Madaninews.id
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks
No Result
View All Result
Madaninews.id
No Result
View All Result

Hati Tak Pernah Merasa Cukup? Ini 5 Obat Tamak Menurut Ulama Sufi

Abi Abdul Jabbar Sidik
31 August 2026 | 17:10
rubrik: Amaliyah, Islamika
Hati Tak Pernah Merasa Cukup? Ini 5 Obat Tamak Menurut Ulama Sufi

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi menjelaskan qana'ah atau merasa cukup sebagai salah satu benteng untuk mengobati ketamakan terhadap harta dan kemewahan. (Foto:ist/dok)

Share on FacebookShare on Twitter

MADANINEWS.ID, JAKARTA – Keinginan memiliki harta, kenyamanan, dan kehidupan yang lebih baik pada dasarnya merupakan sesuatu yang manusiawi. Namun, ketika keinginan itu tidak lagi memiliki batas, hati bisa terjebak dalam sifat tamak.

Orang yang tamak akan sulit merasa cukup. Apa yang sudah dimiliki terasa kurang, sementara apa yang berada di tangan orang lain terus menarik perhatian. Jika dibiarkan, orientasi hidup pun bisa hanya berputar pada harta, kemewahan, dan keinginan untuk memiliki lebih banyak.

Dalam tradisi tasawuf, tamak dipandang sebagai penyakit hati yang perlu diobati. Salah satu ulama yang membahasnya adalah Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.

Dalam karya Mukhtashar Minhajul Qashidin Juz 1 halaman 234, Ibnu Qudamah menjelaskan pentingnya qana’ah atau merasa cukup sebagai salah satu benteng dari ketamakan.

Beliau menegaskan:

وٱعلم أن الفقر محمود، ولكن ينبغي للفقير أن يكون قانعاً، منقطع الطمع عن الخلق، غير ملتفت إلى ما في أيديهم، ولا حريص على اكتساب المال كيف كان، ولا يمكنه ذلك إلا بأن يقنع بقدر الضرورة من المطعم والملبس

Artinya: “Ketahuilah bahwasanya kefakiran itu merupakan hal yang terpuji, akan tetapi hendaklah bagi orang yang fakir memiliki rasa Qana’ah (merasa cukup) dan memutus berharap dari makhluk, tidak peduli terhadap harta yang ada pada mereka, dan tidak rakus dalam mencari harta seperti apapun keadaannya, dan hal itu tidak mungkin bisa dicapai kecuali dengan cara Qona’ah dengan ukuran kadar darurat (seadanya) baik makanan maupun pakaian”.

Ibnu Qudamah kemudian menjelaskan sejumlah cara untuk mengobati ketamakan terhadap harta. Dasarnya terletak pada kesabaran, ilmu, serta pengamalan yang dirinci menjadi lima perkara.

1. Belajar Mengendalikan Pengeluaran

Obat pertama adalah tidak berlebihan atau boros dalam membelanjakan harta.

See also  Kemenag-BAZNAS Luncurkan Kampung Zakat di Halmahera Timur

Menurut Ibnu Qudamah, orang yang ingin memiliki sifat qana’ah harus mampu menjaga dan mengendalikan pengeluarannya.

Artinya, seseorang perlu menahan diri dari kebiasaan berlebihan dalam membeli pakaian, makanan, maupun berbagai kebutuhan lainnya.

Pesan ini menunjukkan bahwa qana’ah bukan sekadar sikap batin, tetapi juga berkaitan erat dengan pola hidup sehari-hari.

Sulit merasa cukup apabila keinginan terus dibiarkan tumbuh tanpa kendali.

2. Jangan Panjang Angan-angan soal Kemewahan

Ketika seseorang mendapatkan kemudahan atau penghasilan, Ibnu Qudamah mengingatkan agar nikmat tersebut digunakan dengan baik untuk masa yang akan datang.

Pada saat yang sama, seseorang juga perlu memiliki keyakinan bahwa rezeki merupakan anugerah yang telah ditetapkan Allah kepadanya.

Dengan keyakinan itu, hati tidak mudah tenggelam dalam angan-angan panjang mengenai kekayaan dan kemewahan.

Sebab, ketamakan sering kali tidak bermula dari kebutuhan, melainkan dari keinginan yang terus berkembang.

