakan Indonesia sebelumnya mampu menembus tiga besar dalam pemeringkatan ekonomi syariah global. Namun, pada laporan 2026, posisi tersebut bergeser setelah Uni Emirat Arab menunjukkan akselerasi yang lebih cepat.
“Hasilnya mulai terlihat, dalam laporan State of the Global Islamic Economy, peringkat Indonesia terus naik hingga menembus tiga besar dunia. Tapi sayang, katanya sekarang 2026 ini peringkat dunianya turun jadi nomor empat,” ujar Kiai Ma’ruf Amin.
Bukan karena Indonesia Melemah
Menurut Kiai Ma’ruf, turunnya peringkat Indonesia tidak serta-merta menunjukkan kinerja ekonomi syariah nasional mengalami pelemahan. Pergeseran posisi tersebut lebih dipengaruhi oleh kecepatan negara lain dalam mengembangkan ekonomi syariah.
Ia mencontohkan Uni Emirat Arab yang mampu melakukan akselerasi hingga melampaui posisi Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persaingan ekonomi syariah global semakin ketat dan membutuhkan respons yang lebih cepat.
“Ini bukan karena kita lemah, tetapi karena ada negara lain yang melakukan akselerasi. Jadi kalau dulunya itu Indonesia nomor tiganya, nah 2026 ini Emirat melejit ke atas, sehingga rankingnya menjadi Indonesia turun ke nomor empat,” paparnya.
Karena itu, Kiai Ma’ruf meminta penurunan peringkat tersebut tidak menjadi alasan untuk berhenti, melainkan menjadi pemicu untuk meningkatkan tempo pembangunan ekonomi syariah. Target yang harus dikejar juga tidak berhenti pada posisi tiga besar.
“Karena itu sekarang Indonesia lagi sedang bergerak melakukan akselerasi, supaya kembali bahkan bukan saja menjadi nomor tiga, tapi harus menjadi nomor satu saya kira ke depan,” tegasnya.
Pondasi Sudah Ada, Tinggal Dieksekusi
Untuk mencapai target tersebut, Kiai Ma’ruf menekankan pentingnya eksekusi nyata di lapangan. Berbagai fondasi kelembagaan dan kebijakan yang telah dibangun harus dimanfaatkan secara maksimal agar pengembangan ekonomi syariah tidak berhenti pada aspek kelembagaan.
Sejumlah fondasi tersebut antara lain Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), regulasi, serta nomenklatur anggaran dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD).
Menurutnya, seluruh perangkat tersebut perlu dioptimalkan untuk mempercepat pengembangan ekonomi syariah, termasuk melalui sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.
Forum tersebut turut dihadiri Deputi Gubernur Bank Indonesia Solikin M Juhro, Direktur Eksekutif KNEKS KH Sholahuddin Al Ayyub, serta Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) Siti Ma’rifah.