Sudah memiliki satu hal, muncul keinginan memperoleh yang lain. Ketika satu target tercapai, target berikutnya kembali dikejar tanpa pernah benar-benar merasa cukup.

3. Pahami Mulianya Qana’ah dan Rendahnya Ketamakan

Obat berikutnya adalah memahami kemuliaan sifat qana’ah dan menyadari rendahnya kerakusan.

Menurut Ibnu Qudamah, qana’ah tidak akan dimiliki seseorang apabila ia masih membiarkan dirinya dekat dengan perkara syubhat dan terus memelihara sifat rakus.

Karena itu, mengobati tamak juga membutuhkan pengetahuan.

Seseorang perlu memahami bahwa merasa cukup bukan berarti berhenti berusaha. Qana’ah justru menjadi cara menjaga hati agar usaha mencari rezeki tidak berubah menjadi kerakusan.

Keinginan memperoleh harta tetap perlu dibatasi oleh prinsip dan nilai agama.

4. Belajar dari Orang yang Tamak dan Orang Saleh

Ibnu Qudamah juga menganjurkan seseorang untuk merenungkan kehidupan orang-orang yang direndahkan Allah karena ketamakan.

See also  Laki-laki Pakai Baju Perempuan Saat Lomba Agustusan, Bolehkah? Ini Kata MUI

Pada saat yang sama, ia dapat meneladani orang-orang saleh yang menjalani kehidupan secara sederhana.

Dari perbandingan tersebut, seseorang diharapkan dapat menumbuhkan kesabaran dan qana’ah meskipun hidup dalam keterbatasan.

Sederhana tidak selalu berarti kekurangan. Sebaliknya, memiliki banyak harta juga tidak otomatis membuat hati merasa cukup.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana seseorang memandang apa yang dimilikinya.

5. Jangan Selalu Melihat ke Atas dalam Urusan Dunia

Obat terakhir adalah menyadari bahwa mengumpulkan terlalu banyak harta juga dapat membawa bahaya.

Seseorang juga perlu memahami pahala kesabaran bagi orang-orang fakir.

Kesempurnaan sikap tersebut, menurut Ibnu Qudamah, adalah tidak terus-menerus melihat ke atas dalam urusan dunia dan kemewahan.

Sebaliknya, seseorang perlu lebih memprioritaskan kemaslahatan agamanya.

Ketika kehidupan selalu dibandingkan dengan mereka yang memiliki lebih banyak harta, rasa cukup akan semakin sulit tumbuh.

Namun, ketika perhatian diarahkan pada kebutuhan agama dan kehidupan yang lebih bermakna, keinginan duniawi dapat ditempatkan secara lebih proporsional.

Qana’ah Bukan Berarti Berhenti Berusaha

Lima obat tamak yang dijelaskan Ibnu Qudamah pada akhirnya bermuara pada satu sikap penting, yaitu qana’ah.

Merasa cukup bukan berarti seorang Muslim dilarang bekerja keras, memiliki penghasilan besar, atau memperbaiki taraf hidupnya.

Persoalannya terletak pada hati.

Apakah harta ditempatkan sebagai sarana atau justru menjadi tujuan utama? Apakah nikmat membuat seseorang semakin bersyukur atau justru semakin sulit merasa cukup?

Mengendalikan pengeluaran, tidak berlebihan dalam berangan-angan, memahami kemuliaan qana’ah, belajar dari kehidupan orang saleh, serta tidak terus melihat kemewahan orang lain dapat menjadi jalan untuk menjaga hati dari kerakusan.

Sebab, ketika hati terus mengejar lebih banyak tanpa pernah mengenal kata cukup, sebanyak apa pun harta yang dimiliki belum tentu mampu menghadirkan ketenangan.

See also  Islam Tegas Melarang KDRT !

Wallahu a’lam.

Tags: ibnu qudamahIslamkajian islamnasihat islamPenyakit Hatiqanaahtamaktasawufulama sufi
Previous Post

Sudah Banyak Ibadah, Kok Makin Cinta Dunia? Ini yang Perlu Dievaluasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Madaninews.id - Ekonomi Syariah, Gaya Hidup Islami, Komunitas | All Rights Reserved

  • Home
  • News
  • Ekonomi Syariah
  • Gaya Hidup
  • Khazanah Islam
  • Haji & Umrah
  • Islamika
  • IPEMI
  • Indeks